City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Pengkhianat



"Dion...!!"


Dion dan Richo kaget, Dion berbalik dan melihat lelaki yang menyebut namanya.


"Jack."


Flashback


Seorang lelaki yang berjalan dengan kebingungan menelusuri setiap jalanan yang dia lewati. Dia melihat setiap sudut tempat yang dia lalui, berjalan dengan mengawasi jalanan nya. Lelaki itu yang tak lain adalah Jack. Jack berjalan seorang diri, dia bingung kenapa dia bisa terpisah dari Richo dan yang lain. Jack melihat sekelilingnya, hanya ada kesepian dan keheningan di sana. Jack ingin berteriak memanggil Richo dan yang lain, tapi dia takut itu akan dapat memancing para Zombie datang dan mengetahui keberadaan nya.


Jack hanya bisa berjalan, walau dia tidak tahu harus pergi kemana. "Kalian kemana sih, Ric?" Ucapnya dan menyugar rambutnya. Tidak ada bantuan yang dia harapkan dalam situasi seperti ini. Jack kembali berjalan, berharap menemukan keberadaan teman-temannya yang lain.


Entah itu keberuntungan bagi Jack, dia tidak sengaja mendengar suara seperti keributan. Jack berjalan mendatangi suara itu, suara yang dia dengar semakin jelas di kedua telinganya. Jack kembali melangkahkan kakinya, samar-samar dia melihat dua orang lelaki seperti sedang bertengkar. Satu orang lelaki terduduk di jalan, sedangkan lelaki yang satu lagi berdiri sambil memegang sebuah pentungan. Jack berjalan mendekati dua orang pria itu, dia menyipitkan matanya ketika kedua orang itu terlihat jelas di matanya.


"Itu bukannya Dion, sama Richo?" Tanya Jack pada dirinya sendiri.


"Tapi, kok? Mereka kayak bertengkar gitu?" Ucapnya bingung. Hal yang membuat Jack kaget, dia melihat Dion yang mengangkat tangannya sambil memegang pentungan dan seperti ingin memukul Richo.


"Itu.. Dion mau ngapain?" Bingungnya. Jack melihat Dion yang hampir memukulkan pentungan itu ke kepala Richo. "Astaga." Ucap Jack kaget.


"Dion...!!" Teriaknya.


Flashback off


Jack berjalan menghampiri Richo dan Dion. Dion menurunkan tangannya dan memutar bola matanya malas, rencana nya gagal untuk melenyapkan Richo. Jack sampai di tempat kedua lelaki itu, dia melihat Richo yang terduduk di aspal.


"Jack." Ucap Richo dan ingin berdiri. Jack memegang kedua bahu Richo dan membantu lelaki itu berdiri.


"Ini kenapa?" Tanya Jack bingung. Richo dan Dion diam, Richo masih tidak percaya dengan tingkah Dion yang ingin membunuhnya.


"Kenapa diam aja?" Ucap Jack dan menatap Richo dan Dion secara bergantian. Dion mengalihkan pandangannya, Jack melihat pentungan yang ada di tangan Dion.


"Ini apa?" Ucap Jack dan merampas pentungan itu dari tangan Dion, Dion ingin mengambil pentungan itu kembali, tapi Jack dengan sigap menghalangi tangan Dion. Jack melihat Dion yang diam dan mengalihkan pandangannya, dia beralih menatap Richo yang masih tegang dan ketakutan.


"Richo!" Richo yang tadinya menatap Dion menoleh melihat Jack.


"Kenapa?" Tanya Jack. Richo kembali menatap Dion, Dion mengalihkan pandangannya dan malas melihat kedua lelaki itu.


"Dion.." Ucap Richo terbata.


"D-dia, dia mau bunuh gue."


"Hah? Mau bunuh lo?" Tanya Jack kaget. Richo mengangguk dan menatap takut Dion.


"Dion!" Dion menatap malas Jack yang berada di depannya.


"Apa benar yang dikatakan, Richo?"


"Hem." Jawab Dion tanpa ragu.


"Gue nggak nyangka Lo bisa setega ini, Ion. Kenapa Lo lakuin itu sama temen Lo sendiri? Dan, kenapa Lo tadi hampir mau bunuh Richo? Richo ini teman lo, Ion. Dalam situasi seperti ini seharusnya kita bersatu, bukan malah saling menjatuhkan dan berpecah belah seperti ini." Jelas Jack. Dion tidak mendengarkan dan tidak peduli dengan ucapan Jack, telinga nya malah panas mendengar penjelasan lelaki itu. Jack melihat Dion yang diam dan tidak merespon sedikit pun. Dia tidak menyangka Dion yang dekat dengan dia bisa berbuat seperti ini.


