City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Pergi untuk Selamanya



Erica menangis tersedu-sedu mengingat semuanya, semua ini terjadi karena dirinya, kehancuran, kematian, kerusakan terjadi akibat keberhasilan dari hasil yang dia kerjakan.


"Hiks... Hiks... Pah, Mah, hiks.... Maafin, Erica. Maafin, Erica." Ucapnya menangis mengingat kedua orang tuanya. Erica menegakkan tubuhnya dan mencoba menenangkan dirinya, semua yang terjadi ini juga bukan karena keinginannya.


"BAJINGAN!!"


'Bugh!'


Suara kekerasan terdengar di telinga Erica, Erica kaget dan melihat ke arah Bram dan Jeje.


"Kak Gary?" Ucapnya melihat Gary yang terduduk di aspal sambil memegangi pipinya.


"Astaga!" Erica langsung berlari melihat Bram yang ingin memukul Gary kembali. Jeje yang melihat itu takut dan sedikit menyingkir.


"Kak! Stop, Kak! Stop!!" Erica menarik tubuh Bram yang memegang kerah baju Gary. Gary tidak melawan sedikit pun, dia hanya diam disaat Bram ingin memukulnya kembali.


"LO BAJINGAN, GAR!!" Teriak Bram yang ingin memukul Gary. Erica langsung menahan Bram dan sedikit menarik tubuh pria itu menjauh dari Gary.


"Kakak kenapa, sih?! Ada apa? Kenapa Kakak mukul, Kak Gary?!" Erica melihat Bram yang dipenuhi dengan emosi, wajah pria itu sampai memerah melihat Gary.


"DIA!!" Tunjuk Bram dengan suara serak nya.


"DIA UDAH NINGGALIN VELYN! Hiks.. Hiks..." Bram tidak dapat menahan air matanya, dia menangis frustasi.


"Apa?!" Erica kaget dan melihat Gary yang diam dan tertunduk.


"Kak!" Ucapnya dengan lirih, Gary mendongak melihat Erica.


"Apa benar?"


Gary menggeleng. "Gue nggak sengaja! Gue nggak sengaja! Hiks..." Ucapnya menangis.


"BOHONG!"


'Bugh'


Satu pukulan lagi mendarat di pipi Gary. "Kenapa Lo lakuin ini, Gar? Kenapa? Hiks... Lo tahu kan gue sayang banget sama Velyn. Hiks... Lo tahu itu. Kenapa Lo lakuin ini, hiks...?!"


"Gue benar-benar nggak ada niat buat ninggalin Velyn, Bram. Gue juga mau Velyn bisa berkumpul lagi sama kita. Tapi, Tuhan berkata lain. Gue tahu Lo sayang sama Velyn. Gue nggak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Hiks... Gue minta maaf, Bram. Hiks.. Gue minta maaf. Kalo ditanya, gue juga nggak mau Velyn pergi."


"Hiks... Hiks... Velyn! Hiks.." Bram terduduk dan menutup wajahnya. Satu-satunya Adik yang sangat dia sayang pergi. "Hiks... Gue nggak guna! Hiks... Gue nggak bisa jaga Velyn, hiks... Bodoh! Bodoh!" Bram memukul-mukul kepalanya karena menganggap tidak bisa menjaga Velyn. Dia mengira dirinya tidak becus sebagai saudara.


"Bram."


"Kak!" Erica berjongkok di depan Bram, dia menatap sendu lelaki yang menangis di hadapannya.


"Kak, udah." Erica memegang kedua tangan Bram. Bram masih tetap menangis dan tidak menatap Erica.


"Kak!" Ucapnya dan memegang kedua pipi Bram.


"Erica tahu, Kakak sayang sama Velyn. Tapi, nggak gini caranya. Kak Gary juga mungkin udah berusaha buat nyelamatin Velyn. Hidup kita udah di atur sama Tuhan. Ingat, Kak. Velyn juga nggak mau lihat Kakak kayak gini. Dia pasti sedih kalo lihat Kakak lemah. Dalam situasi seperti ini, kita nggak bisa berbuat apa-apa. Kita hanya bisa melepaskan dan mengikhlaskan." Bram menatap mata Erica yang tersenyum dan berbicara tulus padanya.


