City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Kebenaran yang Terungkap



Dion menyerang Richo secara tiba-tiba, Richo kaget dan spontan menahan tubuh Dion. Jack yang melihat itu kaget dan shock.


"Woargh...! Woargh...!" Richo dengan sekuat tenaga menahan Dion. Dia memegang kedua bahu lelaki itu yang berusaha memberontak darinya.


"Ck." Melihat Dion yang terus melawan, Richo mendorong kasar tubuh Dion sehingga membuat lelaki itu terjatuh ke belakang.


"Ayo pergi!" Ucap Richo menarik Jack, Richo dan Jack pun berlari meninggalkan tempat itu.


"Woargh..!" Dion kembali berdiri dan berlari mengejar kedua lelaki itu.


Jack dan Richo berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan tempat itu, Richo melirik sekilas ke belakang, dia melihat Dion yang mengejar mereka.


"Argh... Dia mengejar!" Ucap Richo.


Mungkin Tuhan tidak berpihak kepada mereka berdua, Jack melihat ke depan, hanya ada jalan buntu di sana. Jack dan Richo tetap berlari melihat Dion yang terus mengejar mereka.


"Hah...!" Jack menghembuskan nafasnya kasar dan berhenti, Richo ikut berhenti. Tidak ada lagi jalan untuk mereka berlari dari sana. Richo berbalik, dia melihat Dion yang berlari mulai mendekati mereka.


"Bedebah!" Richo berjalan ke depan dan langsung menahan tubuh Dion.


"Woargh! Woargh..!" Dion dengan tenaganya bersikeras untuk memakan Richo. Dia memberontak sekuat tenaga dari Richo yang terus memegang dan menghalanginya. Jack berjalan ke belakang Dion, dia memegang wajah Dion dan menahan lelaki itu dari belakang.


Mendapati tangan Jack yang berada di wajahnya, satu tangan Dion memegang tangan Jack, dia mengarahkan tangan Jack ke mulutnya dan langsung menggigit tangan pria itu.


"Akkhhh...!" Teriak Jack kesakitan.


"Jack!" Ucap Richo kaget. Jack berusaha melepas tangannya, Dion masih menggigit dan belum melepas tangan pria itu.


"Akh...!" Jack memukul-mukul kepala Dion dengan satu tangannya.


'Bugh!' Richo langsung memukul kepala Dion, gigitan terlepas, Dion sedikit oleng ke samping. Jack meringis, dia mengibas-ngibaskan tangannya yang digigit oleh Dion. Jack terduduk, dia melihat tangannya yang berbekas gigitan Dion.


"Hah... Hah..." Keringat bercucuran, nafas Jack tidak beraturan.


"Jack!" Ucap Richo yang melihat Jack, Richo ingin berjalan menghampiri Jack, melihat Richo yang lengah, Dion langsung menyerang pria itu dan menggigit leher-nya.


"Akhhh!" Teriak Richo menjambak rambut Dion.


Jack kejang-kejang, matanya berubah, dia sudah tidak seperti manusia pada umumnya lagi. Melihat Dion yang memakan Richo, Jack langsung berlari dan ikut memakan lelaki itu.


Tujuan Dion berhasil, dia yang menghabiskan kedua lelaki itu dengan tangannya sendiri.


***


"Sayang, kau tidak apa-apa? Jangan takut, oke." Erica jongkok di depan Jeje, dia mengelus kepala dan pipi anak itu.


"Kau tidak akan pernah sendiri. Kakak akan selalu menjaga Jeje." Ucap Erica dengan senyum tulusnya.


Jeje melihat mata Erica, dia menatap Erica dengan tatapan seriusnya. "Berjanjilah untuk selalu bersama ku." Ucapnya serius melihat perempuan itu. Erica tersenyum, dia mengangguk tanpa ragu. "Yah. Kakak akan selalu bersama Jeje."


Erica kembali berdiri, dia melihat Bram yang sudah berada di depan pintu toko itu.


"Kita pergi sekarang?" Tanya Bram melihat Erica.


"Hem." Ucap Erica mengangguk. Bram perlahan-lahan membuka pintu itu, dia mengeluarkan kepalanya sedikit, mengawasi jalanan dan sekitaran mereka. Setelah memastikan sekeliling mereka aman, barulah Bram keluar dan membuka pintu toko itu lebih lebar. Erica memegang tangan Jeje dan berjalan menuju pintu, mereka berdua pun keluar dari toko itu. Bram sekali lagi mengawasi tempat mereka, memastikan tidak ada lagi Zombie yang tertinggal di sana.