"Gue nyesel punya teman kayak, Lo. Lo nggak jauh dari seorang pengkhianat." Ucap Jack.


"Ayo, Ric. Kita pergi dari sini." Ajak Jack dan memegang tangan Richo. Richo hanya diam dan mengikuti langkah Jack. Mereka berdua pergi meninggalkan Dion sendiri di sana. Dion masih diam, dia melihat kepergian kedua lelaki itu yang sudah mulai menghilang. Tidak ada penyesalan sedikit pun di dalam dirinya, kebencian semakin bertambah di dalam jiwa nya.


"Awas aja Lo berdua!" Ucap Dion dengan penuh kebencian.


***


Para Zombie yang mengejar Clara dan Velyn sudah tidak mengejar mereka lagi, mereka berdua dapat menghindar dari kejaran para monster itu. Clara dan Velyn berjalan dengan perasaan hampa dan tidak punya semangat sedikit pun. Hanya mereka berdua, Gary dan yang lain terpisah dari mereka, jika para Zombie tadi dapat menangkap dan menyerang mereka, mungkin Clara dan Velyn sudah menjadi bagian dari para monster itu.


"Apa ini saatnya kita nyerahin diri aja?" Ucap Velyn pasrah. Clara kaget dan langsung melihat Velyn, dia melihat wajah perempuan itu hanya dihiasi dengan kepasrahan dan ke putus asaan.


Clara berhenti di depan Velyn dan menatap perempuan itu, dia melihat Velyn yang menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Kita udah nggak punya harapan buat hidup lagi, Ra. Kita kepisah dari, Kak Gary. Kak Bram juga pergi." Velyn menatap Clara yang diam dan mendengarkan nya. Kedua mata Velyn memerah, air mata siap jatuh dari pelupuk mata perempuan itu.


"Lo tahu, nggak. Gue berpisah dari Kak Bram selama bertahun-tahun. Gue sendiri di rumah, Mamah Papah gue sibuk kerja dan nggak pernah ngurusin kami berdua. Dan Kak Bram, orang yang paling gue sayang dan yang paling penting dalam hidup gue, gue selalu nantiin kepulangan nya, tapi--." Velyn tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, air matanya jatuh, dia mengingat Bram dan semua kasih sayang yang diberikan oleh pria itu.


"Ta-tapi--." Clara langsung memeluk Velyn, dia mengelus rambut belakang wanita itu dan berusaha menenangkan nya.


"Sst.. Udah. Nggak perlu di lanjutin lagi. Gue tahu, gue tahu Lo nggak mau pisah dari, Kak Bram."


"Hiks.. Hiks... Gue baru ketemu sama Kak Bram hiks.. hiks... Dan sekarang, gue harus berpisah lagi sama dia." Velyn menangis dalam pelukan Clara, dia menumpahkan semua kesedihan nya. Clara melepaskan pelukannya dan menatap Velyn.


"Sekarang semuanya udah berubah, Vel. Ini kehidupan yang harus kita jalani sekarang. Kalo Lo pergi, teman gue siapa. Gue nggak punya siapa-siapa lagi selain Lo, Vel. Plis, kita berjuang sama-sama." Velyn menatap Clara, tangisannya kembali pecah mendengar ucapan Clara.


"Gue minta maaf, Ra. Gue minta maaf karena gue ngomong gitu tadi." Velyn menghapus air matanya yang membasahi pipinya. "Lo benar. Kita harus berjuang sekarang." Ucap Velyn. Clara tersenyum. "Kita jalan lagi." Ujarnya menatap Velyn. Velyn mengangguk dan tersenyum. Kedua perempuan itu kembali berjalan, menyerah dalam situasi seperti ini tidak akan ada gunanya. Di depan sana, mereka melihat seorang wanita yang berdiri dan menatap mereka. Langkah Clara dan Velyn terhenti melihat itu, wanita itu tetap menatap mereka tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Dia kemudian melangkah kan kakinya dengan perlahan, Clara dan Velyn melihat wanita itu, mereka dapat menebak siapa dia.


"OMG..!"


•••


Bersambung.