"Kita berjuang sama-sama." Bukannya membalas, Bram malah kembali menangis dan menunduk. Erica menarik kepala Bram dan memeluknya, dia mengelus lembut punggung pria itu.


"Menangis lah, Kak." Bram memeluk erat tubuh Erica, dia memecahkan tangisannya di dalam pelukan wanita itu. Gary yang memerhatikan mereka berdua antara senang dan sedih, senang karena melihat Bram bersama Erica, sedih karena tidak bisa menyelamatkan Velyn.


Erica senantiasa mengelus punggung dan kepala Bram, merasa lebih baik, dia melepas pelukannya dan menatap Bram. "Kakak jangan sedih lagi." Ucapnya menyeka air mata yang membasahi pipi Bram. Bram menatap Erica dengan sesenggukan. Dia sangat ingin memeluk Erica kembali, rasanya tenang dan nyaman.


"Ma-makasih." Ucapnya tersenyum, Erica kembali membalas Bram dengan senyuman.


"Bram!" Gary berdiri di belakang Erica sambil tertunduk, Erica berbalik dan berdiri. Bram melihat Gary dan ikut berdiri.


"G-gue minta maaf hiks... Gue benar-benar nggak sengaja, Bram, hiks..." Bram berjalan mendekati Gary, dia menarik tengkuk pria itu dan memeluknya.


"Gue minta maaf. Gue minta maaf karena sempat emosi tadi." Ucapnya dan melepas pelukannya.


"L-lo, Lo maafin gue?" Bram mengangguk menjawab Gary.


"Makasih, Bram." Gary senang dan memeluk Bram.


"Udah. Udah, jangan peluk-peluk." Ucap Bram melepas tangan Gary.


"Haha. Sorry."


Erica ikut bahagia melihat Bram dan Gary yang kembali akur. Dia berjalan mendekati kedua lelaki itu.


"Nah, gini kan enak." Ucapnya menatap Gary dan Bram secara bergantian.


"Pokoknya, kita harus tetap bersama-sama. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersatu."


"Pasti." Jawab Gary mengacungkan jempolnya. Seketika suasana di sana diiringi dengan tawa kecil.


"Kakak!" Erica, Bram, dan Gary melihat Jeje sedikit jauh dari mereka. Mereka hampir melupakan anak kecil yang bersama mereka.


"Eoh? Jeje! Jeje kenapa di situ, Sayang? Sini." Jeje menggeleng ketakutan. Dia melihat Bram dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jeje takut."


"Hem?" Erica, Bram, Gary bingung mendengar Jeje.


"Dia takut sama gue?"


"Hah? Jeje takut sama, Kak Bram?" Tanya Erica pada Jeje. Jeje menggeleng.


"Terus, Jeje takut apa, Sayang?" Erica tambah bingung melihat Tingkah Anak itu.


"I-itu." Jeje menunjuk ke suatu tempat yang tidak jauh dari mereka. Erica, Gary, dan Bram melihat yang di tunjuk Jeje secara bersamaan.


"Oh, my God!" Mereka kaget ketika melihat beberapa Zombie yang berdiri dan menatap mereka. Zombie itu mulai berjalan secara perlahan mendekati mereka. Erica melihat Jeje, dia langsung mendekati Jeje dan menggendong tubuh Anak itu. Gary dan Bram mundur perlahan. Salah satu Zombie yang berada di belakang berlari melewati beberapa Zombie yang masih berjalan, dia tidak mau kehilangan kesempatan.


