City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Selamat



Erica dan yang lain masih berada di balik tembok itu. Mereka masih kaget dan tidak percaya dengan omongan Erica barusan.


"Nyerang mereka..? Oh... No, thanks. Gue masih sayang nyawa." Ucap Clara pada Erica.


"Iya Ric... Kita nggak mungkin nyerang mereka." Sahut Velyn.


"Kenapa nggak? Mereka juga nggak terlalu banyak. Lagian gunanya alat yang ada di tangan kita buat apa? Buat nyerang mereka kan.." Jelas Erica. Mereka semua diam mendengar ucapan Erica.


"Kita nggak punya banyak waktu." Sambung nya.


Dengan penuh rasa keberanian, Erica berjalan ke depan dan keluar dari tempat persembunyian mereka. Bram dan Gary juga keluar dan diikuti dengan yang lain. Dengan sebuah tongkat yang ada di tangan, Erica berjalan menghampiri para Zombie itu. Satu persatu Zombie yang mengetahui kedatangan Erica langsung berlari ke arah perempuan itu. Lampu jalan yang masih menyala memudahkan para Zombie itu untuk mengenali mereka.


Erica langsung memukulkan tongkat yang ada di tangan nya ke kepala Zombie yang berlari tadi begitu sampai di depan nya. Zombie itu jatuh mendapat pukulan dari Erica. Erica memukuli kepala Zombie itu yang tergeletak di aspal. Bram dan yang lain yang melihat Erica tercengang melihat keberanian dari perempuan itu. Mereka tidak menyangka bahwa ucapan Erica itu serius.


"Wih... Gila... Hebat banget." Gary kagum dengan Erica. Bram yang berada di samping Gary hanya menatap sekilas lelaki itu. Dia lalu berjalan menghampiri Erica.


Erica yang tetap sibuk memukuli Zombie tadi sampai tidak menyadari ada Zombie lainnya yang datang menghampiri nya. Tinggal satu langkah lagi agar Zombie itu dapat menyerang Erica, dengan sigap Bram langsung memukul tengkuk Zombie itu. Erica sedikit kaget dengan hal itu, dilihat nya Bram yang memukuli Zombie yang hampir menyerang nya tadi.


Di sisi Gary dan yang lain, mereka masih menatap Erica dan Bram. Mereka masih gugup dan takut jika berhadapan langsung dengan para Zombie itu.


"Mereka berani banget sih.." Ucap Clara yang melihat Erica dan Bram.


"Kita harus membantu mereka..!" Sahut Richo.


"Hah...?"


"Bantu mereka? Nggak.. Nggak... Gue nggak mau " Jawab Clara.


"Terus..? Kita hanya diam disini dan merhatiin mereka, gitu..?" Clara terdiam mendengar pertanyaan Richo.


Dua Zombie sudah tewas di buat Erica dan Bram. Kini tinggal beberapa Zombie lagi. Erica dan Bram menatap ke depan, mereka melihat para Zombie itu yang datang menghampiri mereka. Bukannya menghindar, ke dua sejoli itu malah berjalan menghampiri mereka tanpa ada rasa takut sedikit pun.


Gary dan yang lain melihat Erica dan Bram yang berjalan menghampiri Zombie itu. Tidak adil jika hanya mereka berdua yang menyerang para monster itu.


"Persetan dengan semua ini..." Gary berlari menghampiri Erica dan Bram. Richo, Jack, Edwin dan juga Dion ikut menyusul Gary. Kini tinggal Velyn, Clara dan juga Chika.


"Ayo kita susul mereka..!!" Ucap Velyn.


"Yah... Lo benar." Kata Chika sambil mengangguk.


"Gue nggak berani Vel... Gue nggak berani.. Gue nggak sanggup." Sahut Clara. Velyn dan Chika menatap Clara yang berlinang air mata.


"Sanggup atau nggak sanggup kita harus siap... Ini udah menjadi takdir kita. Apa lo mau mati di tangan para Zombie itu." Clara menggeleng mendengar perkataan Velyn.


"Hai...."


Clara, Velyn dan Chika kaget mendengar suara itu. Mereka celingak-celinguk mencari arah sumber suara itu.


