
Mereka semua menatap Dion yang diam mendengar pertanyaan Richo. Tiba-tiba saja Dion menangis yang membuat Richo dan yang lain bingung menatap pria itu.
"Edwin.. Hiks.. Edwin udah menjadi bagian dari mereka." Jawab Dion. Entah Dion benar-benar bersedih karena kehilangan Edwin atau itu hanya air mata buayanya untuk menutupi kesalahannya. Richo dan juga yang lain bingung mendengar jawaban Dion.
"Maksud Lo?" Tanya Richo. Dion menatap Richo sambil menangis.
"Hiks... Edwin.. Edwin dimakan para Zombie itu." Jawab Dion.
"Apa..?" Ucap Richo kaget. Mereka semua kaget mendengar jawaban Dion.
"L-lo.. Lo jangan becanda, Ion?" Tanya Richo tak percaya.
"Hiks.. Gue serius..!" Jawab Dion.
"Nggak!" Richo mengenggeleng-gelengkan kepalanya. "Edwin.." Lirih Richo. Richo menatap Dion yang menunduk dan menangis. Dia berjalan mendekati pria itu.
"Bugh..." Satu pukulan dari Richo melayang di pipi Dion. Dion kaget dan terjatuh mendapat pukulan Richo. Erica dan yang lain kaget melihat Richo yang memukul Dion.
"Lo pasti ninggalin Edwin kan...!" Ucap Richo dengan marah. Richo memegang kerah baju Dion dan kembali memukul pria itu. Dion yang merasa sangat lelah hanya bisa mengelak dan menghalangi tangan Richo yang terus memukulinya.
"Richo..!" Teriak Jack. Richo sama sekali tidak menghiraukan ucapan jack, dia tetap memukuli pria itu.
"I-itu. Tolongin..!" Ucap Clara dengan panik. Bram, Gary dan Jack berjalan mendekati kedua lelaki itu. Bram dan Gary memegang Richo dan sedikit menjauhkannya dari Dion, sedangkan Jack membantu Dion yang sudah babak belur akibat ulah Richo.
"Lo apa-apaan sih, Richo..!" Ucap Jack kesal.
"Kalo memang Edwin udah dimakan para Zombie itu, kita harus ikhlas. Dion juga mungkin nggak mau Edwin kayak gitu." Jelas Jack.
"Nggak...!" Richo menggeleng. "Dia pasti ninggalin Edwin." Ucap Richo menunjuk Dion.
"Lo tahu darimana?" Tanya Jack kesal pada Richo.
"Gue udah tahu Dion gimana! Dia egois...!" Jawab Richo menatap marah Dion.
"Gue... Gue nggak bohong..." Ucap Dion membela dirinya. "Gue juga nggak mau Edwin di makan para Zombie itu." Sambungnya.
"Nggak usah ngeles Lo..!" Ucap Richo dan ingin berjalan menghampiri Dion. Bram dan Gary langsung menahan Richo yang ingin menghampiri Dion. Chika yang sedari tadi menatap Richo berjalan dan menghampiri pria itu.
"Udah, Richo. Kita harus ikhlasin Edwin. Bukan Lo doang yang nggak mau kehilangan Edwin. Tapi kita juga." Ucap Chika.
Richo tiba-tiba menangis melihat Chika. "Hikss.. Hiks... Edwin Chik... Edwin Hiks..." Chika yang melihat Richo menangis memeluk tubuh pria itu. Dia tahu, hubungan antara Edwin dan Richo bukan hanya sebatas teman, melainkan sahabat. Apapun mereka selalu lalui bersama, dan Chika sudah tahu itu.
"Udah.. Lo jangan sedih lagi." Ucap Chika dan mengelus punggung Richo. Chika melepaskan pelukannya dan melihat Richo yang menangis.
"Lo jangan nangis lagi. Kita semua masih ada. Kita harus bisa ikhlasin Edwin." Ucap Chika.
"Hiks... Makasih, Chik." Balas Richo dan tersenyum menatap Chika. Jack yang melihat Richo merasa iba, walaupun dia tidak terlalu akrab dengan Edwin, tapi dia juga ikut merasakan seperti apa yang dirasakan Richo. Dion yang menatap Richo sama sekali tidak menunjukkan rasa prihatin ataupun menyesal, dia malah menatap Richo dengan penuh rasa kebencian dan juga dendam.