"Woargh..!!" Teriaknya yang berada tepat di depan Gary dan Bram. Kedua lelaki itu langsung menahan Zombie itu. Walau Zombie yang mereka hadapi hanya satu, tapi itu cukup sulit untuk mereka menahan Zombie itu. Erica melihat Bram dan Gary yang berusaha menahan Zombie itu, dia memeluk erat tubuh Jeje yang berada di gendongannya. Jeje memeluk leher Erica dan tidak sanggup melihat para Zombie yang mendekati mereka.


"Ergh.. Zombie, sialan!" Umpat Gary.


Bram melihat ke depan, para Zombie lainnya hampir mendekati mereka. Bram kemudian melihat sekelilingnya, mencari alat bantu untuk memudahkan menahan para Zombie.


Di waktu yang bersamaan, sebuah pentungan tergeletak di dekat kaki Bram. Bram sedikit berjalan dan mengambil pentungan itu. "Let's play, Honey." Ucapnya dan berjalan ke depan. Bram memulai aksinya, memukul para Zombie yang mendekati mereka. Beruntung para Zombie itu sedikit lemot sehingga Bram tidak terlalu susah untuk menahan mereka. "Cukup mudah." Ucap Bram dan kembali menyerang para Zombie.


"Argh... Lo makhluk terjelek yang pernah gue temui!" Kesal Gary melihat Zombie yang tetap melawan.


Bram memukuli para Zombie itu tanpa henti, dia meluapkan kemarahannya pada Zombie itu. Erica melihat Bram dan Gary yang bertarung melawan para Zombie, tidak adil baginya jika hanya berdiam diri. Erica melihat Gary yang kesusahan menahan satu Zombie yang berusaha menggigit pria itu. Dia menurunkan Jeje dan berniat membantu Gary.


"Sayang! Jeje tunggu di sini bentar, yah. Jangan pergi, oke." Jeje hanya mengangguk melihat Erica. Erica mulai berjalan mendekati Gary, Gary yang tetap menahan Zombie melihat sekilas Erica yang berjalan mendekatinya. Dia bingung dengan perempuan itu.


"Lo mau ngapain?!" Teriak Gary tanpa melihat Erica. Bram yang mendengar itu melihat sekilas dan kembali memukul para Zombie.


"G-gue--."


"AAKHH...!!!" Kesialan menimpa Gary, entah dia yang kurang fokus, satu gigitan Zombie itu mendarat di tangannya. Bram dan Erica kaget. "Akh..!" Gary menarik rambut Zombie itu dan melepas gigitan monster itu.


"Gar..!" Lirih Bram. Gary tetap menahan Zombie yang ingin menggigitnya kembali. Melihat para Zombie yang sudah mulai lengah, Bram berjalan mendekati Gary.


"Gar!" Ucap Bram dan membantu Gary menahan Zombie itu.


"Hah...! Hah...!" Keringat mulai bercucuran dari sekujur tubuh Gary. Bram melihat tangan Gary yang di gigit oleh Zombie itu.


"Hah..! Bram!" Ucap Gary. Bram melihat Gary yang bernafas terengah-engah.


"Hah...! Lo, hah..! Lo mending pergi, Bram!" Pinta Gary.


"Emh.. Hah...! Bawa Erica sama Jeje." Ucapnya yang mulai lemah.


"Tap-tapi--."


"Please, Bram! Gue mohon, gue udah nggak kuat."


"Hah...! Gue minta maaf sama Lo. Mungkin ini balasan buat gue karena nggak bisa jaga Velyn dan ninggalin dia." Bram menggeleng dan ingin menangis.


"Pergi, Bram. Gua benar-benar udah nggak kuat lagi."


"Tapi--."


"PERGI, BRAM..!!" Bram berbalik melihat Erica yang menangis menatap mereka, dia kembali melihat Gary yang berada di sampingnya.


"G-gue, gue minta maaf, Gar. Hiks... Gue minta maaf." Bram berbalik dan berlari menghampiri Erica. "Ayo kita pergi!" Bram langsung menggendong Jeje, Erica masih menangis dan diam melihat Gary. "Ayo, Ric!!" Ucap Bram melihat Erica yang diam.


