
Ketiga wanita itu berdiri, Clara dan Velyn mengobrol sedangkan Erica hanya menatap dan mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu.
"Lo kok bisa ada disini?" Tanya Velyn dan melihat Clara.
Mendengar pertanyaan Velyn, Clara teringat akan keluarganya. Air mata jatuh dari mata perempuan itu dan membasahi pipi nya. Velyn kaget melihat Clara menangis begitu juga dengan Erica yang sedari tadi menatap diam mereka. Apa pertanyaan Velyn salah sehingga membuat Clara menangis?
"Lho? Lo kok nangis?" Ucap Velyn dengan khawatir.
Clara nunduk dengan air mata yang masih mengalir, Velyn memegeng kedua pipi Clara dan mengangkat kepala wanita itu supaya menatap nya.
"Kenapa....?" Ucap Velyn dan menatap mata Clara.
"Hiks.... hiks...., Mamah Vel... Mamah... hiks.... hiks..." Ucap Clara dengan suara yang sedikit serak.
"Mamah..?" Ujar Velyn sambil mengerutkan keningnya. "Maksud lo tante Metha?" Tanya nya dan di balas anggukan oleh Clara.
Metha Lauren adalah Mamah nya Clara, kenapa Clara hanya menyebut Mamah nya, Papah nya?
Papah Clara yaitu Harry Yandi. Papahnya Clara dulu merupakan pebisnis terkenal, tapi suatu musibah menimpanya yang menyebabkan dia meninggal dunia. Papah nya Clara Harry mengalami kecelakaan sewaktu diperjalanan pulang dari luar kota, dan sekarang tinggal lah Clara, Mamah-nya dan juga Adik perempuan nya. Adik?, Adik Clara yaitu Citra Kirana, berumur 14 tahun dan sekolah di Asrama khusus Putri, Clara juga tidak tau bagaimana keadaan Adik nya disana.
Velyn melihat sahabatnya Clara yang masih tetap menangis, dia memeluk tubuh Clara dan mengelus punggung wanita itu mencoba untuk menenangkan nya.
"Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi Vel...., hiks... hiks...." Ucap Clara dan menangis di pelukan Velyn.
"Hust.. Lo nggak boleh ngomong gitu, gue masih ada." Ucap Velyn sambil mengelus punggung Clara.
Mendengar kata Mamah, Erica teringat dengan Mamahnya Manda, hampir saja dia melupakan janjinya sebelum pergi ke mall. Erica mengambil handphone nya yang berada di dalam saku celana nya, dia menghidupkan ponsel nya dan berniat untuk menghubungi Mamah-nya.
Betapa terkejutnya Erica ketika menatap layar ponsel nya, disitu tertera begitu banyak panggilan masuk dari sang Mamah. Entah kapan panggilan itu masuk sampai-sampai Erica tidak menyadari nya. Erica pun mencari kontak Mamah nya dan berniat untuk menghubungi Mamah-nya balik.
Erica mencoba menghubungi Mamah-nya beberapa kali, tapi sayang satu pun panggilan yang masuk tidak ada respon dari Manda.
Erica mencoba berfikir positif, mungkin saja Mamah-nya lagi sibuk makanya tidak sempat mengangkat telepon darinya. Kenapa Erica tidak pulang ke rumah?, itu mungkin mustahil, karena jarak antara rumah nya dengan Perumahan Kota tidaklah dekat, butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke rumahnya, apalagi sekarang Erica tidak mempunyai kendaraan.
Erica menyimpan handphone nya kembali ke dalam saku celana nya, sebelumnya dia sudah mengirim pesan kepada Mamah-nya Manda.
Clara masih berada di pelukan Velyn, merasa lebih baik dia pun menguraikan pelukannya dan menatap Velyn. Velyn menatap balik Clara sambil tersenyum, dia menghapus air mata yang membasahi pipi Clara.
"Lo jangan sedih lagi, kita ada buat lo. Gue, lo, dan Erica, sekarang kita adalah satu keluarga." Ucap Velyn dan menyemangati Clara. Clara tersenyum mendengar perkataan Velyn.
