City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Mamah...



"OMG..!" Ucap Clara sambil menutup mulut nya.


"Ayo kita pergi." Ajak nya dengan panik dan memegang tangan Erica dan Velyn.


Belum sempat ketiga wanita itu berlari, seorang wanita dengan 4 orang lelaki berlari dari belakang Mahasiswi itu dengan di ikuti oleh segerombolan dari manusia aneh itu. Erica, Velyn dan Clara dibuat kaget dengan itu.


Ke lima orang itu berlari melewati Mahasiswi yang berjalan ke arah Erica. Sementara ketiga wanita itu melihat ke lima orang yang berlari melewati Mahasiswi itu.


"Kenapa kalian bengong bodoh. Ayo lari..!" Teriak salah satu lelaki yang melihat Erica, Velyn dan Clara.


Erica, Velyn dan Clara tersadar, mereka pun langsung berlari mengikuti ke lima orang itu.


Mereka berlari dan terus berlari, entah kemana arah tujuan mereka sekarang, yang terpenting adalah mereka harus terbebas dari kejaran makhluk asing itu.


Suasana Kota itu berubah drastis, mulai dari mobil yang terparkir rapi kini berantakan, kehancuran terjadi dimana-mana. Tidak ada lagi rumah impian dan keluarga harmonis, kekayaan pun sudah tidak di peduli kan lagi. Yang ada hanya bagaimana supaya terbebas dari jeratan manusia asing itu.


Dengan penuh rasa ke khawatiran, Erica dan yang lainnya berlari, berusaha menghindar dari para makhluk itu.Sampai pada akhirnya mereka sampai di pertengahan kota.


Suasana di sana lebih buruk lagi, perkelahian dimana-mana. Erica dan yang lainnya bingung harus pergi kemana. Di belakang para makhluk itu stay mengejar mereka, sedangkan di depan mata mereka jelas terlihat makhluk itu.


"Kita lewat sini.." Seru Erica dan berlari ke sebuah pagar rumah minimalis.


Erica membuka pagar rumah yang terletak di pinggir jalan dan memasukinya. Clara, Velyn dan yang lainnya ikut masuk ke halaman rumah itu. Buru-buru mereka menutup pintu pagar itu.


"Hah..., hah..., untung lah kita bisa menghindar dari mereka." Kata Clara.


"Makhluk apa mereka itu..?" Tanya salah satu lelaki sambil melihat keluar pagar.


Semua diam, karena mereka juga tidak tahu tentang makhluk itu.


"Zombie." Sahut Erica.


Mendengar jawaban Erica, semua mata tertuju pada nya.


"Mereka kerap disebut Zombie." Ucap Erica.


"Zombie adalah makhluk yang sudah mati tapi hidup kembali, atau lebih tepat nya mayat hidup."


"Asal mula Zombie terjadi bisa disebabkan karena adanya virus atau bahan beracun yang membuat mati otak."


"Mereka tidak mempunyai kesadaran akan lingkungan nya, memangsa tanpa pandang bulu. Tapi mereka menyerang jika mereka melihat kita."


"Penglihatan mereka tidak terlalu jelas, tapi pendengaran mereka amatlah tajam." Erica menjelaskan panjang lebar.


Semua nya kaget mendengar penjelasan Erica, yang mereka tahu Zombie itu adalah mitos dan imajinasi manusia saja. Tapi siapa sangka, makhluk itu sekarang ada dan tepat di depan mata mereka.


"Gue nggak nyangka Zombie itu nyata. Gue kira itu cuman khayalan doang." Ucap Velyn dengan sedih. Salah satu wanita dari kawanan lelaki ke empat itu melihat raut wajah Velyn. Dia berjalan mendekati Velyn dan menepuk pundak perempuan itu.


"Kita nggak boleh nyerah. Kita harus tetap semangat dan terus berjuang." Ucap wanita itu dan menyemangati Velyn. Velyn menatap wanita itu, dia tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan perempuan yang berada di samping nya.


Deringan ponsel terdengar dari saku celana Erica. Erica mengambil ponsel nya dan melihat layar ponsel itu.


Betapa lega nya Erica ketika menatap layar ponsel nya bertuliskan Mamah. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi sang Mamah, akhirnya kini Erica mendapatkan panggilan masuk dari Mamah nya.


"Halo, Mah..."


"Mamah kenapa nggak ngangkat telepon Erica? Mamah tahu nggak Erica tu khawatir." Kata Erica dengan kesal. Manda diam dan tidak menjawab pertanyaan Erica.


"Halo, Mah. Mamah masih di sana kan?" Ucap Erica.


"Erica putri ku sayang.. hah... Mamah tahu... Kamu anak yang kuat... Hah.., hah..." Manda berbicara dengan nafas yang terengah-engah.


"Mamah. Mamah kenapa...?"


"Mamah baik-baik aja kan..?" Tanya Erica dengan khawatir. Perasaan Erica yang kesal berubah menjadi khawatir setelah mendengar suara Mamah nya.


"Mamah sangat menyayangi mu... Kamu dan Papah kamu... hah.., adalah kehidupan Mamah." Tiba-tiba suara Manda berubah menjadi serak. "Lelaki sialan itu..., akh..., akh...."


"Mah. Mamah...!"


'Tut.. Tut... Tut...' Panggilan terputus.


Erica menurunkan tangan nya, dia sudah tahu apa yang terjadi dengan mamah nya sekarang. Bukan..!, bukan ini yang Erica harapkan.


Sekarang Manda Mamah nya sudah tidak seperti manusia pada umum nya.


Mamah nya telah pergi, sekarang yang Erica harapkan adalah Papah nya, semoga dia bisa bertemu dengan Papah nya David.


Erica meneteskan air mata nya, wanita itu belum siap menerima apa yang sudah terjadi. Velyn, Clara dan yang lain-nya yang melihat Erica bingung menatap perempuan itu. Mereka bertanya-tanya apa yang membuat dia sampai menangis.


"Erica..! Lo kenapa..?" Tanya Velyn.


Erica tersadar dan menoleh ke arah Velyn. Buru-buru Erica menghapus air mata nya.


"Nggak.. Gue nggak papa." Jawab Erica.


"Serius...?" Tanya Velyn meyakinkan.


Erica mengangguk menjawab pertanyaan Velyn.


"Kalo lo ada masalah, lo bisa cerita ke kita.." Sambung Velyn.


Yang lainnya hanya diam dan mendengar kan pembicaraan ke dua wanita itu.


"Gue benaran nggak papa." Jawab Erica.


Erica memang tidak terlalu terbuka. Memendam masalah sendiri, itu adalah prinsip dari Erica.


"Kita masuk aja yok. Lagian udah mau malam." Ajak Erica dan memasuki rumah yang akan mereka tinggali untuk sementara. Erica mengalihkan pembicaraan nya supaya Velyn dan yang lainnya tidak banyak bertanya.


•••


Bersambung.