"T-tapi, Kak Gary--." Bram langsung memegang tangan Erica dan menarik paksa perempuan itu.


"Kita harus pergi..!" Erica menangis dan tidak rela meninggalkan Gary. Bram menatap Gary yang masih berjuang, dia langsung menarik Erica dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.


Gary masih menahan Zombie itu, keringat bercucuran dari tubuhnya, dia merasa lemas, dia juga merasakan sedikit aneh pada dirinya. Tidak lama kemudian mata Gary berubah, urat di kepalanya muncul dan terlihat jelas.


"Arkh...!!" Gary melepaskan Zombie itu, para Zombie tadi berlari mengejar Erica dan Bram.


Bram dan Erica berlari dari tempat itu, entah siapa lagi di antara mereka yang akan menyusul kawanan mereka yang sudah bagian dari para Zombie.


"Maafin gue, Gar. Maafin gue. Lo sahabat terbaik yang pernah gue temui." Batin Bram yang terus menumpahkan air matanya.


Bram dan Erica berhenti ketika melihat beberapa Zombie yang berada di depan mereka. Entah ini jawaban dari perjuangan mereka selama ini. Bram menghembuskan nafas lelah, dan menurunkan Jeje.


"Tunggu di sini." Ucap Bram melihat Erica. para Zombie itu langsung berlari melihat ketiga manusia yang berdiri menatap mereka. Bram langsung maju dan menghalang Zombie itu dengan tangannya sendiri. Erica menangis, dia memegang erat Jeje dan melihat ke belakang. Para Zombie yang mengejar mereka tadi sudah terlihat, Erica melihat sekeliling, terdapat satu mobil dengan pintu terbuka tidak jauh dari mereka. Erica dapat melihat kunci mobil itu berada di tempatnya. Dia kemudian melihat Bram yang sudah mulai lelah melawan para Zombie.


"Kak..!!" Panggil Erica. Bram melihat Erica sekilas.


"Ayo kita pergi..! Ada satu mobil yang bisa kita pakai..!!" Bram kembali melihat Erica, dia kaget ketika melihat salah satu Zombie tepat berada di belakang Erica.


"ERICA, AWAS...!!" Teriak Bram. Erica berbalik, karena kaget dan tidak sempat menghindar, Zombie itu berhasil mengigit tangan Erica.


"Akhh!!" Teriaknya.


"Erica!" Lirih Bram.


Erica mendorong kasar Zombie itu hingga terjatuh dan gigitan terlepas, dia melihat sekeliling, akan ada lebih banyak lagi Zombie yang akan datang menghampiri mereka. Erica berlari menuju mobil, dia memasuki mobil itu dan menghidupkan mesinnya. Erica kemudian menjalankan mobil itu mendekati Bram. Bram melihat mobil yang di kendarai Erica berhenti di dekat mereka.


"Cepat, masuk!!" Pinta Erica. Bram langsung menggendong tubuh Jeje dan masuk kedalam mobil. Erica langsung menginjak gas mobil itu dan pergi dari tempat itu. Para Zombie itu masih tetap mengejar mereka, mereka berlari di belakang mobil yang di tumpangi oleh Erica. Semakin Erica menempuh jalan jauh, semakin para Zombie bertambah mengejar mereka. Para Zombie itu sekarang bukan puluhan, bahkan ratusan.


"Hah..!! Hah..." Bram melihat Erica yang berkeringat dan tetap fokus menjalankan mobil itu. Dia melihat tangan Erica yang berdarah akibat gigitan Zombie tadi. Bram menahan air matanya, entah bagaimana kelanjutan dari perjalanan mereka sekarang. Erica mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata, dia melihat kaca spion, para Zombie tadi sudah tidak terlihat di belakang. Erica meminggirkan mobil itu, tempat mereka sepi dan tidak ada Zombie satu pun. Bram dan Jeje melihat Erica yang mulai lemas. Sedari tadi Jeje menangis melihat Erica yang digigit oleh Zombie tadi. Erica sedikit memiringkan tubuhnya dan menatap Bram.


