
Bram, Erica, Gary, Jeje, Richo, dan Jack berdiri dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Mereka juga sebenernya bingung kemana mereka harus mencari Velyn dan yang lainnya. Tapi jika mereka hanya diam saja dan tidak berusaha, itu lebih memungkinkan bagi mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan Velyn. Mereka berjalan dengan hati-hati dan penuh rasa kekhawatiran dan kepanikan. Erica berjalan sambil memegang tangan Jeje dan memainkan ponselnya.
Cukup jauh mereka berjalan, tapi belum ada tanda-tanda mereka menemukan keberadaan Velyn. Beruntung, mereka mengetahui lokasi yang mereka tempati sekarang, jadi mereka bisa lebih mudah memilih jalan untuk mereka lalui dan tidak tersesat.
•••
Velyn, Clara dan Chika berjalan dengan bantuan petunjuk dari handphone Clara. Mereka berjalan dengan rasa ketakutan, terutama Clara. Clara tetap berada di tengah-tengah Velyn dan Chika. Chika yang memegang handphone Clara menuntun kedua wanita itu berjalan.
"Masih jauh nggak?" Tanya Clara yang memegang tangan baju Velyn. Chika mengangguk namun tetap melihat layar ponsel Clara sambil berjalan.
"Huh.."
"Capek." Ucap Clara.
Chika mengalihkan pandangannya dari handphone Clara dan menatap ke depan. Dia melihat perempatan jalan di depan mereka.
"Kita ambil jalan pintas aja biar cepat." Usul Chika.
"Jalan pintas?" Tanya Clara. Chika mengangguk melihat Clara dan Velyn.
"Supaya kita lebih cepat sampe di tempat tujuan kita." Jawab Chika.
"Terus kita lewat mana?" Tanya Velyn dan melihat jalanan yang ada di depan mereka.
"Kita lewat jalan kanan." Jawab Chika dan melihat ponsel Clara sekilas. Clara dan Velyn melihat jalan yang membelok ke arah kanan yang dikatakan Chika.
"Apakah aman?" Tanya Clara ragu.
"Kalo itu gue nggak tahu." Jawab Chika.
"Tinggal yang gue lihat di peta ini, kalo kita lewat situ, kita lebih cepat sampai nya." Sambung nya.
Clara dan Velyn menyetujui perkataan Chika. Ketiga wanita itu berjalan menuju jalan yang membelok ke arah kanan.
•••
Di sisi Edwin dan Dion.
Mereka masih bersembunyi di dekat bangunan yang ada di pinggir jalanan itu. Edwin sesekali mengintip Zombie itu yang berjalan dengan lesu dan terus menunduk. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding bangunan dan menghembuskan nafasnya.
"Mungkin kita harus balik ke belakang." Ucap Edwin tanpa menatap Dion. Dion kaget dengan ucapan Edwin dan menatap pria itu.
"Lo gila!"
Edwin menegakkan tubuhnya dan menatap Dion. "Chika, Clara, Velyn ada di belakang."
"Mereka perempuan. Apa lo tega ninggalin mereka sendiri disana? Kalo terjadi apa-apa sama mereka gimana?" Tanya Edwin sedikit kesal pada Dion.
"Ck." Dion berdecak kesal dan mengalihkan pandangannya dari Edwin.
Edwin menatap dinding yang ada di depannya. "Kalo Lo nggak mau, biar gue sendiri aja yang pergi nemuin mereka." Dion yang mendengar Edwin langsung menatap pria itu. Edwin sekali lagi mengintip Zombie itu, Zombie itu sudah mulai mendekati Edwin dan juga Dion.
"Oke. Cuman satu, nggak masalah." Ucap Edwin dan memegang tongkat nya. Zombie itu sekarang tepat berada di samping Edwin dan Dion. "Let's go." Edwin berdiri dan keluar dari persembunyiannya, dia sekarang tepat berada di depan Zombie itu. Zombie itu mendongak dan menatap Edwin, dia membuka mulutnya dan hendak memakan Edwin. Dengan cepat, Edwin langsung memukul kepala Zombie itu dengan keras hingga terjatuh. Zombie itu sedikit bergerak-gerak di atas jalanan aspal.
