
Velyn menangis di dalam pelukan Bram. Di peluknya erat tubuh lelaki yang sekarang merupakan keluarga satu-satunya. Bram mengelus lembut rambut Velyn dan sesekali mengecup kepala Velyn.
"Udah... Adek Kakak jangan nangis lagi. Kakak kan udah disini, Kakak akan jaga Velyn." Ucap Bram lembut pada Velyn. Velyn menguraikan pelukannya, dia menghapus air mata nya dan menatap lelaki yang ada di depan nya.
"Kakak kapan balik?" Tanya Velyn.
"Baru tadi pagi. Kakak pergi ke rumah teman Kakak bentar terus pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah Kakak langsung cari kamu, tapi kamu nggak ada di rumah."
"Kakak coba telpon kamu, tapi handphone kamu tertinggal di kamar." Jelas Bram.
"Hehehe.. Tadi Velyn pergi bentar ke mall, Velyn nggak bawa handphone Velyn karena rencananya Velyn cuma bentar perginya."
"Habisnya... Velyn bosan di rumah sendirian." Ungkap Velyn.
Bram hanya menggeleng mendengar penjelasan dari Velyn. Sementara Erica dan yang lainnya masih bingung dengan dua sejoli itu. Velyn kembali memeluk tubuh Bram.
Di sisi Erica dan yang lain..
"Itu siapa nya Velyn. Kakak nya?" Bisik Chika pada Clara.
"Gue juga nggak tahu. Gue nggak pernah dengar Velyn punya Kakak." Jawab Clara sambil berbisik.
Mereka semua hanya diam dan memerhatikan dua insan itu.
"Kakak jangan pergi lagi." Ucap Velyn yang masih memeluk tubuh Bram.
"Iya. Kakak nggak akan pergi lagi." Bram mengelus sayang rambut Velyn.
"Velyn..." Panggil Clara.
Velyn melepas pelukannya dan berbalik melihat teman-temannya yang sedari tadi menatap nya.
"Siapa?" Tanya Clara.
"Hm?"
"Oh, iya gue lupa. Kenalin, ini Kakak gue. Namanya Bram." Jelas Velyn. Bram tersenyum melihat ke tujuh manusia itu.
"Dan ini... Kak Gary temannya Kak Bram."
Gary ikut tersenyum melihat mereka. "Gary." Ucapnya.
Dan mereka satu-persatu mulai memperkenalkan diri mereka.
"Kok gue nggak pernah tahu lo punya Kakak?" Tanya Clara.
"Mending ngobrol nya di ruang tamu aja. Lagian, Kak Bram sama Kak Gary pasti capek." Ucap Chika.
Mereka semua mengiyakan ajakan Chika. Mereka pun berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa.
"Velyn ambil air minum dulu. Pasti Kak Bram sama Kak Gary haus." Ucap Velyn.
"Tahu aja lo Dek kalo kita lagi butuh minum." Jawab Gary.
"Aaww...." Bram menoyor kepala Gary.
"Yaelah.. Apa salah nya sih? Gue kan cuman ngomong gitu. Emang benar kan kita butuh minum karena habis lari tadi." Jawab Gary tak terima dengan Bram.
Velyn dan yang lain hanya tertawa ringan melihat pertengkaran kecil ke dua lelaki itu.
"Velyn ke dapur dulu." Ucap Velyn dan berjalan ke dapur.
Setelah kepergian Velyn, mereka hanya diam dan sesekali saling melirik satu sama lain.
Tidak memerlukan waktu yang lama, Velyn datang dengan membawa nampan. Velyn meletakkan nampan itu di atas meja dan membagikan dua gelas air putih pada Bram dan Gary. Tidak lupa Velyn membawa cemilan yang dia dapat di dapur tadi.
"Thanks Dek.." Ucap Gary dan di balas senyuman oleh Velyn.
Velyn duduk di samping Erica. Bram dan Gary meminum air putih yang di bawa Velyn.
"Sekarang jawab pertanyaan gue." Tagih Clara pada Velyn.
"Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?" Jawab Velyn.
"Itu... Lo kok nggak pernah cerita ke gue kalo lo punya Kakak?"
"Oh... Itu. Jadi selama ini Kakak gue tu di Korea, dia tinggal di sana bareng Nenek dan Kakek gue. Dan Kak Bram baru pulang ke Indonesia tadi pagi." Jelas Velyn.
"Oh..." Clara mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Sekejap diantara mereka semua hening. Erica yang memilih diam, Bram yang fokus minum dan yang lain sibuk dengan fikiran mereka sendiri. Tapi berbeda dengan Gary.
"Eerggh.... Ahh.. Kenyang gue." Gary bersendawa sambil memegang perutnya. Seketika suasana di sana mencair.
Bram menoleh ke Gary. "Lo jorok banget sih.." Ucap Bram.
"Hehehe... Sorry." Ucap Gary sambil menunjukkan dua jari.
Bram mengambil plastik cemilan yang ada di atas meja, dia bingung karena cemilan itu hanya tinggal bungkus plastik nya.
Bram menatap Gary dengan muka tak bersalah. "Lo habisin semua cemilan nya?" Kesal Bram pada Gary.
Gary menatap Bram yang memegang bungkus cemilan. "Ah, itu. Emm.. Maaf, gue laper. Habisnya cemilan nya enak banget, yaudah gue habisin semua." Jelas Gary.
"Buat gue?" Tanya Bram.
"Nggak tahu..." Jawab Gary dengan polos
"Hah..." Bram hanya membuang nafasnya kasar dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Maaf..." Lirih Gary.
Lagi-lagi mereka tertawa dengan tingkah kedua lelaki itu.
•••
Bersambung...