
Erica dan yang lainnya sekarang tengah berada di ruang tamu. Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Oh iya... Kita belum kenalan." Ucap Clara dan melihat ke empat lelaki dan satu wanita yang tengah duduk di sofa.
"Kenalin... Gue Clara." Sambung nya. Clara mengulurkan tangan nya sambil tersenyum ke perempuan yang duduk di sofa single dan di jabat oleh perempuan itu.
"Chika.." Ucap nya dengan tersenyum ramah. Clara melepaskan jabatan nya dan beralih ke empat lelaki.
"Dion.." Ujar salah satu lelaki.
Satu persatu mereka memperkenalkan diri mereka.
"Edwin."
"Richo."
"Jack."
Clara dan Velyn tersenyum, mereka juga ikut memperkenalkan diri mereka.
"Clara."
"Velyn."
Di saat semuanya memperkenalkan diri untuk saling mengenal, berbeda dengan perempuan yang satu ini. Erica sama sekali tidak mendengar kan pembicaraan ke tujuh manusia yang ada di dekat nya. Dia hanya menatap kosong bunga yang terletak di atas meja ruang tamu itu.
Chika, Dion, Jack, Edwin dan juga Richo melihat Erica yang diam. Clara dan Velyn ikut melihat Erica.
Velyn memanggil Erica yang duduk tepat di samping nya.
"Erica." Panggil Velyn.
Erica sama sekali tidak menyahut atau pun mendengarkan Velyn. Velyn, Clara dan yang lainnya menatap satu sama lain kemudian beralih menatap Erica kembali.
"Erica...!!" Kali ini Velyn sedikit meninggikan suaranya.
"Hah..? Apa?" Erica kaget dan langsung menoleh ke samping.
"Lo kenapa sih...? Semenjak lo terima telpon tadi, lo jadi pendiam gini. Kalo Lo ada masalah, lo bisa cerita ke kita. Jangan pernah anggap kita ini orang asing..." Velyn berucap dengan nada yang sedikit kesal.
Erica diam sejenak.
"Sebenarnya...."
Velyn, Clara dan yang lain-nya mulai mendengar kan cerita Velyn.
"Tadi gue hab--." Belum sempat Erica menyelesaikan ucapannya, suara keributan terdengar dari luar dan mampu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apaan tuh..?" Ucap Dion.
Dion langsung bergegas dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu rumah itu dan berjalan keluar. Jack, Richo dan yang lainnya mengikuti langkah Dion.
"Kenapa?" Tanya Richo.
Sampai di depan pintu pagar, mereka melihat kerusuhan yang tambah parah. Dimana semua orang berlari ketakutan. Posisi Erica dan yang lainnya nampak jelas dari luar.
Sebagian Zombie melihat keberadaan Erica dan yang lainnya. Para Zombie itu berlari menghampiri ke delapan manusia itu. Mereka menabrak pagar yang memisahkan mereka dengan Erica. Erica dan yang lainnya kaget dan mundur ketakutan begitu melihat para Zombie yang berusaha menghampiri mereka.
"Oh, God..." Ucap Clara dan menutup mulutnya.
Mereka melihat Zombie yang mulai bertambah banyak, berusaha menerobos pagar rumah itu.
"Kita masuk..!" Seru Erica.
Erica dan yang lainnya kembali masuk ke rumah itu dan menutup pintu rumah itu. Para Zombie yang sudah tidak melihat keberadaan Erica dan yang lain tiba-tiba berhenti untuk membuka pagar itu.
Di dalam rumah, ke tujuh manusia itu frustasi akan keselamatan mereka. Sementara Erica hanya diam dan duduk di sofa. Dia menyandarkan punggung nya ke sandaran sofa dan memejamkan mata nya. Erica juga sebenarnya takut dan frustasi, tapi dia mencoba untuk menenangkan fikirannya.
"Tempat ini udah nggak aman. Kita harus pergi..!" Perintah Dion.
"Kemana....?" Jawab Richo yang sedari tadi mondar-mandir.
"Kita cari tempat yang lebih aman." Ajak Dion.
"Nggak perlu.." Sahut Erica.
Semua mata tertuju pada Erica.
"Mereka nggak akan bisa membuka gerbang itu." Ujar Erica dengan mata yang masih tertutup.
"Darimana lo tahu..?" Jawab Dion dan melihat Erica dengan sorotan mata tajam.
"Cih..." Erica tersenyum remeh. Dia membuka matanya dan menatap Dion.