"Kita harus cepat-cepat pergi dari sini!" Erica mengangguk melihat Bram. Mereka bertiga pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu.


***


Di sebuah lorong gang kecil, Gary berjalan seorang diri, dia berniat untuk kembali ke jalan sebelum mereka semua terpisah. Gary kembali ke jalan itu untuk mencoba mencari keberadaan Bram, dia yakin, Bram dan Erica tidak jauh dari tempat itu. Dia berjalan menggunakan tangan kosong, tidak ada yang dia andalkan sekarang, jika saja para Zombie menemukannya, dia hanya bisa menghindar dan berlari. Itulah usaha mereka sekarang.


Skip


Gary sudah sampai di tempat yang dia maksud, jalanan itu tampak sepi, dia melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Gary membungkuk, kedua tangannya menumpu pada lututnya, dia diam sebentar, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Gary kembali menatap tempat itu, dia masih ingat, waktu itu Bram dan Erica berlari ke depan. Entah kenapa, feeling Gary mengatakan bahwa Erica dan Bram masih hidup.


"Huft... Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi Bram." Tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama, Gary memutuskan untuk kembali berjalan, mencari Bram dan Erica.


***


"Tempat ini sepi." Ucap Bram melihat sekeliling.


Jeje menarik tangan Erica yang berjalan, Erica berhenti dan melihat Jeje.


"Kenapa, Sayang?" Ucap Erica melihat Jeje yang menatapnya.


"Capek." Keluh Jeje.


"Oh." Erica melihat sekeliling, sepertinya tempat itu aman untuk mereka beristirahat sebentar.


"Duduk sini, sayang." Pinta Erica dan menuntun Jeje berjalan sedikit ke pinggir.


Erica melihat Bram yang masih terus berjalan. "Kak!" Panggilnya. Bram berhenti dan berbalik melihat Erica.


"Yah?"


"Kita istirahat sebentar disini. Jeje capek."


"Oh." Bram berjalan mendekati Jeje, dia duduk tepat di samping Anak itu.


"Jeje cepak, sayang?"


"Em." Jeje mengangguk dengan wajah imutnya. Bram tersenyum dan mengelus kepala Jeje. Erica yang masih berdiri menatap interaksi kedua lelaki itu.


Drrrttt... Drrrttt.....


Suara deringan ponsel Erica terdengar, Erica sedikit kaget dan tersadar, dia langsung mengambil ponselnya. Bram dan Jeje melihat Erica. Satu panggilan masuk dari Jessica, salah satu sahabat Erica di Amerika.


"Gue angkat telfon dulu." Ucap Erica dan berjalan menjauh dari Bram dan Jeje. Bram mengangguk, mereka berdua kembali melakukan aktivitas mereka.


Erica menggeser tombol warna hijau dan menempelkan layar ponselnya ke daun telinganya.


"Hello, Jessica. What is it?" (Halo, Jessica. Ada apa)


"Erica, where are you?" (Erica, kau dimana?)


Ucap Jessica di seberang telepon sana.


"I'm still in Indonesia." (Aku masih di Indonesia)


"When will you come back?" (Kapan kau akan kembali?)


"I don't know." (Aku tidak tahu.)


Jawab Erica. Tidak ada balasan dari Jessica, perempuan itu diam yang membuat Erica bingung.


"Erica!" Setelah beberapa detik, dia akhirnya membuka suaranya.


"Hmm?" Jawab Erica.


"Are things all right over there?" (Apakah semuanya baik-baik saja di sana?) Tanya Jessica.


"Never been this bad." (Tidak pernah seburuk ini.)


Setelah mendengar jawaban dari Erica, Jessica kembali diam, dia tidak bicara ataupun membalas ucapan Perempuan itu. Erica sebenarnya bingung dengan Jessica.


"Jessica, are you still there?" (Jessica, apa kau masih di sana?) Tanya Erica yang tidak mendengar suara Perempuan itu.


"Hiks... Hiks..." Tiba-tiba saja Jessica menangis yang membuat Erica tambah bingung.


"Jessica! Why are you crying? What's wrong? It's fine in there, isn't it?" (Jessica! Kenapa kau menangis? Ada apa? Di sana baik-baik saja, bukan?) Erica menyembur Jessica dengan beberapa pertanyaan.


"Hiks... Erica! W-we, we are the cause of all this happening!" (Hiks... Erica! K-kita, kita lah penyebab semua ini terjadi!)


Deg


•••


Bersambung.