City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Penjelasan



Erica diam ketika mendengar ucapan Jessica, dia sedikit bingung dan tidak percaya dengan ucapan perempuan itu.


"What do you mean?" (Apa maksud mu?) Jawab Erica sedikit ragu.


"Hiks.. The V-virus you were working on that was ordered by Prof. Charles, it worked. And now, the Virus is spreading all over the world!" ( Hiks.. V-virus yang kau kerjakan yang diperintahkan oleh Prof. Charles, berhasil. Dan sekarang, Virus itu menyebar ke seluruh dunia!)


Dhuar..


Seperti tersambar petir, itu yang dirasakan Erica. Kaget? Shock? Sudah pasti, Erica sangat kaget dan shock mendengar ungkapan dari sahabat nya itu. Mulut Erica seakan terkunci, tidak bisa berkata apa-apa.


"3 days after you returned to Indonesia, I had time to check the state of the Lab. I was shocked when I saw the Lab door open, I hurriedly walked and entered the Lab. There I saw the Lab's condition was not normal, all the tools were scattered, the condition of the room seemed to be destroyed. I immediately went to the CCTV room." (3 hari setelah kau kembali ke Indonesia, aku sempat mengecek keadaan Lab. Aku kaget ketika melihat pintu Lab terbuka, aku buru-buru berjalan mendekat dan masuk ke Lab. Disana aku melihat kondisi Lab tidak normal, semua alat-alat berserakan, kondisi ruangan itu seakan hancur. Aku langsung pergi menuju ruangan CCTV.)


"An hour before that, Prof. enter the Lab. He took the Virus that you kept in a special place. After that, Prof. tested the Virus on a dead dog. At first everything was fine, but after a few seconds, the dog came back to life." (Satu jam sebelumnya, Prof. masuk Lab. Dia mengambil Virus yang kau simpan di tempat khusus. Setelah itu, Prof. menguji coba Virus itu pada seekor anjing yang sudah mati. Awalnya semuanya baik-baik saja, tetapi setelah beberapa detik kemudian, anjing itu hidup kembali.)


"I was shocked when I saw the dog attack and bite Prof." (Aku kaget saat melihat anjing itu menyerang dan menggigit Prof.) Erica seakan membisu mendengar penjelasan Jessica.


"Prof. went somewhere after being bitten by that dog. He wasn't in good shape, the dog bite marks probably made him that way." (Prof pergi entah kemana setelah digigit anjing itu. Kondisinya tidak baik, bekas gigitan anjing itu mungkin membuatnya menjadi seperti itu.)


"After that incident, the situation here suddenly fell apart, everyone became insane, corrupted and did as they pleased." (Setelah kejadian itu, situasi di sini tiba-tiba berantakan, semua orang menjadi tidak waras, merusak dan melakukan apa yang mereka inginkan.)


"Erica! It's not our fault, right? We're just carrying out orders from Prof., aren't we? Tell me it's not our fault!" (Erica! Itu bukan salah kita, kan? Kita hanya menjalankan perintah dari Prof., bukan? Katakan itu bukan salah kita!)


Setelah dalam diamnya, Erica akhirnya membuka suaranya. "Hmm, yeah. This is not your fault." (Hem, yah. Ini bukan salah mu.) Ucap Erica dengan nada pelan namun masih bisa didengar oleh Jessica.


"Hiks... Thank you." (Hiks... Terimakasih)


Sejenak diantara mereka berdua diam, Jessica masih belum mematikan sambungan telponnya dan begitu juga dengan Erica.


"Are you there alone?" (Apa kau sendiri di sana?) Tanya Jessica.


"No." Jawab Erica.


"Good. Come to the airport, there will be an officer sent to check the situation there." (Bagus. Datanglah ke bandara, akan ada petugas yang dikirimkan untuk mengecek keadaan di sana.) Pinta Jessica.


"Hmm."


"I await your arrival, Erica." (Aku menunggu kedatangan mu, Erica.)


TUT.... TUT....


Panggilan berakhir. Erica menurunkan tangannya, dia meremas erat ponselnya, semua penjelasan dari Jessica masih terngiang-ngiang di telinganya. Perempuan itu tidak menyangka, semuanya akan menjadi seperti ini, dia sudah kehilangan segalanya, bahkan kedua orang tuanya. Penyesalan tidak ada gunanya, semuanya telah terjadi.


