
Ketiga perempuan itu masih memeluk Erica, Erica yang sudah mulai risih dan tidak nyaman sedikit menggerakkan tubuhnya.
"Ehm... Pelukannya bisa dilepas nggak? Gue pengap."
Velyn, Chika dan Clara tersadar, mereka segera melepas pelukan mereka dari Erica. "Hehehe.. Sorry." Ucap Clara cengengesan. Erica tersenyum tipis menanggapi Clara. Dia melihat Jeje yang tertidur dalam pangkuannya. Erica kembali mengelus lembut rambut Jeje, sungguh imut dan menggemaskan. Kejahilan Erica yang membuat Jeje sedikit terganggu, dia menoel-noel pipi gembul anak itu yang membuat Jeje terganggu dan menggeliat. Erica terkekeh geli melihat Jeje. Chika, Velyn, Clara juga terkekeh melihat itu.
"Lo suka banget yah sama anak kecil?" Erica yang fokus pada Jeje langsung melihat Clara yang bertanya padanya. Pertanyaan Clara itu sedikit membuat Erica tersinggung, bukan apa-apa, tapi kenyataannya dia tidak terlalu suka dengan anak kecil. Erica tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaan Clara. Dia kembali fokus mengelus kepala Jeje.
"Weh, Bro. Lo masih sekolah?" Tanya Gary pada Richo.
" Masih, Kak." Jawab Richo.
"Lo sekolah dimana?"
"Universitas Gunadarma."
"Oh.." Gary mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lo ambil jurusan apa?" Sambung nya.
"Fakultas Ekonomi, Kak."
"Oh"
"Lo satu sekolah sama itu?" Tanya Gary menunjuk keempat perempuan yang tengah duduk dan sesekali tertawa.
"Siapa?" Ucap Richo bingung.
"Itu. Yang nenangin Lo waktu nangis tadi."
Mendengar itu, Richo sudah tahu siapa orang yang dimaksud Gary, dia sedikit malu mengingat dirinya nangis dan dipeluk oleh Chika.
"Iya, Kak." Jawab Richo dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalo dilihat-lihat kalian cocok juga yah." Ucap Gary berhasil membuat pipi Richo memerah. Richo memang pernah sempat naksir ke Chika, karena pertemanan mereka yang bisa dikatakan sangat dekat dan lumayan lama. Chika dan Richo sudah saling kenal sejak mereka duduk di bangku SMA dan bahkan satu kelas. Diwaktu Richo mendaftar di kampusnya, Chika juga mendaftar di kampus yang sama dengan Richo, awalnya keduanya saling kaget, seperti pertemuan mereka yang sudah di rencanakan. Namun pada akhirnya mereka sepakat untuk mengambil jurusan yang sama.
Richo masih terdiam mendengar ucapan Gary tadi, dia masih enggan untuk melihat lelaki itu.
Gary yang melihat Richo menunduk dan sesekali tersenyum bingung akan hal itu. Dia berfikiran bahwa lelaki yang di sampingnya itu sudah gila.
"Woy. Lo kenapa?" Tanya Gary yang masih melihat Richo. Richo mendongak dan menoleh menatap Gary. "Ah. Nggak kok, Kak." Jawab Richo menormalkan dirinya. Gary masih sedikit bingung dengan tingkah Richo, dia beralih melihat Bram yang sedari tadi tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Gary melihat Bram yang sesekali tersenyum melihat Velyn dan yang lain. Gary bingung dengan tingkah kedua lelaki yang berada di samping kanan dan kirinya. Dia berfikir bahwa kedua lelaki itu sudah benar-benar gila dan tidak waras. Gary akhirnya mengikuti arah mata Bram yang melihat ke empat wanita itu. Sangat jelas Bram melihat Erica yang terus menganggu Jeje dan sesekali tersenyum dan tertawa.
Gary melihat Bram yang terus memandangi Erica. Dia tersenyum dan terkekeh geli melihat lelaki itu. "Kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih." Ucap Gary dan menyadarkan Bram. Richo yang mendengar itu langsung melihat Gary.
"Di lihatin terus, yah?" Ejek Gary pada Bram.
"Apaan sih." Ucap Bram.
"Yee... Gue tahu, Lo tadi lihatin Erica terus, kan?" Timpal Gary.
"Nggak usah boong, Lo. Gue tahu, Lo dari tadi lihatin Erica." Ejek Gary.
"Kalo emang gue lihatin Erica terus, itu berarti gue suka sama dia?" Tanya Bram.
"Hahaha. Gue laki, Bro. Gue tahu, cara pandang Lo ke Erica tuh kayak orang yang lagi jatuh cinta." Jelas Gary sambil terkekeh. Bram terdiam dan mengalihkan pandangannya.
"Siapa juga sih yang nggak suka sama Erica. Udah cantik, pintar, baik, apalagi senyumnya, beh manis. Ya walaupun dingin." Puji Gary. Bram hanya melirik sekilas Gary, entah kenapa, ada sedikit rasa tidak suka dihatinya ketika Gary memuji Erica.
"Kayaknya, gue suka deh sama Erica." Ucap Gary. Hal itu membuat Richo dan Bram kaget. Bram langsung menoleh ke arah Gary.
"Apa Lo bilang?" Ucap Bram dan menatap tajam Gary. Gary terkekeh melihat ekspresi Bram yang menatapnya.
"Benar kan. Lo suka sama Erica. Kalo nggak, kenapa Lo segitunya natap gue waktu gue bilang gue suka sama Erica." Jelas Gary sambil tersenyum. Bram terdiam mendengar penjelasan Gary, dia tidak dapat membohongi perasaannya, dia benar-benar mencintai Erica.
"Bro." Ucap Gary memegang pundak Bram.
"Gue nggak pernah lihat Lo suka atau jatuh cinta sama cewek. Erica memang wanita yang baik. Kalo Lo suka, tembak aja." Pinta Gary.
Bram terdiam, dengan situasi yang seperti ini, tidak mungkin baginya untuk mengungkapkan perasaannya. Bram kembali menatap Erica yang berbincang-bincang dengan Velyn, Chika dan juga Clara. Dia benar-benar jatuh cinta pada Erica.
Jack dan Dion datang menghampiri Bram, mereka duduk tepat di samping Bram. Richo yang mengetahui itu hanya memutar bola matanya malas.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Jack.
"Nggak tahu." Jawab Gary.
"Kita tanya sama Erica dulu." Sambung nya.
"Emang harus dia?" Sahut Dion. Gary melihat Dion yang berada di samping Jack.
"Emang Lo tahu habis ini kita mau kemana?" Tanya Gary balik.
"Yah.. Nggak tahu sih. Tapi, itu artinya kita bergantung sama dia." Jelas Dion.
"Kalo Lo nggak suka, mending Lo nggak usah ikut." Ucap Gary. Dion terdiam mendengar ucapan Gary. Richo yang mendengar itu tersenyum menyeringai.
Di posisi Erica. Jeje masih tertidur pulas di pangkuan Erica, dia mungkin merasakan lelah karena perjalanan mereka.
"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Clara pada Erica.
"Mungkin pergi dari sini." Jawab Erica singkat.
•••
Bersambung.