Erica hanya menatap mereka berdua, dia masih kepikiran bagaimana keadaan Mamah-nya sekarang.
"Sekarang kita pergi yah.." Ucap Velyn dan di balas anggukan oleh Clara. Velyn berbalik dan menatap Erica, Erica mengangguk menatap Velyn.
Ketiga wanita itu pun memulai perjalanan mereka, suasana kali ini berbeda karena kehadiran Clara. Clara memang dikenal sebagai orang yang humoris dan periang, perjalanan mereka kali ini dibarengi dengan canda dan tawa. Tapi berbeda dengan Erica, dia hanya diam dan kadang tersenyum menanggapi kedua wanita yang berada di samping nya, karena Erica masih bergelut dengan fikiran nya.
Cukup jauh mereka berjalan, tapi mereka masih berada di lokasi Perumahan itu.
Velyn menatap Erica yang diam dan melihat ke bawah.
"Erica!" Panggil Velyn. Erica pun mendongak dan menatap Velyn.
"Lo kenapa? Lo nggak papa kan?" Tanya Velyn.
Erica hanya menggeleng menjawab pertanyaan Velyn lalu menatap lurus ke depan. Velyn yang mengetahui keadaan Erica sekarang memilih diam dan tidak banyak bertanya. Di samping itu, Clara yang mendengar kan mereka dan memperhatikan mereka hanya menatap bingung kedua wanita yang berada di samping kanan dan kirinya
***
Satu jam sudah berlalu, akhirnya ketiga wanita itu keluar juga dari lokasi Perumahan itu.
"Hah.... Akhirnya setelah sekian abad kita keluar juga dari tempat membingungkan ini." Ucap Clara dan mendudukkan bokong nya di atas lantai lalu menyandarkan punggung nya di sebuah dinding bangunan. Velyn ikut duduk di samping Clara. Berbeda dengan Erica, dia hanya diam dan tetap berdiri seakan-akan tenaga nya tidak berkurang meskipun sudah melewati perjalanan yang cukup jauh.
Velyn melihat Erica yang tetap berdiri, dia sebenarnya bingung apa yang di fikirkan Erica sekarang.
"Erica!" Panggil Velyn. Erica menoleh dan menatap Velyn.
"Lo nggak mau duduk?" Tanya Velyn.
"Nggak..!" Jawab Erica singkat.
"Emang lo nggak capek?" Tanya Velyn kembali.
Erica hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Velyn, dia menatap lurus ke depan lalu melihat sekitarnya. Velyn hanya menghela nafas melihat tingkah Erica.
Di sisi Clara, dia tidak mendengar dan tidak mengetahui pembicaraan kedua wanita itu, karena dia merasa lelah akibat perjalanan jauh mereka dan akhirnya tertidur.
Erica kembali mengambil ponsel nya di dalam saku celana nya, dia menghidupkan handphone nya dan berharap ada balasan dari sang Mamah.
Ketika Erica memeriksa ponsel nya tidak ada satu pun panggilan atau pesan yang masuk dari Mamah nya. Erica menekan tombol panggilan dan berniat untuk menghubungi Mamah nya kembali, dia menempelkan layar ponsel nya ke daun telinga nya.
Satu kali, dua kali tapi tetap tidak ada respon dari Mamah nya, Erica mencoba dan terus mencoba untuk menghubungi Mamah-nya tapi lagi-lagi tidak ada satu pun panggilan yang di jawab oleh Mamah nya Manda.
Erica menatap layar ponsel nya. "Oh iya, Papah..." Gumam Erica.
Erica mencari kontak Papah nya lalu menekan tombol panggilan. Baru satu kali Erica menghubungi Papah nya.
"Kok handphone Papah nggak aktif?" Gumam Erica.
Erica mencoba beberapa kali, tapi tetap tidak ada jawaban dari Papah nya David. Erica berdecak kesal dan menyimpan kembali handphone nya ke dalam saku celana nya. Dia berjalan ke arah Velyn dan Clara lalu duduk di samping Clara. Erica menatap lurus ke depan, tatapan nya kosong, fikirannya mulai negatif tentang Mamah nya.
•••
Bersambung....