Setelah suasananya kembali tenang, barulah mereka semua duduk dan beristirahat. Jack mengobati pipi Dion yang memar akibat pukulan Richo tadi, sedangkan Dion hanya bisa meringis kesakitan. Jujur, Dion merasakan sakit yang bukan main, Richo benar-benar memukulinya tanpa menaruh rasa kasian sedikit pun.
"Sialan Lo, Richo." Batin Dion dan menatap benci Richo. Jack sama sekali tidak menyadari Dion yang terus menatap Richo. Dion dan Jack duduk berjarak dengan Bram, Gary, dan Richo, sedangkan Erica, Jeje, Velyn, Chika dan Clara duduk tidak jauh dari tempat Bram.
"Mungkin." Jawab Chika singkat. Clara melihat Dion yang menatap Richo dengan tatapan tajam. Dia sedikit ngeri dan takut dengan tatapan lelaki itu.
"Eh.. Eh.. Liat deh.." Ucap Clara sambil terus menatap Dion. Erica, Velyn dan Chika ikut menatap Dion, mereka melihat lelaki itu yang terus menatap Richo dengan tatapan tajam.
"Itu si Dion ngapain liatin Richo gitu?" Bingung Clara. Ke empat wanita itu masih memandangi Dion, merasa ada yang memerhatikan, Dion menoleh menatap Erica, Chika, Velyn, dan Clara. Keempat wanita itu kaget dan langsung mengalihkan pandangan mereka.
"Masih sakit nggak?" Ucap Jack.
"Ya masih, lah. Orang dia mukulnya nggak main-main." Jawab Dion sedikit kesal. Jack dengan sengaja menekan pipi Dion yang memar, hal itu membuat Dion kaget dan meringis kesakitan.
"Lo apa-apaan sih?" Ucap Dion kesal. Dion melihat wajah Jack yang tanpa merasa bersalah.
"Yah, maaf." Jawab Jack santai. Dion kembali memegang pipinya yang di tekan oleh Jack.
"Ion..!" Panggil Jack.
"Hm?" Jawab Dion tanpa menoleh menatap Jack.
"Lo benaran nggak ninggalin Edwin, kan?" Tanya Jack curiga pada Dion. Mendengar itu, Dion langsung menoleh menatap Jack.
"Y-yah. Ng-nggak lah, mana mungkin gue ninggalin Edwin." Jawab Dion gelagapan dan mengalihkan pandangannya.
"Hm.." Jack mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di posisi Erica, Chika, Velyn dan Clara. Mereka duduk berdekatan, Clara yang terus memandangi sekelilingnya, Erica yang mengelus rambut Jeje yang tidur di pahanya, Chika yang memejamkan matanya dan Velyn yang melamun sambil menatapi jalanan.
"Satu diantara kita udah pergi." Ucap Velyn. Ketiga wanita itu menatap Velyn yang duduk sambil melamun.
"Gue takut. Salah satu diantara kita nantinya juga pergi kayak Edwin." Lanjut Velyn dengan sedih. Chika dan Clara terdiam dan menghayati perkataan Velyn, mereka juga takut hal itu terjadi pada mereka. Erica melihat ketiga wanita itu diam dengan raut wajah sedih. Dia tahu apa yang ada di fikaran mereka sekarang.
"Selagi kita masih terus bersama, nggak akan ada diantara kita yang akan pergi." Ucap Erica. Velyn, Chika dan Clara menatap Erica, perempuan itu melemparkan senyumannya.
"Berjanji untuk terus bersama." Lanjut Erica menyemangati ketiga wanita itu. Chika, Velyn dan Clara sedikit tenang, mereka mendekati Erica dan memeluk tubuh wanita itu. Erica kaget, dia sedikit risih, tapi dia tidak enak jika melepas pelukan ketiga wanita itu.
Gary yang melihat keempat wanita itu menggeleng dan berdecak. "Jadi pengen ikut gue." Ucap nya. Bram dan Richo yang mendengar itu melihat Gary yang berada di tengah-tengah mereka.
"Pengen apa?" Tanya Bram.
"Tuh.." Tunjuk Gary dengan dagunya. kedua lelaki itu melihat yang di tunjuk Gary, mereka melihat Erica, Velyn, Clara dan Chika yang berpelukan.
"Pengen ikut peluk." Ucap Gary sambil tersenyum. Bram langsung menoyor kepala Gary.
"Gue bunuh Lo duluan." Sahut Bram. Gary yang mengelus kepalanya kesal menatap Bram, sedangkan Richo hanya terkekeh melihat itu.
•••
Bersambung.