Edwin melihat Zombie itu yang mulai diam dan tidak bergerak sama sekali. "Terlalu mudah." Ucap Edwin. Edwin mendongak dan melihat Dion yang menatap nya. Dia tersenyum menyeringai lalu berjalan meninggalkan Dion. Dion melihat Edwin yang berjalan ke arah belakang.
"Ck. Sial..." Tidak punya pilihan, Dion berdiri dan berjalan menghampiri Edwin.
•••
Sudah dua jam selama perjalanan, namun Erica dan Bram masih belum menemukan Velyn. Lelah berjalan, mereka duduk di pinggiran jalan yang sepi dan tidak terlalu gelap. Erica masih tetap memainkan ponsel nya. Bram menutup wajahnya dan kembali menangis, dia benar-benar takut tidak akan pernah bertemu dengan Velyn lagi. Gary hanya bisa menatap sendu Bram, Richo dan Jack yang juga bersedih karena terpisah dengan teman-teman mereka yang lain. Jeje yang duduk di samping Erica berdiri dan berjalan menghampiri Bram yang tetap menangis. Sedari tadi bocah lelaki itu melihat Bram yang frustasi. Erica melihat Jeje yang berjalan menghampiri Bram, mereka bingung dengan tingkah anak kecil itu.
Jeje sampai di depan Bram, dia melihat Bram yang terus menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kakak..." Ucap Jeje dan memegang kedua tangan Bram. Bram menurunkan tangannya dan melihat Jeje yang berada tepat di depannya.
"Kakak nggak boleh nangis." Ucap Jeje dengan wajah imutnya.
"Kata, Mamah. Kalo kita nangis, itu tandanya kita cengeng." Bram menatap wajah imut Jeje yang berbicara padanya.
"Kakak jangan nangis lagi. Jeje aja ditinggal Mamah nggak nangis." Ucap nya sambil menggeleng. Jeje menghapus air mata Bram yang membasahi pipi pria itu dengan tangan mungilnya. Bram memegang tangan Jeje yang begitu kecil baginya dan menggenggam nya. Satu tangannya mengelus lembut rambut Jeje sambil tersenyum. Anak kecil yang berusia 2 tahunan mampu membuatnya tersenyum.
Gary, Erica, Richo dan Jack yang melihat itu tersenyum haru dan lega karena melihat Bram yang tersenyum. Mereka sedikit tenang karena adanya Jeje yang dapat menghibur Bram.
•••
Edwin dan Dion berjalan ke belakang guna mencari Chika, Velyn, dan Clara. Edwin sesekali memanggil nama Chika, dia juga memeriksa tempat-tempat sempit untuk memastikan adanya Chika atau tidak. Sedangkan Dion, dia hanya berjalan malas dan tidak memperdulikan kehilangan ketiga perempuan itu. Entah apa yang membuat Dion menjadi berubah seperti ini, padahal Chika adalah teman satu sekolahnya, tapi sedikitpun dia tidak mengkhawatirkan bagaimana keadaan Chika sekarang. Berbeda dengan Edwin yang khawatir dengan kondisi ketiga wanita itu sekarang, walaupun dia baru mengenal Clara dan Velyn, tapi dia sudah menganggap Clara dan Velyn seperti temannya sendiri.
Edwin dan Dion sampai di perempatan jalan yang sempat di lalui Chika, Clara, dan Velyn tadi. Mereka bingung jalan mana yang harus mereka pilih. Lurus, belok kanan, atau belok kiri? Edwin yakin, Chika, Clara dan Velyn memilih salah satu jalan antara jalan yang membelok ke kanan dan jalan yang membelok ke kiri. Karena jika Chika, Clara, dan Velyn memilih jalan lurus, tidak mungkin selama perjalanan tadi mereka tidak bertemu dengan ketiga wanita itu.
•••
Bersambung.