
Bram duduk dengan keadaan wajah nya yang pucat, keringat bercucuran dari sekujur tubuh pria itu. Beberapa kali Velyn berbicara pada Bram, tapi lelaki hanya diam dan tidak menjawab Velyn. Hal itu yang membuat Velyn khawatir.
"Kak.... Kakak kenapa..?" Tanya Velyn yang hampir menangis. Tidak ada jawaban dari Bram.
"Nggak panas." Ucap Gary yang memegang kening Bram. "We.... Bro. Lo bisa dengar kita nggak?" Gary memegang dagu Bram supaya menatap nya. Bram menatap Gary yang berada tepat di depan nya.
"Gue... Gue... Merasa lemas.." Ucap Bram dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh Gary dan Velyn.
"Lemas...?" Tanya Gary sambil mengerutkan keningnya.
"Mungkin... Ini efek karena gue belum makan?" Jawab Bram.
Gary mencerna omongan Bram.
"Oh... Iya, gue lupa. Lo kan belum makan." Ucap Gary dengan sedikit keras. Velyn yang sedari tadi berada di samping Bram dan mendengarkan percakapan ke dua lelaki itu sedikit kaget ketika mengetahui Bram belum makan.
"Kakak belum makan..?" Tanya Velyn pada Bram. Bram hanya mengangguk menjawab pertanyaan Velyn.
"Yaudah... Ayo kita cari makan dulu." Ajak Velyn.
"Minimarket nggak jauh dari sini." Sahut Erica.
"Ya udah, kalo gitu kita ke sana dulu." Ucap Velyn. Bram berdiri dengan di bantu oleh Velyn.
"Sini... Gue bantu Lo jalan." Kata Gary dan mengambil alih Bram.
Mereka semua pun berjalan menuju Minimarket yang dikatakan Erica tadi. Bram, Gary dan Velyn berada di depan, Velyn memegang tangan kiri Bram, sedangkan Gary membantu Bram berjalan. Erica dan yang lain berada di belakang dan mengawasi jalanan yang mereka lalui.
Cukup menghabiskan waktu 25 menit, akhirnya mereka sampai di depan Minimarket yang dikatakan Erica. Bram, Velyn, dan Gary berjalan ke pintu Minimarket itu. Erica dan yang lain menyusul setelah memastikan tempat itu aman untuk mereka singgahi.
"Darah..." Ucap Clara ketika melihat darah di pintu kaca Minimarket itu. Mereka masuk ke dalam dan melihat sebagian barang yang berserakan di lantai. Velyn dan Gary mendudukkan Bram di tempat kasir Minimarket itu.
"Kakak tunggu sini, Velyn ambil minum dulu." Ucap Velyn dan berlalu pergi dari tempat Bram. Bram menyandarkan tubuh nya dan memejamkan mata nya, dia benar-benar merasa kan lemas pada tubuh nya. Beberapa detik kemudian, Velyn datang dengan membawa sebotol air mineral dan dua bungkus roti di tangan nya. Velyn duduk di samping Bram dan meletakkan botol air dan roti yang dia bawa tadi di atas meja kasir.
Bram membuka mata nya dan menegakkan tubuh nya.
"Kakak minum dulu." Ucap Velyn dan membuka tutup botol. Velyn menyerahkan botol minuman itu kepada Bram dan membantu Bram minum. Selesai minum, Bram memakan roti yang di bawa Velyn tadi.
"Kakak istirahat dulu aja." Ucap Velyn, Bram mengangguk dan menyandarkan tubuh nya kembali.
***
Di sisi Erica, Clara dan Chika...
Erica dan Chika hanya menemani Clara yang sibuk mencari makanan dan minuman. Mereka berdua berjalan tepat di belakang Clara. Clara memilih beberapa makanan dan minuman. Sibuk memilih, Clara tidak sengaja melihat Erica dan Chika yang hanya diam dan tidak menyentuh makanan dan minuman tersebut sedikit pun.
"Woi... Lo berdua kenapa diam?" Tanya Clara melihat Erica dan Chika.
"Nggak mau milih-milih...?" Sambung nya. Erica dan Chika hanya menggeleng.
"Cemilan.." Tawar Clara dan memperlihatkan cemilan yang ada di tangan nya kepada Erica dan Chika.
"Nggak..." Jawab Chika.
"Oh... Ya udah." Clara sedikit heran melihat ke dua perempuan itu.
"Di kasih yang gratis nggak mau." Gumam Clara dan kembali melakukan aktivitas nya.
***
Di sisi para lelaki, mereka juga sama seperti Clara, memilih makanan untuk mengisi perut mereka.