"Hah..! Hah.. Kak, ambil alih kemudi." Ucap Erica melihat Bram.


"Pergilah ke bandara, hah..! Hah.. Akan ada petugas yang dikirimkan untuk memantau keadaan kota ini. Mungkin, hah...! Mungkin aku udah nggak bisa ikut bersama kalian lagi." Ucap Erica, Bram hanya menangis dan tidak menjawab Erica.


"Jeje! Sayang, ikutlah bersama, Kak Bram, hah..! Kakak sangat menyayangi mu, hah..! Hah..! Kakak sangat menyayangi mu, Sayang." Erica mengelus lembut kepala Jeje dan kembali menatap Bram.


"Kak! Aku, hah.. Aku titip Jeje. Tolong jaga dia baik-baik."


"Erica!" Lirih Bram menangis.


"Kakak!" Jeje memegang erat tangan baju Erica dan menahan perempuan itu.


"Jangan pergi! Hiks... Kau sudah berjanji akan terus bersama ku, hiks... Jangan pergi, ikutlah bersama kami, Kak! Hiks...." Jeje menangis tersedu-sedu dan tidak melepas tangannya. Erica melihat Jeje, dia menggeleng dan memegang tangan mungil Jeje yang memegang bajunya. "Hiks...! Hiks..." Erica perlahan-lahan melepas tangan Jeje dan keluar dari mobil itu, dia menutup pintu mobil itu dan berlari pergi dari sana.


"ERICA!"


"KAKAK..!!" Jeje menangis keras, dia memberontak dari Bram dan ingin menyusul Erica.


"Kakak! Hiks...! Hiks..!" Bram memeluk erat tubuh Jeje, mereka melihat Erica yang sudah mulai menghilang.


Erica berlari sambil menangis, berlari sendiri menyusuri jalanan yang tampak sepi. Erica berhenti tepat di bawah pohon yang lumayan besar. Dia menyandarkan tubuhnya dan menangis mengingat semuanya. "Hiks...! Hiks..! Kakak minta maaf. Kakak minta maaf..! Hiks..!" Ucapnya sambil menunduk, seketika Erica mengingat semua kenangannya, mulai bersama keluarganya dan awal pertemuannya dengan Jeje. "Hiks... Hiks..!"


Tiba-tiba saja Erica diam, Virus dari Zombie tadi sudah mulai menyebar di seluruh tubuhnya. Dia mendongak, matanya berubah, keringat bercucuran, dan urat yang terlihat jelas di sekitar kepala dan lehernya.


"Ergh...!" Erica berlari meninggalkan tempat itu.


***


Bram mengendarai mobil sambil terdiam, Jeje duduk dan terus menangis. Seperti yang dikatakan Erica tadi, Bram menjalankan mobil itu menuju bandara.


Skip


30 menit kemudian, para petugas yang ada di bandara melihat sebuah mobil yang berhenti di sekitar wilayah itu. Mereka langsung menyiapkan senjata mereka dan menatap intens mobil itu.


"Can Zombies drive cars?" (Apa Zombie bisa mengendarai mobil?) Ucap salah satu petugas kepada petugas lainnya


Beberapa detik kemudian Bram dan Jeje keluar, kepala dari petugas itu mengangkat tangannya, para petugas lainnya menurunkan senjata mereka.


"Some are still alive!" (Ada yang masih hidup!)


Beberapa petugas langsung menghampiri Jeje dan Bram, mereka membantu Bram yang mulai lemas dan mengambil alih Jeje dari Bram.


Setiap langkah penuh penyiksaan, setiap waktu penuh penderitaan, dan inilah jawaban dari perjalanan mereka. Entah itu karma bagi Erica, yang pasti dia ikut merasakan akibat dari perbuatannya.


•••


Tamat...


.


Hehehe 😁, Sorry kalo singkat.


.


See you 😘👋