
Malam hari...
Erica, Velyn, Clara dan Chika menghabiskan waktu kurang lebih dua jam untuk memasak. Sekarang semua nya tengah duduk di meja makan, menikmati hidangan yang sudah di sajikan.
"Eemm... Nasi goreng nya enak banget.." Puji Richo.
"Oh.. Ya jelas. Kita yang masak." Jawab Clara sombong.
Richo hanya memutar bola matanya mendengar jawaban Clara lalu melanjutkan aktivitas makannya lagi. Semuanya makan dengan tenang tanpa ada kendala sedikit pun.
Skip...
Selesai makan, ke empat wanita itu terlebih dahulu membersihkan meja makan setelah itu menyusul para lelaki yang sudah duduk di ruang tamu.
Mereka semuanya sekarang tengah duduk manis di sofa. Membicarakan tentang rencana mereka selanjutnya.
"Sekarang udah malam. So, apa yang harus kita lakuin?" Tanya Richo.
Semua mata tertuju pada Erica kecuali Dion. Mereka menunggu jawaban dari Erica tentang kelanjutan perjalanan mereka.
"Seperti yang gue bilang tadi. Kita bergerak malam ini." Ucap Erica.
Erica melihat jam di pergelangan tangan nya. "Baru jam 20.00, kita perginya kira-kira jam 21.00." Perintah Erica.
Mereka semua setuju dengan keputusan Erica.
"Kita pergi kira-kira jam 21.00, berarti masih ada waktu satu jam lagi." Tutur Richo.
"Iya... Emang kenapa?" Tanya Edwin.
"Nggak. Gue cuma mau istirahat lagi aja." Jawab Richo.
"Tadi belum cukup?" Sahut Jack.
Richo menggeleng menjawab pertanyaan Jack. "Lagian masih ada waktu satu jam lagi, mending gue istirahat." Jawab Richo.
Richo berdiri dari duduknya dan hendak berjalan, tapi dia tidak sengaja mendengar seperti suara pintu yang habis dibuka.
"Siapa tuh...?" Batin Richo. Richo terdiam setelah mendengar suara itu.
Melihat Richo yang terdiam membuat Erica dan yang lain bingung.
"Woi.. Lo kenapa diam. Nggak jadi istirahat..?" Ujar Jack. Richo melihat Jack yang berbicara pada nya.
"Lo semua dengar nggak. Kayak ada orang yang buka pintu gitu.." Ucap Richo.
Semua kaget mendengar perkataan Richo.
"Halah... Paling juga akal-akalan lo doang kan buat nakut-nakutin kita..?" Ejek Jack.
"Nggak! Gue serius. Sumpah..."
"Lo serius...?" Tanya Chika meyakinkan.
"Iya.. Ngapain gue boong." Jawab Richo.
"Lo jangan nakut-nakutin gitu deh... Gue kan jadi takut." Kata Clara.
"Gue nggak lagi nakut-nakutin. Emang benar gue dengar suara itu." Jelas Richo.
"Richo benar... Gue juga dengar. Gue fikir tadi itu cuma halusinasi gue aja, tapi ternyata bukan gue aja yang dengar suara itu." Sahut Erica.
Mendengar perkataan Erica sedikit meyakinkan mereka.
"Apa jangan-jangan Zombie itu masuk lagi.." Ujar Clara.
"Jangan berfikir negatif. Mending sekarang kita cek dulu." Ajak Erica.
Erica dan yang lain berjalan ke arah pintu memastikan tidak ada siapa-siapa disana. Jarak antara ruang tamu dengan pintu tidak jauh.
Richo yang memimpin jalan mereka tiba-tiba berhenti ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi dari pintu.
"Aduh..." Kepala Clara terbentur ke pundak belakang Richo ketika Richo tiba-tiba berhenti. Dan kebetulan Clara berada tepat di belakang Richo.
"Lo kok tiba-tiba berhent---." Ucapan Clara terpotong ketika dia melihat dua orang lelaki berdiri di depan pintu.
Beberapa saat sebelum itu..
•••
Dua orang lelaki tengah berjalan dengan penuh rasa kekhawatiran dan kepanikan di gelap nya malam. Mereka berjalan dengan sesekali mengawasi jalanan yang mereka tempuh.
"Kita harus pergi kemana?" Ucap lelaki 1 kepada lelaki 2.
"Udah... Kita jalan aja dulu." Jawab lelaki 2.
"Masalah nya, kita dari tadi jalan tapi nggak pernah berhenti Bram.." Keluh lelaki 1.
Bram hanya diam mendengar keluhan dari teman nya itu.
"Ck...." Lelaki itu berdecak kesal melihat temannya.
***
15 menit kemudian.