"Hiks.... Hiks..... Hiks...." Erica menangis, tangisannya pecah, tidak ada yang dapat dia lakukan, jika saja dia tahu semuanya akan menjadi seperti ini, dia juga tidak akan menjalankan perintah dari Prof. nya itu.


"Hiks.... Ini semua salah gue. Hiks... Kalo aja gue tetep bersikeras untuk menantang perintah darinya, semua ini nggak akan pernah terjadi, hiks.... Hiks...." Erica kembali mengingat sewaktu dia berada di Amerika.


Flashback


"What advantage do we get if this Virus is successful?" (Keuntungan apa yang kita dapatkan jika Virus ini berhasil?) Erica berjalan di samping lelaki paruh baya dengan menggunakan jas putih yang dikenakan oleh keduanya. Berjalan di antara Mahasiswa dan Mahasiswi yang berlalu lalang melewati keduanya.


"Hahaha. I thought you wouldn't ask that." (Hahaha. Kupikir kamu tidak akan menanyakan itu.) Ucap Charles, salah satu Prof. di kampus itu.


"We've got a lot of profit. This school is going to get more and more famous." (Kita mendapat banyak keuntungan. Sekolah ini akan semakin terkenal.) Prof. Charles berhenti dan menatap Erica.


"And you? You'll be known as a great professor candidate." (Dan kamu? Kamu akan dikenal sebagai calon profesor yang hebat.) Erica diam, memang menjadi seorang profesor yang hebat dan dikenal oleh semua orang adalah impiannya. Tapi, untuk menuruti kemauan profesornya itu, masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya.


"But, Prof. Isn't this too dangerous? If this Virus is successful, we can't necessarily be sure this thing will not harm us and also for everyone." (Tapi, Prof. Bukankah ini terlalu berbahaya? Jika Virus ini berhasil, kita belum tentu bisa memastikan hal ini tidak akan merugikan untuk kita dan juga untuk semua orang.)


"I can assure you, this will not harm us. If this Virus is dangerous, I promise, I will be the first to be affected." (Saya dapat pastikan, ini tidak akan merugikan kita. Jika Virus ini berbahaya, saya berjanji, saya orang pertama yang akan terkena imbasnya.) Erica diam mendengar ucapan Charles yang tanpa ragu.


"Erica!" Ujar Charles dan menatap dalam Erica.


"You are an exemplary and smart student on this campus. I only expect your hard work to complete this work." (Kamu adalah Siswi teladan dan pintar di kampus ini. Saya hanya mengharapkan kerja kerasmu untuk menyelesaikan pekerjaan ini.)


"Believe me, nothing will happen!" (Percayalah, tidak akan terjadi apa-apa!) Charles menatap Erica dengan penuh harapan.


Dengan menghembuskan nafas berat, Erica menentukan keputusannya. "Huft.... All right, Prof. I will carry out your orders." (Huft... Baiklah, Prof. Saya akan melaksanakan perintah Anda.)


Seketika, kedua sudut bibir Charles terangkat mendengar jawaban Erica. "The right decision." (Keputusan yang tepat.) Charles mengangkat tangannya dan menepuk bahu Erica. "Everything will be fine." (Semuanya akan baik-baik saja.) Charles tersenyum, setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan Erica.


Erica masih diam, keputusan yang dia ucapkan tidak benar-benar dari hatinya. Dia menatap punggung Charles yang sudah mulai menghilang. Erica kaget ketika merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya, dia berbalik dan mendapati Jessica berada di belakangnya. Sedari tadi Jessica menyebut-nyebut namanya.


"What happened to you? Is something bothering you?" (Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu fikiran mu?) Erica mengalihkan pandangannya dari Jessica.


"I don't know. I'm a little hesitant to carry out Prof. Charles' orders." (Entahlah. Aku sedikit ragu untuk menjalankan perintah dari Prof. Charles.)


"Hahaha. Don't worry, I'll help you." (Hahaha. Jangan khawatir, aku akan membantu mu.)


Erica menoleh menatap Jessica. "You are a very understanding friend." (Kau memang sahabat yang pengertian.)


"Haha. We're family." (Haha. Kita keluarga.) Jessica merangkul bahu Erica dan berjalan meninggalkan tempat itu.


Flashback off


•••


Bersambung.