City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Cinta yang Terbalas



Erica dan Bram masih berlari dari para Zombie yang mengejar mereka. Meski rasa lelah sudah menghantam diri mereka, tapi itu tidak akan menggoyahkan semangat diantara keduanya. Jeje masih berada dalam gendongan Bram, di depan sana, terdapat sebuah toko baju yang di desain tidak terlalu mewah dan bercat pink. Toko baju itu dihimpit oleh dua bangunan di kanan dan kirinya, bangunan itu memang tidak besar, tapi mungkin cukup untuk mereka berdua yang hanya bersembunyi. Kedua orang itu berlari ke toko baju yang terletak di sebelah kanan tepat di pinggir jalan. Sesampainya di depan toko itu, Erica dan Bram langsung masuk dan menutup pintunya.


Dinding dan pintu toko itu terbuat dari kaca, para Zombie yang ingin masuk terhalang oleh kaca itu. Erica dan Bram mundur, menatap Zombie yang ada di luar.


"Sementara kita sembunyi disini dulu." Ujar Erica. Erica berjalan dan menarik Bram dan Jeje bersembunyi di bawah meja kasir agar para Zombie itu tidak melihat mereka.


•••


Chika, Dion, dan Richo juga masih berlari, mereka mungkin belum menyadari kepergian Gary, Velyn, dan Clara dari sisi mereka. Dalam situasi seperti ini, semua orang mungkin hanya mementingkan diri sendiri, begitu juga halnya dengan mereka. Chika yang merupakan perempuan diantara mereka bertiga tidak dapat menyeimbangi tenaga Richo dan Dion. Bersamaan dengan itu, kaki Chika tidak sengaja tergelincir yang menyebabkan perempuan itu terjatuh. Richo yang melihat Chika sekilas berhenti dan berbalik melihat perempuan itu.


"Chika...!" Ucapnya dan berjalan menghampiri Chika. Dion berhenti dan berbalik melihat Richo dan Chika.


"Chika!" Richo memegang kedua bahu Chika dan berniat membangun kan perempuan itu.


"Richo! Udah. Gue nggak kuat lagi." Ucapnya lemas.


"Nggak! Lo harus tetap ikut!" Bantah Richo dan membantu Chika berdiri. Chika menggeleng dan meringis karena kakinya yang terkilir.


"Nggak, Richo!" Elak Chika dan memberontak dari Richo. Richo sama sekali tidak menggubris dan tetap membantu Chika berdiri.


"Richo..!!" Bentak Chika yang membuat Richo diam. Richo menatap Chika yang masih terduduk di aspal.


"Gue nggak kuat lagi." Ucap Chika menggeleng. Chika memegang kakinya yang tersandung dengan batu tadi. "Akh.." Ringis nya kesakitan. Chika merasakan sakit dan merasa tidak akan mampu untuk berjalan lagi, dia mendongak, menatap Richo yang diam dan memerhatikan nya. Chika tersenyum dan menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang akan jatuh dari pelupuk matanya. "Kalo memang ini saatnya gue pergi, gue ikhlas." Chika meneteskan air matanya, membasahi pipinya.


Richo merasakan sakit, sangat sakit mendengar ucapan perempuan itu. "Gue nggak akan biarin itu terjadi. Kalo Lo pergi, gue juga pergi." Balas Richo dengan mata memerah. Chika tersenyum dengan air mata yang terus menetes. "Gue bersyukur punya teman kayak, Lo." Ucapnya.


"Tapi, mungkin ini saatnya untuk kita berpisah. Gue nggak akan pernah ngelupain semua hal-hal yang kita jalani bersama." Richo tidak dapat menahan air matanya, tangisannya pecah, dia menunduk dengan air mata yang mengalir deras. Dion yang melihat Richo dan Chika tidak tersentuh sedikit pun, dia hanya memutar bola matanya malas dan jenuh mendengar pembicaraan keduanya.


"Nggak, Richo. Lo harus pergi!" Ucap Chika dan menghapus air matanya. Richo masih menunduk dan menangis, dia tidak sanggup jika harus berpisah dengan wanita yang dia cintai. Chika menatap kebelakang, para Zombie yang mengejar mereka masih terlihat jelas dan tidak melepaskan mereka. Chika menatap ke depan, melihat Richo yang masih tetap diam.


"Richo!" Panggil Chika memelas. Richo mendongak dan menatap Chika. "Hiks.. Hiks..."


"Gue mau Lo sekarang pergi. Ini belum saatnya Lo mati. Tinggalin gue, Richo!" Richo menggeleng keras dan menangis.


"Nggak, Chik! Nggak..!"


"Richo, dengerin gue. Para Zombie itu di belakang dan terus mengejar kita. Gue mohon sama Lo, Lo pergi dari sini. Turutin permintaan gue, Richo. Gue mohon, Lo pergi." Pinta Chika dengan memohon. Richo menatap mata Chika yang memohon padanya, dia tidak sanggup, tidak sanggup jika harus meninggalkan perempuan itu. Richo menguatkan hatinya dan menghapus air matanya.


"Oke. Gue akan pergi." Ucapnya terpaksa. Chika tersenyum hangat melihat Richo. Richo berbalik, dia kembali menjatuhkan air matanya. Dengan langkah berat, Richo berjalan dan tidak melihat Chika lagi sama sekali.


"Richo..!!" Teriak Chika memanggil nama Richo. Richo berbalik dan melihat Chika.


"A-aku mencintaimu." Ucap Chika dan tersenyum manis. Seperti mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah hilang, itu yang dirasakan Richo. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, Chika membalas perasaannya, tapi tidak pada di waktu yang tepat. Cinta mereka terhalang oleh takdir yang akan memisahkan mereka. Richo melihat Chika yang tersenyum manis padanya, bukannya senang, hati Richo malah sakit melihat senyuman perempuan itu.


"Woargh...." Salah satu Zombie datang dari belakang Chika dan langsung menggigit pundak belakang perempuan itu. Richo dan Dion kaget, mereka melihat kebelakang Chika, lebih banyak lagi Zombie yang akan datang mendatangi mereka.


"Chika.." Lirih Richo. Chika hanya bisa berteriak kesakitan, Dion menarik tangan Richo pergi dari tempat itu. Para Zombie lainnya datang dan langsung menyantap Chika yang sudah tidak berdaya. Satu lagi diantara mereka telah pergi.


Dion dan Richo berlari dari tempat itu, mereka juga tidak akan mampu jika harus menyerang para Zombie itu. Richo benar-benar terpukul, rasanya raganya telah pergi melihat Chika dimakan oleh para Zombie tadi. Air matanya terus mengalir, dia tidak bisa menerima kenyataan yang harus dia terima sekarang.


•••


Bersambung.