Kedua lelaki itu masih tetap berjalan sambil menelusuri jalanan yang mereka lewati.
"Kita tuh sebenernya mau kemana sih Bram..?"
"Udah 1 jam lebih kita jalan. Gue capek pengen istirahat."
Gary kesal dan diam mendengar jawaban Bram.
"Eh..."
Gary kaget ketika pergelangan tangan nya di tarik oleh Bram.
"Lo kenapa narik gw tiba-tiba gitu. Kaget gue.." Kesal Gary.
"Sstt... Lo diam." Perintah Bram.
"Kenapa?" Tanya Gary bingung.
"Tuh..." Bram menunjuk beberapa Zombie berjalan tidak jauh dari mereka. Gary kaget ketika melihat Zombie itu. Posisi mereka sekarang berada di parkiran yang terdapat beberapa mobil. Mereka bersembunyi di salah satu balik mobil yang terdapat di sana.
Bram dan Gary menatap was-was Zombie itu. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Gary pada Bram.
Bram diam dan melihat sekitar nya.
"Kita harus cepat-cepat pergi dari sini." Ujar Bram.
"Caranya?"
"Follow me." Bram berjalan dengan mengendap-endap dari satu mobil ke mobil lainnya. Sedangkan Gary mengikuti Bram dari belakang.
Entah Gary yang kurang hati-hati, lelaki itu tidak sengaja menginjak sebuah botol kaleng minuman. Gary menutup mata nya dan menggigit bibir bawahnya. Bram berbalik ke belakang dan menatap Gary.
"Gue nggak sengaja." Ucap Gary tanpa bersuara.
Bram berbalik dan melihat ke depan.
Betapa terkejutnya Bram ketika melihat Zombie tadi menatap mereka. Di tambah penerangan dari lampu jalan yang membuat Zombie itu dapat melihat mereka.
Zombie itu berjalan mendekati Bram dan juga Gary. Bram mundur ke belakang melihat Zombie yang datang menghampiri mereka.
"Kita harus pergi." Ucap Bram.
Bram dan Gary melihat Zombie itu yang mulai bertambah menghampiri mereka.
"Lari...!!" Teriak Bram.
Bram dan Gary berlari meninggalkan tempat itu. Tidak mau kehilangan santapan yang sudah di depan mata, beberapa dari Zombie itu berlari mengejar Bram dan Gary.
Bram dan Gary berlari dan sesekali melirik ke belakang.
"Mereka ngejar kita." Ucap Gary.
Bram melihat jalanan yang tampak sepi, dia melihat ke kanan kiri, mencari tempat yang dapat untuk mereka bersembunyi.
Pria itu berhenti ketika melihat bangunan minimalis yang layak untuk mereka tinggali. Gary ikut berhenti melihat Bram.
Bram langsung membuka gerbang rumah itu. Dia berjalan masuk ke dalam halaman rumah itu dan di ikuti oleh Gary.
Setelah mereka berdua masuk, Bram langsung menutup pintu gerbang itu. Mereka dapat melihat Zombie yang melewati mereka dari dalam pagar rumah itu.
"Hah... Hah... Capek gue. Untung kita bisa kabur..." Ucap Gary.
"Untuk sementara, kita istirahat di sini dulu." Perintah Bram.
Bram berbalik dan melihat rumah yang berada tepat di depan mata nya.
"Ayo masuk. Kita istirahat dulu." Ajak Bram.
"Hah?" Gary berbalik dan melihat Bram berjalan ke pintu rumah itu. Gary berjalan dan mengikuti langkah Bram.
'Ceklek'
Bram membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam, di ikuti oleh Gary. Bram kembali menutup pintu rumah itu. Bram dan Gary berbalik, mereka kaget ketika melihat 8 orang berdiri dan menatap mereka.
•••
Masa kini..
Mereka semua kaget melihat ke dua lelaki itu.
"Ka-kalian siapa?"
" Kok bisa ada disini? " Ucap Clara.
"Ya bisa lah... Orang pintu nya nggak di kunci." Jawab Gary dengan santai.
"Kita berdua cuman mau istirahat sebentar disini." Ucap Bram.
Mendengar suara itu membuat Velyn sedikit kaget. Suara yang begitu tidak asing baginya. Velyn pun menatap ke dua lelaki yang berada di depan mereka.
Velyn kaget ketika melihat salah satu lelaki itu.
"Ka--kakak..." Ucap Velyn dengan terbata-bata.
Semua mata tertuju pada Velyn ketika mendengar perkataan nya.
"Velyn..." Balas lelaki itu.
Velyn berlari dan memeluk tubuh Bram. Yah... Bram adalah Kakaknya Velyn.
•••
Like....
Bersambung...