Classical Love

Classical Love
Aku dan Naira Audzrilla



Naira Audzrilla


Aku berjalan sendirian menuju parkiran. Hari Jumat seperti ini terasa sepi sebab Dela dan Hiery tidak masuk.


Aku memang berteman dengan semua orang yang ku kenal namun sejauh ini aku hanya dekat dengan Dela dan Hiery saja. Seperti sekarang ini ada salah satu teman sekelas yang menyapaku.


Tidak jauh dari tempatku berdiri samar-samar terdengar suara orang yang sedang bicara bersama. Mataku terpaku melihat Neron tengah bicara dengan seorang perempuan.


Saat orang tersebut berbalik baru ku sadar bahwa ia adalah narasuber acara Seminar Bisnis hari Senin nanti.


Aku sangat penasaran kenapa mereka bertemu. Sedetik setelahnya aku tersadar dari pikiran yang bukan urusanku.


“Naira kemari.”


Aku yang sempat kaget dengan ajakan Neron hanya menunjukkan senyum kikuk. Dia tidak sengaja melihat ku ada disana.


“Oh iya ini pengisi acara Seminar Bisnis namanya Clarissa Mahendra.” Aku menyambut uluran tangannya dan menyebut namaku.


“Senang bertemu denganmu.” Aku membalas senyuman ramah tersebut.


“Oh iya, apakah kalian sibuk, jika tidak aku ingin mengajak kalian makan bersama.”


“Makan?” Aku refleks melihat jam tangan.


Hari sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, ku rasa tidak ada salahnya.


“Tentu.”


Neron kelihatan bersemangat.


“Aku juga setuju.”


Sepuluh menit setelahnya kami sampai disebuah restoran seafood. Aku yang tidak tahu jika Neron sangat menyukai seafood hanya tersenyum saja melihat dia makan dengan lahap.


Selama makan kami membicarakan beberapa hal seperti bagaimana kuliah dan acara Senin nanti.


Aku melihat Neron dan nona Clarissa bicara bersama. Mereka tidak kelihatan seperti ketua pelaksana acara dan Narasumber, aku yakin hubungan keduanya pasti lebih dari itu.


“Kakak minta maaf, sepertinya kakak tidak bisa menyelesaikan acara makan ini. Ada urusan kantor yang harus kakak urus. Kalian tidak apa-apa kan melanjutkannya tanpa kakak?”


“Tidak apa-apa Noonim hati-hati dijalan.”


“Noonim pergi dulu sampai nanti.”


Aku melihat kepergian nona Clarissa.


Cara berjalan sangat anggun, itulah pikiranku mengenainya.


Kemudian mataku beralih ke Neron yang kembali melanjutkan aktivitas makan.


“Ehem.., maaf jika aku lancang. Apa..., hubunganmu dengan kak Clarissa selain Ketupel dan Narasumber?” Neron menatapku.


“Noonim pernah bertetangga denganku selama lima tahun. Kami baru bertemu kembali beberapa hari yang lalu.


"Selain itu Noonim juga penanggung jawab acara pameran lukisan yang akan ku ikuti.”


Pameran lukisan.


Ternyata orang seperti Neron bisa melukis. Aku jadi penasaran dengan hasil lukisannya. Hanya saja ucapan dan apa yang ku pikirkan jauh bertolak belakang. Aku hanya mengatakan ‘oh.'


“Apa kamu ingin melihat acara pameran lukisanku?”


Aku terpaku. Neron mengajakku menghadiri acara pameran lukisannya?


“Akan ku usahan.” Aku kembali makan sebelum sadar akan sesuatu.


“Lalu kapan acaranya?”


Dikarenakan sikapku yang cepat berubah-ubah Neron malah tersenyum.


Aku tidak kelihatan aneh kan? Maksud ku tidak terlalu kentara.


“Hari Minggu depan.”


Aku mengangguk pelan kemudian kembali makan. Aku tahu ini benar-benar aneh. Apalagi tanpa ku sadari aku jadi teringat Deri.


Clarissa Mahendra


“Ini Nona.”


“Terima kasih, kau boleh pergi.”


Orang yang memberikan amplop tadi pergi dari hadapanku. Aku tersenyum lebar melihat amplop yang masih terbungkus rapi.


Hyerin Delaxa


Aku memikirkan apa yang harus ku lakukan terhadap manusia es. Biasanya dia akan terbuka dan langsung bertanya jika ada hal sekecil apapun. Namun sampai sekarang dia masih bersikap seperti biasa saja.


Apa dia menungguku memulai pembicaraan mengenai Hiery? Sikap manusia es sungguh membuatku bingung.


“Dasar punya kepribadian ganda.”


Aku melihat jam. Saat-saat seperti ini jelas aku tidak bisa menghubungi orang itu. Aku tidak ingin menjadi penganggu.


Fokusku teralihkan ke pintu kamar. Disana Mama menatapku intens dan tidak lupa senyuman penuh arti.


“Menyebalkan.”


