City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Kepisah Lagi!



Masih di tempat yang sama, Velyn, Clara, Chika, Edwin dan Dion masih berada di lorong jalan yang sepi itu. Mereka tidak tahu harus pergi kemana, mereka juga tidak mengetahui tempat yang mereka jalani itu. Tidak ada diantara mereka yang mengetahui dimana wilayah mereka sekarang. Mereka tetap berjalan walaupun mereka tidak tahu harus kemana mereka pergi.


"Kita mau pergi kemana sih?" Tanya Clara dan melihat tempat yang mereka lalui.


"Kita cari Kak Bram dan yang lainnya dulu." Jawab Velyn.


"Tapi dimana?"


"Emang Lo tahu tempat ini?" Clara melihat tempat mereka yang mulai gelap dan menyeramkan.


"Nggak." Jawab Velyn singkat.


"Hmph... Gue takut." Ucap Clara.


Chika yang berada di samping kiri Clara, sedangkan Velyn berada di samping kanan Clara. Clara berada di tengah-tengah antara Chika dan Velyn. Ketiga wanita itu tidak fokus berjalan, walaupun Velyn dan Chika yang nampak tidak terlalu perduli dengan jalanan yang sepi dan gelap itu, tapi mereka juga tetap takut sama seperti Clara.


Entah mereka yang kurang fokus dengan jalanan yang mereka lalui, tanpa mereka sadari, Edwin dan Dion tidak ada di depan mereka. Ketiga wanita itu masih belum menyadari hal itu, padahal Velyn berjalan dengan matanya yang menatap ke depan. Clara melihat ke kanan kiri bangunan besar yang gelap dan seram yang berada di pinggir jalan yang mereka lalui. Sedangkan Chika yang sesekali melirik ke samping kirinya.


Velyn mulai tersadar dengan apa yang dia lihat ke depan, tidak ada Edwin dan Dion di depan mereka. Velyn berhenti yang membuat Clara dan Chika ikut berhenti. Mereka berdua menatap Velyn dengan bingung. Velyn melihat ke depan dan ke belakang.


"Lo kenapa?" Tanya Clara bingung.


"Kenapa tiba-tiba berhenti gitu?" Sambung nya.


"Hm... Edwin sama Dion mana?" Tanya Velyn sambil melihat sekitarnya.


"Hah?" Clara dan Chika melihat ke depan dan ke belakang. Dan benar saja, Edwin dan Dion tidak ikut bersama mereka.


"Mereka kemana?" Tanya Clara khawatir. Clara tidak khawatir dengan keadaan Edwin dan Dion, yang dia khawatirkan adalah bagaimana nasib mereka sekarang. Mereka bertiga perempuan, kalo nanti para Zombie itu tiba-tiba datang dan menemukan keberadaan mereka, bagaimana caranya mereka akan menghadapi Zombie itu.


"Gimana caranya mereka tiba-tiba hilang? Padahal kan dari tadi mereka ada di depan kita." Ucap Chika bingung.


"Mungkin aja kita nggak sadar kalo Edwin dan Dion memilih jalan membelok tadi." Ujar Velyn.


"Terus... Sekarang gimana dong?" Tanya Clara ketakutan.


"Kita kepisah dari Erica. Terus, sekarang kita kepisah juga dari Edwin dan Dion." Ucap Clara mengeluh.


"Kalian ada bawa HP?" Tanya Chika pada Velyn dan Clara. Clara dan Velyn menoleh menatap Chika.


"Gue, nggak." Jawab Velyn.


"Gue bawa. Tapi baterai nya tinggal dikit." Ucap Clara.


"Mana?" Tanya Chika dan menyodorkan tangannya. Clara mengambil handphone nya yang berada di dalam saku celana belakang nya dan memberikannya pada Chika. Chika menghidupkan handphone Clara lalu membuka aplikasi Google Maps. Dia mengetik berapa jauh jarak mereka dengan Ibukota sekarang. Chika kaget ketika melihat keberadaan mereka sekarang.


"Oh.. God." Ucap Chika tak percaya. Clara dan Velyn bingung dan mendekati Chika. Mereka melihat layar ponsel Clara.


"Kenapa?" Tanya Clara dan melihat layar ponselnya.


"Astaga.." Ucap Velyn shock.


"Jauh banget."


"Kenapa kita bisa sampai sejauh ini?" Tanya Clara heran.


"Mungkin karena panik tadi makanya kita nggak sadar kalo kita berlari sampai sejauh ini." Jelas Chika.


•••


Edwin dan Dion terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, mereka tidak mempertanyakan kesunyian yang ada di belakang mereka. Tidak ada langkah kaki yang terdengar dari belakang mereka.


"Lo tahu nggak kita ada dimana sekarang?" Tanya Edwin pada Dion.