"Hai...." Chika menyipitkan mata nya ketika melihat sosok lelaki dari kegelapan. Lelaki itu berjalan menghampiri Velyn, Chika dan juga Clara. Chika melihat lelaki itu yang mulai jelas karena bantuan penerangan dari lampu jalan. Lelaki itu melambaikan tangan nya dan terus mengatakan kata Hai. Tentu nya Chika kaget melihat lelaki itu.


"Ya... Tuhan...." Ucap Chika sambil menutup mulut nya. Velyn dan Clara heran menatap Chika.


"I--itu..." Chika menunjuk lelaki yang berjalan menghampiri mereka. Velyn dan Clara melihat lelaki yang di tunjuk Chika.


"Hai...." Ucapnya dan melambaikan tangan nya.


Sudah pasti lelaki itu tidak normal, kaki kanan nya pincang, mulut nya dipenuhi dengan darah. Dia tertawa melambaikan tangan nya dan berjalan menghampiri Velyn, Chika dan Clara. Bukan nya lari, ketiga wanita itu shock dan diam mematung. Erica yang berada di depan berbalik melihat Velyn, Chika dan Clara. Dia kaget melihat Zombie yang datang dari belakang menghampiri ketiga wanita itu. Erica melihat Velyn, Chika dan Clara yang diam dan tidak bergerak sedikit pun.


"Bodoh... Kenapa mereka bengong..!" Ucap Erica dan berlari menghampiri Velyn, Clara dan Chika.


Hampir saja Clara menjadi santapan dari Zombie itu, dengan cepat Erica memukul kepala Zombie itu hingga terjatuh. Velyn, Chika dan Clara kaget dan tersadar. Mereka melihat lelaki itu yang sudah terkapar di lantai.


"Kenapa kalian diam saja..!!" Kesal Erica melihat ke tiga wanita itu. Erica, Velyn, Chika dan Clara melihat Zombie itu bergerak.


"Ayo kita pergi.." Ucap Erica dan berlari dari tempat itu. Velyn, Clara dan Chika ikut berlari mengikuti Erica. Zombie itu bangun dan berdiri, dia melihat kepergian ke empat wanita itu. Zombie itu tidak tinggal diam, dia berjalan dengan kaki pincang menghampiri Erica dan yang lain.


Erica, Velyn, Clara, dan Chika berlari menghampiri Bram dan yang lain. Clara melihat Zombie tadi mengejar mereka.


"Ayo.... Kita harus pergi dari sini, sebelum yang lainnya lebih mengetahui keberadaan kita." Ujar Erica.


"Iya..." Jawab Bram.


Erica dan yang lain berlari. Jack melihat Richo yang stay memukuli Zombie yang sudah terkapar di aspal. Kepala Zombie itu hampir pecah akibat pukulan dari Richo.


"Woi... Udah. Kita harus pergi..!" Teriak Jack. Richo mendongak dan melihat Jack.


"Bentar...." Richo memukul kepala Zombie itu sekali lagi lalu berjalan menghampiri Jack.


"Ayo.." Ucap Richo.


Richo dan Jack berlari menyusul Erica dan yang lain


***


Erica dan yang lainnya berlari tanpa henti. Jarak mereka sudah lumayan jauh dari tempat tadi. Di gelap nya malam, para Zombie itu akan susah mengenali mereka. Cahaya bulan yang tampak terang yang mereka andalkan untuk penerang mereka di jalan. Lampu jalan disana juga tidak ada yang berfungsi.


Bram yang berada di depan tiba-tiba berhenti, nafas nya terengah-engah, wajah nya juga pucat. Erica dan yang lain ikut berhenti melihat Bram.


"Astaga Bram, lo kenapa..?" Ucap Gary yang melihat wajah pucat Bram. Bram tidak bisa menyeimbangkan badan nya, dia hampir terjatuh. Untung nya Gary langsung menahan tubuh Bram.


"Kakak kenapa...?" Ucap Velyn khawatir.


"Mending Lo duduk dulu." Perintah Gary dan menuntun Bram duduk. Velyn berjalan ke arah Bram dan duduk di samping pria itu.


"Kakak baik-baik aja kan?" Tanya Velyn dan memegang pundak belakang Bram. Bram masih mengatur nafas nya, dia merasakan lemas pada tubuh nya.


•••


Bersambung...