
Erica, Jeje, Velyn, Chika dan Clara sedikit menjauh dari para Zombie itu. Sedangkan Bram, Gary, Richo dan Jack masih bertarung melawan Zombie itu. Zombie itu tidak terlalu banyak, hanya 4 sampai 6 Zombie saja.
"Kak Bram." Ucap Velyn khawatir. Zombie itu tetap tidak menyerahkan diri mereka, walaupun sudah mendapat pukulan berkali-kali. Bram yang mulai kelelahan sedikit menjauh dari Zombie itu. Dia melihat Gary, Jack dan Richo yang masih berlawanan dengan Zombie. Tidak ada satupun diantara mereka yang berhasil mengalahkan satu Zombie saja. Walau Zombie itu sudah terjatuh dan banyak mendapatkan pukulan, dia tetap bangun dan terus menyerang Gary dan yang lain.
"Gary...!" Teriak Bram memanggil Gary. Gary memukul Zombie yang ada di depannya dan melihat Bram.
"Kita nggak akan bisa mengalahkan mereka..!" Ucap Bram.
"Ha?" Gary memukul Zombie yang berlari mendekati nya dan kembali melihat Bram.
"Kita lebih baik lari dari tempat ini...!" Teriak Bram. Richo dan Jack yang mendengar itu melihat Bram secara bersamaan. Bram berlari menghampiri Erica, Velyn, Jeje, Chika dan Clara. Gary, Richo dan Jack kembali memukul Zombie itu. Setelah memastikan Zombie itu lengah terhadap mereka, barulah mereka berlari menghampiri Bram.
"Ayo pergi!" Ucap Bram. Mereka semua berlari dari tempat itu, meninggalkan Zombie yang masih terkapar di jalanan. Erica dan yang lain sudah tak terlihat dari tempat itu. Mereka berlari hingga keluar dari gang kecil yang mereka masuki tadi.
Erica, Jeje, Bram, Gary, Velyn, Richo, Jack, Chika dan Clara sudah sampai di tempat yang Erica, Jeje, Bram, Gary, Richo dan Jack tempati tadi sebelum memasuki gang kecil itu. Mereka berhenti dan mengatur nafas mereka masing-masing.
"Hah.... Hah.... Huh... Untung kita bisa keluar dari tempat itu." Ucap Clara.
Richo yang melihat Erica dan yang lain merasa ada kejanggalan di antara mereka.
"Velyn..." Bram berjalan menghampiri Velyn dan memeluk tubuh gadis itu. Dia menangis dan sesekali mencium pucuk kepala Velyn. Velyn juga menangis di dalam pelukan Bram, dia memeluk tubuh Bram dengan erat seakan tak mau jauh dari Bram. Bram melepas pelukannya dan menatap Velyn, dia memegang kedua pipi Velyn.
"Velyn nggak papa kan?" Ucap Bram. Velyn mengangguk menatap Bram. Bram kembali memeluk tubuh Velyn.
"Tunggu." Ujar Richo. Bram melepas pelukannya dan begitu juga dengan Velyn. Mereka semua serempak melihat Richo.
"Edwin sama Dion mana?" Tanya Richo dan melihat Velyn, Chika dan Clara. Mereka semua kaget ketika mengetahui Edwin dan Dion tidak ikut bersama mereka.
"Mereka..."
"Mereka kepisah waktu kita jalan tadi." Jawab Clara.
"Gimana caranya?" Tanya Richo heran. Velyn, Clara dan Chika diam, mereka juga bingung kenapa mereka tiba-tiba bisa terpisah dari Edwin dan Dion. Richo melihat ketiga wanita itu seakan meminta penjelasan.
"Waktu jalan tadi, kita bertiga ada di belakang, sedangkan Edwin dan Dion ada di depan. Kita bertiga jalan ketakutan, karena tempat yang kita lewati itu gelap dan menyeramkan. Waktu Velyn lihat ke depan, tiba-tiba aja Edwin dan Dion hilang, nggak tahu kemana." Jelas Clara. Erica dan yang lain yang mendengar itu kaget, mereka berfikir bahwa Edwin dan Dion sudah menjadi bagian dari para Zombie itu. Richo menyugar rambutnya kebelakang dan mengusap wajahnya kasar. Dia melihat Erica yang berdiri di samping Velyn.