Aku menggerutu sepanjang jalan menuju ke sebuah tempat yang tidak pernah mungkin ku kunjungi.


Aku yang terbiasa menggunakan sepeda mau tidak mau harus menyetir mobil. Untung saja aku bisa mengendari kendaraan ini dan sudah memiliki SIM.


Gedung pencakar langit disampingku membuat mataku tak kerkedip.


Wow!


Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang menjadi CEO disini. Pasti akan merepotkan.


“Semoga saja aku tidak diusir. Astaga, bukankah ingin bertemu dengan orang seperti mereka harus membuat janji?”


Aku menaiki lift menuju ke lantai 23.


Aku kembali menggerutu, bedanya kali ini hanya dalam hati.


“Memangnya disini tidak ada tempat makan?”


Aku melihat diri sendiri yang sudah terlihat seperti pengantar makanan.


Untungnya aku tidak memakai pakaian kemeja. Jika tidak lengkap sudah, seorang pengantar makanan untuk calon suami.


“Permisi, dimana ruangan CEO atas nama Deri Cloriea?” Tanyaku sopan.


“Maaf dengan siapa?”


“Hyerin Delaxa.”


“Apa Anda sudah membuat janji?”


Inilah pertanyaan yang sangat ku hindari. Lalu aku harus menjawab apa?


“Belum.” Kataku tersenyum kikuk.


“Maaf Nona kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk. Apa Anda ingin menitipkan pesan, no telepon? Nanti kami akan menyampaikannya pada Presdir. Silahkan menunggu disana.” Sebuah ide terlintas dipikiranku.


“Tidak perlu. Saya hanya ingin menitipkan makanan ini ke pak Presdir. Tolong katakan kalau ini dari Hyerin Delaxa.”


Resepsionis itu menatapku bingung. Sepertinya belum ada orang yang datang kesini dengan memberikan makanan segala. Aku tersenyum setengah dipaksakan melihat tatapan tersebut.


“Apa hubungan Nona dengan pak CEO?”


Nona resepsionis ini sangat cerewet.


Apa dia takut aku meracuni Presdir mereka?


Apa yang harus ku katakan?


“Saya keluarga jauhnya.” Aku berusaha tersenyum ramah.


“Dia calon istriku.”


Deg. Suara itu.


Harusnya aku cepat menyelesaikan ini dan segera pergi.


Dan disinilah aku, setelah tersenyum kikuk bercampur kesal.


“Maaf menganggumu. Aku hanya ingin mengantarkan makan siang. Kamu tahu, Mama sangat bersemangat.


“Keperluanku sudah selesai jadi aku harus pergi.”


Secepat mungkin ku langkahkan kaki meninggalkan tempat menyeramkan ini. Sejak aku masuk ke ruangan manusia es wajahnya bahkan lebih menyeramkan dari hantu kuntilanak yang pernah ku tonton.


Aura tubuhnya juga menjadi lebih dingin mengalahkan udara dikutub utara sampai ruangan ini berubah menjadi gelap gulita.


Oke aku memang berlebihan.


Manusia es kelihatan marah dan kesal.


Sret.


Aku hampir saja menyerang manusia es menggunakan siku jika saja ia tidak menahanku.


Sekarang dia memelukku sangat erat dibelakang sana. Hangat.


“Lepaskan.” Kataku dingin.


Namun manusia es sama sekali tak bereaksi.


“Maes ini dikantor. Lepaskan atau kamu tahu akibatnya.”


“Kenapa kamu mengaku sebagai keluarga jauhku?” Tanyanya tak kalah dingin.


“Aku geli dengan posisi ini, mari bicara dengan benar.” Perlahan dia melepaskanku.


Tak ingin kehilangan kesempatan aku langsung pergi angkat kaki dari tempat tersebut. Tidak lupa ku ambil tas tempat menyimpan kunci mobil.


Persiapan kabur harus direncanakan dengan sebaik mungkin.


Aku mendengus kesal disusul suara tawa yang semakin membuat darahku naik.


“Tenang.”


Aku kembali mendekati manusia es yang masih tertawa.


Gerakanku cukup tenang untuk ukuran orang yang baru saja gagal melarikan diri.


Bisa-bisanya aku terjebak pada sesuatu yang disebut kunci pintu!?


“Berhenti tertawa dan buka pintunya.”


“Aku tidak menyangka kalau kau seceroboh itu.” Dia masih saja tertawa.


“Stop it.”


Aku menyeringai melihatnya terdiam.


“Temani aku makan siang.”


“Aku harus pulang, tugas kuliah dan belajar kursus kesehatan sedang menanti.”


“Aku tidak terima penolakan.” Aku menarik napas panjang.


Baiklah tidak ada salahnya melakukan hal itu. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku sudah membuatnya kesal.


“Apa kau juga bersikap seperti ini waktu berpacaran dengan Dzrilla?”


Aku mengajukan pertanyaan setelah kami baru saja menyelesaikan acara makan siang. Tatapannya kembali tanpa ekspresi begitu juga denganku.


☼☼☼☼☼