"Lo ternyata bodoh yah..." Tutur Erica yang berhasil membuat Dion kesal.
"Lo coba fikir. Kalo mereka bisa membuka gerbang itu, mungkin sekarang kita udah nggak akan selamat lagi..." Jawab Erica.
"Iya juga sih.. Kalo mereka tahu cara buka tuh gerbang, udah dari tadi mereka nyerang kita." Sahut Edwin.
"Dan satu lagi. Mereka udah nggak punya akal ataupun fikiran." Sambung Erica.
Semua orang terdiam..
"Terus... Kita harus lakuin apa sekarang?" Kata Chika.
"Dua pilihan. Kita istirahat disini sampai pagi atau kita pergi, tapi tunggu sampai malam dulu."
"Kenapa harus malam..?" Tanya Clara.
"Karena kalo malam mereka nggak akan bisa melihat karena gelap gulita." Jawab Erica. Clara mengangguk tanda mengerti.
"Tapi saran gue, kita pergi malam ini. Lebih cepat lebih baik, untuk sekarang kita istirahat dulu." Jelas nya.
"Iya. Gue juga capek, pengen istirahat." Ucap Richo.
Erica kembali menyandarkan tubuh nya dan memejamkan mata nya.
"Gue ke atas dulu." Ujar Richo.
"Gue ikut." Sahut Edwin.
"Gue juga." Sambung Jack.
Ketiga lelaki itu pergi meninggalkan Dion sendiri disana bersama Erica, Velyn, Clara dan juga Chika. Dion terdiam sejak Erica berbicara tadi, entah apa yang dia fikirkan sekarang.
'Kruk... Kruyuk...'
Suara perut Clara terdengar yang menyebabkan Erica, Velyn, Chika dan juga Dion memandang nya secara bersamaan.
"Hehehe...." Clara tertawa cengengesan melihat mereka menatap nya.
"Gue lapar..."
"Dari tadi pagi gue belum makan." Ucap Clara dengan tersenyum malu. Velyn dan Chika hanya menggeleng melihat kelakuan Clara.
"Kita lihat ke dapur dulu. Mana tahu ada bahan makanan yang bisa kita masak, sekalian buat makan malam kita." Ujar Chika.
Erica, Velyn, dan Clara mengiyakan perkataan Chika. Mereka bergegas ke dapur meninggal kan Dion sendiri di ruang tamu.
Dion melihat kepergian Erica dan yang lainnya.
"Cih... Menyebalkan." Ucap Dion. Dion berdiri lalu berjalan ke lantai atas menyusul ketiga lelaki yang beberapa menit lalu meninggalkan nya.
***
Di dapur....
Velyn membuka kulkas dan menemukan beberapa butir telur, daging, dan juga sayuran. Perempuan itu mengambil telur dan juga sayuran dan meletakkannya di atas meja makan.
"Kita masak apa?" Tanya Clara.
"Yang simple aja.." Jawab Erica.
"Kita masak nasi goreng aja gimana?" Sahut Velyn.
"Hem... Boleh." Ujar Chika.
Ketiga wanita itu mulai berkutat dengan alat-alat masak. Mereka memilih memasak nasi goreng supaya lebih mudah dan cepat.
***
Di sisi para lelaki...
Dion masuk ke salah satu kamar yang menurut nya terdapat Richo, Edwin dan juga Jack. Lelaki itu membuka pintu kamar itu dan masuk. Dan benar saja, di kamar itu terdapat tiga insan yang sedang beristirahat. Richo dan Edwin yang sedang tidur di kasur, sedang kan Jack duduk dan memandangi para Zombie itu dari atas.
Dion berjalan menghampiri Jack. Jack yang mengetahui kedatangan Dion berbalik dan menatap Dion.
"Huft...." Dion duduk di sofa berdekatan dengan Jack.
"Napa lo...?" Tanya Jack. Dion menatap Jack sekilas.
"Nggak... Gue nggak papa." Ucap Dion dengan ketus.
"Hahah..." Jack tertawa dan berdiri dari duduknya, dia berjalan menghampiri Dion. Jack duduk tepat di samping Dion.
"Sensi amat... PMS Lo yah...?" Ejek Jack pada Dion. Dion menoleh menatap Jack dengan tajam. Jack yang mendapat tatapan tajam dari Dion mengangkat kedua tangan nya.
"Ampun Bang. Gue cuma bercanda." Ucap Jack.
•••
Bersambung.