"Lo bisa nemuin Edwin dan Dion nggak?" Tanya Richo. Erica melihat Richo dan begitu juga yang lain.
"Lo kan bisa nemuin Velyn, berarti Lo bisa juga nemuin Edwin dan Dion." Ucap Richo. Erica diam, dia juga sebenarnya tidak yakin apakah dia bisa menemukan Edwin dan Dion. Kalau untuk Velyn, Clara dan Chika, itu hanya feeling Erica saja yang mengatakan mereka ada di tempat gang kecil itu.
"Bentar." Erica mengambil ponselnya di dalam saku celananya. Dia menghidupkan ponselnya dan kembali menerusuri tempat yang dilewati Velyn, Clara dan Chika waktu di jalanan yang gelap dan sepi tadi.
"Iya, gue ingat. Sebelum kita bertiga memasuki gang tadi, ada perempatan jalan, jalan membelok ke kiri, lurus dan ke kanan. Kami bertiga pilih jalan ke kanan. Menurut petunjuk dari handphone Clara, itu jalan pintas supaya kita bertiga lebih cepat keluar dari tempat itu." Jelas Chika. Richo dan yang lain diam, Erica kembali menatap layar ponselnya.
"Jadi, kemungkinan kalo Edwin dan Dion tetap berjalan lurus ke depan, mereka sekarang udah sampai di tempat yang kita lalui sebelum sampai di tempat ini." Ucap Erica tetap melihat layar ponselnya.
"Tapi. Kalo misalkan Edwin dan Dion putar balik mencari Velyn, Clara dan Chika, nggak mungkin mereka nggak ketemu sama Velyn. Apalagi, kalo mereka memilih jalan yang di pilih oleh Velyn, Chika, dan Clara." Jelas Erica. Mereka semua sedikit bingung dengan penjelasan Erica.
"Maksud lo berarti Edwin dan Dion memilih jalan yang berlawanan arah dengan Velyn?" Ucap Bram. Erica mengangguk melihat Bram.
"Berarti sekarang kita harus balik lagi ke tempat tadi?" Tanya Gary.
"Harusnya sih gitu. Karena dengan melewati jalan itu, kita akan lebih cepat untuk menemukan Edwin dan Dion." Jawab Erica. Mendengar itu, Clara sudah bergidik takut jika harus melewati tempat itu lagi.
Mereka semua bingung harus mencari Edwin dan Dion atau tidak, sementara Zombie itu sudah jelas-jelas berada di gang yang harus mereka lewati.
•••
Edwin dan Dion masih berjalan mencari Velyn, Clara, dan Chika. Mereka mempunyai niat untuk kembali ke perempatan jalan tadi, tapi jika Velyn, Clara, dan Chika melewati jalan yang mereka jalani sekarang, itu juga akan merugikan mereka, sedangkan mereka sudah berjalan sejauh ini.
Di depan sana, mereka melihat cahaya yang bersinar seperti penampakan kota. Edwin dan Dion senang karena mereka menemukan jalan keluar. Di sana juga mereka dapat melihat beberapa orang yang berdiri membelakangi mereka. Edwin dan Dion langsung berlari menuju tempat itu. Mereka masih di tengah jalan dan belum sampai di tempat itu, tiba-tiba saja salah satu dari orang yang berdiri di sana membalikkan tubuhnya dan melihat Edwin dan Dion. Edwin dan Dion kaget dan berhenti ketika melihat orang itu.
"Astaga..." Ucap Edwin tak percaya.
•••
Erica, Bram, dan yang lain masih berdiri dan belum memasuki gang itu. Mereka semua benar-benar bingung akan hal itu. Erica menatap layar ponselnya, dia kaget dan tidak percaya ketika melihat layar ponselnya.
"Ya, Tuhan." Ucap Erica dan menutup mulutnya. Bram yang mendengar Erica menoleh menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Bram. Erica mendongak kan kepalanya dan melihat Bram dan yang lain.
"Edwin dan Dion berada dalam bahaya." Ucap Erica.
"Jalan yang mereka lewati dihuni oleh para Zombie itu."
•••
Bersambung.