"Gimana kita bisa cari Richo dan yang lainnya? Kalo wilayah ini aja kita nggak tahu dimana." Jelas Edwin. Dion hanya diam mendengar Edwin.


"Chika, lo tahu nggak kita sekarang dimana?" Tanya Edwin sambil berjalan tanpa menoleh ke belakang. "Woi... Chika. Lo dengar gue nggak?" Ucap Edwin.


"Ck. Woi, Chik---." Karena tidak ada jawaban dari belakang, Edwin berbalik melihat Chika. Dia kaget ketika tidak ada orang sama sekali di belakang mereka.


"Chika mana?" Tanya Edwin bingung.


"Woi... Chika..!" Teriaknya menatap ke depan. Dion berbalik karena mendengar teriakan Edwin.


"Win. Lo jangan teriak-teriak!"


"Kalo Zombie itu dengar terus tangkap kita gimana?" Ucap Dion.


Edwin menoleh dan menatap Dion. "Chika, Ion. Chika nggak ikut sama kita." Ucap Edwin khawatir.


"Yaelah... Nggak papa kali. Paling juga mereka pergi entah kemana. Santai aja." Ucap Dion tak peduli.


Edwin kaget dengan ucapan Dion. "Lo bilang apa tadi? Santai aja?" Edwin berjalan mendekati Dion dan menarik kerah baju lelaki itu.


"Asal lo tahu, Ion. Mereka itu perempuan, kalo nanti terjadi apa-apa sama mereka gimana? Hah...!" Ucap Edwin dengan emosi. Dion mendorong Edwin sampai Edwin terdorong kebelakang.


"Mau mereka perempuan kek. Gue nggak peduli." Tutur Dion.


"Lo..." Geram Edwin.


'Bugh'


Satu pukulan dari Edwin mendarat di pipi Dion. Dion sedikit terdorong mendapat pukulan dari Edwin.


"Lo egois...!" Ucap Edwin. Dion menatap Edwin dan berjalan mendekati pria itu, dia menarik kerah baju Edwin dan ingin membalas pukulan Edwin. Tiba-tiba saja, suara seperti barang jatuh terdengar dari arah belakang. Edwin dan Dion menoleh ke belakang secara bersamaan. Dion melepas tangannya yang memegang kerah baju Edwin. Dia berjalan secara perlahan mendekati suara itu.


"Ergh..." Seorang laki-laki berjalan dengan lesu dan menabrak benda-benda yang ada di depannya. Laki-laki itu berjalan dengan keadaan menunduk. Edwin dan Dion kaget melihat laki-laki itu. Mungkin akibat keributan mereka tadi yang memancing Zombie laki-laki itu datang menghampiri mereka. Zombie itu masih berjalan sambil menunduk. Edwin langsung menarik Dion yang bengong melihat Zombie yang berjalan menghampiri mereka. Mereka bersembunyi di gang kecil yang dekat dengan mereka tadi.


•••


Erica, Jeje, Bram, Gary, Richo dan Jack masih mencari keberadaan Velyn. Mereka berjalan dengan mengawasi jalanan mereka.



Walau tempat mereka tampak sepi, tapi belum dapat dipastikan tempat itu aman untuk mereka jalani. Erica berjalan dan memegang erat tangan Jeje. Bram dan Richo berjalan di depan, Jack dan Gary berada di belakang, sedangkan Erica dan Jeje berada di tengah-tengah.


"Kemana kita harus cari Velyn lagi?" Tanya Bram frustasi. "Huft..."


"Mending kita duduk dulu. Dari tadi kan kita jalan terus." Usul Gary. Bram, Erica, Gary, Jeje, Richo dan Jack berjalan ke pinggir dan duduk di pinggiran jalan.


"Velyn..."


"Kamu kemana dek..?" Bram frustasi benar-benar frustasi. Erica, Gary, Richo dan Jack dapat melihat Bram yang sangat-sangat khawatir dengan keadaan Velyn. "Arggh...." Bram meremas erat rambutnya, dia menutup wajahnya dan menangis. Erica, Richo dan Jack kaget melihat Bram menangis. Gary? Dia sudah tahu seberapa sayang Bram pada Velyn. Erica melihat Bram yang menangis. Sangat jarang laki-laki menangis karena tidak bertemu dengan Adiknya.


"Sabar, bro. Kita pasti bisa ketemu Velyn dan yang lain."


"Yang penting sekarang kita harus tetap berusaha dan jangan menyerah. Percaya sama takdir Tuhan." Ucap Gary dan mengelus pundak belakang Bram. Bram sedikit tenang mendengar ucapan Gary.


"Iya. Lo benar." Ujar Bram dan menghapus air matanya.


•••


Bersambung.