"Hehehe... Tadi gue lewat, gue nggak sengaja lihat nih tas. Gue lihat masih bagus, ya udah gue ambil aja."
"Lagian kan ada gunanya gini." Jelas Richo dan kembali memasukkan cemilan yang dia pilih ke dalam tas nya. Edwin mengangguk mendengar jawaban Richo.
***
Erica sedang berjalan di tempat paling belakang Minimarket itu. Awalnya tadi Erica ingin kembali mengikuti Clara dan Chika, tapi dia tidak sengaja mendengar seperti suara tangisan dari arah belakang sana. Erica berinisiatif berjalan ke belakang dan mencari sumber suara itu. Erica berjalan dan mengawasi setiap sudut tempat yang dia lalui.
Semakin dekat suara itu terdengar di telinga Erica. Erica menajamkan pendengarannya dan berjalan mencari sumber suara itu.
Erica kaget ketika melihat bocah laki-laki kira-kira berusia 2 tahunan duduk dan memegang kedua lututnya. Dia menyembunyikan kepalanya sambil menangis dan terus mengatakan kata 'Mamah'. Erica berjalan mendekati anak kecil itu. Dia berdiri tepat di depan anak itu. Anak lelaki itu mungkin tidak menyadari kedatangan Erica. Erica jongkok di depan bocah lelaki itu. Dia memegang tangan anak itu yang membuat anak itu kaget.
Anak itu memberontak ketika mendapat sentuhan dari Erica.
"Pergi.... Pergi...." Ucap anak itu sambil menutup mata nya. Erica memegang tangan kedua anak itu dan mencoba menenangkan nya.
"Hei... Hei... Jangan takut. Aku bukan orang jahat." Ucap Erica dan menahan tangan anak kecil itu yang mencoba memberontak. Mendengar suara Erica, anak lelaki itu sedikit membuka mata nya. Dia dapat melihat seorang wanita cantik berambut panjang dan berkulit putih jongkok tepat dihadapan nya. Si anak itu perlahan-lahan membuka mata nya. Erica tersenyum manis melihat anak itu.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat yang akan membunuhmu." Kata Erica sambil tersenyum.
Anak kecil itu masih diam menatap Erica yang tersenyum pada nya.
"Apa kau akan memakan ku..?" Ucap anak itu dengan polos. Erica terkekeh mendengar perkataan anak kecil itu.
"Apa wajah ku seperti ingin memakan anak kecil?" Anak kecil itu menggeleng menjawab pertanyaan Erica.
Erica duduk di samping anak kecil itu.
"Kenapa kau bisa ada disini. Dimana orang tua mu?" Tanya Erica. Bocah lelaki itu diam dan menatap ke depan, dia masih sedikit takut jika memandang Erica.
"Hei Adik kecil..." Ucap Erica dan memegang kedua pipi bocah kecil itu. "Jangan takut, aku tidak akan memakan mu. Aku orang baik, tidak akan pernah melukai mu." Bocah kecil itu mengangguk menatap Erica. Erica melepaskan kedua tangan nya dan menatap bocah lelaki itu.
"Kenapa kau sendiri? Dimana Mamah mu?" Ucap Erica.
"Mamah di gigit sama Om-Om seram." Ujar si anak kecil itu. Erica sedikit kaget mendengar jawaban anak itu.
"Di gigit sama Om-Om seram?" Tanya Erica sekali lagi. Bocah lelaki itu mengangguk mendengar Erica.
"Tadi... Waktu Jeje ambil Es krim sama Mamah, tiba-tiba Om-om seram datang dan langsung gigit tangan Mamah. Mamah teriak dan mukul kepala si Om itu. Jeje takut, Jeje tarik-tarik tangan Mamah, tapi Mamah malah nyuruh Jeje pergi."
"Jeje nggak tahu mau pergi kemana, soalnya waktu itu disini banyak orang yang main kejar-kejaran dan teriak-teriak. Jeje lihat Mamah, tapi Mamah udah hilang. Karena Jeje takut, Jeje sembunyi disini." Jelas anak itu. Erica mengangguk mendengar penjelasan anak itu.
"Nama mu Jeje?" Tanya Erica.
"He em. Mamah biasa panggil aku Jeje." Jawab anak itu.
"Oh..."
"Em... Nama Kakak Erica. Kamu boleh anggap Kakak sebagai Kakak kamu sendiri." Ucap Erica dengan tersenyum melihat anak kecil itu.
"Ka--kakak...?" Ucap Jeje dengan terbata. Erica mengangguk dan tersenyum.
"Kakak." Ucap nya sekali lagi. Erica tersenyum dan mengelus kepala Jeje.
•••
Bersambung.