
Erica menoleh ke samping, dia melihat Clara dan Velyn yang tertidur. Erica pun ikut menyandarkan tubuhnya ke dinding bangunan itu dan menutup mata nya.
Beruntung lokasi yang mereka tempati sekarang sepi, jadi mereka bisa beristirahat dengan sedikit tenang.
•••
"Aku harus keluar dari sini..!" Ucap Manda. Manda masih berada di dalam kamar, dia membuka sedikit pintu kamar nya dan mengintip lewat pintu itu. Nampak di rumah nya masih terdapat makhluk-makhluk aneh itu, mereka berjalan seperti orang mabuk. Manda menutup pintu nya dan bersandar di pintu itu.
"Huft... Aku nggak mungkin keluar lewat pintu ini." Ucap Manda.
Manda melihat ke sekeliling kamar nya, senyuman terukir di wajah nya ketika melihat jendela kamarnya yang di tutupi dengan gorden putih. Jendela kamar Manda terbuat dari kaca, jadi Manda berniat untuk memecahkan kaca jendela itu dan keluar lewat jendela tersebut.
Manda mencari alat untuk memecahkan jendela kamar nya, dia berjalan ke arah lemari David yang berdekatan dengan lemari baju mereka. Manda membuka lemari itu lalu mencari tongkat atau besi untuk memecahkan jendela nya. Lemari David itu berisi barang-barang olahraga David.
"Tongkat Baseball Papah mana yah?" Tanya Manda.
Manda mencari tongkat Baseball yang biasa digunakan David untuk bermain tapi tidak ada. Dia sibuk mencari barang yang ada di lemari itu yang bisa memecahkan jendela kamar nya, bahkan peralatan olahraga David yang ada di dalam lemari itu yang tersusun rapi kini berantakan.
"Ck, disini nggak ada." Ucap Manda.
Manda menegakkan tubuh nya, dia berdiri tepat di depan lemari itu. Dia berfikir harus dengan apa dia memecahkan kaca itu, apalagi kaca jendela kamar nya itu bukan kaca biasa. Tidak mudah untuk memecahkan kaca jendela kamar nya, karena kaca itu tebal dan kuat.
Manda menatap lemari itu, dia melihat di samping lemari itu terdapat beberapa stik golf di dalam Golf Bag. Manda berfikir mungkin dengan menggunakan Stik Golf itu dapat membantu nya untuk memecahkan kaca jendela nya. Ya, walaupun memerlukan waktu yang cukup lama.
Manda mengambil salah satu dari stik Golf itu, dia lalu berjalan ke arah jendela kamar nya dan menyingkirkan gorden yang menutupi kaca itu.
Manda memukul kan ujung stik itu ke jendela kamar nya.
Baru beberapa kali Manda memukul kan stik itu, tapi dia sudah merasa kelelahan.
"Hah..., hah...., aku harus semangat.." Ucap Manda sambil menarik nafas nya dan menghembuskan nya.
Manda kembali memukul kan stik itu, dia berusaha dan terus berusaha untuk memecahkan kaca itu.
Dan........
'Pyyaarr......'
Usaha Manda tidak sia-sia, kaca itu pecah. Dia langsung keluar dari kamar nya dan tidak lupa Manda membawa stik Golf itu untuk berjaga-jaga, dia berlari ke taman belakang rumah nya.
***
Cukup menghabiskan waktu lima menit, Manda pun sampai di taman belakang rumah itu.
"Huft..., untung aku bisa keluar." Kata Manda.
Manda melihat ke sekeliling taman itu, dia memastikan tidak ada siapa-siapa disana.
Manda duduk di bangku yang ada di taman itu, dia menatap kosong bunga mawar yang ada di depan nya. Manda berfikir bagaimana keadaan Erica dan David sekarang. Apa mungkin ini penyebab Erica dan David tidak pulang ke rumah?, fikir Manda.
Manda mengambil handphone nya, dia berniat untuk menghubungi David dan Erica.
Manda baru mau menghidupkan ponsel nya, tapi niat nya terhentikan ketika mendengar suara pecahan pot terdengar dari arah belakang. Manda berbalik dan menatap ke arah belakang, dia melihat satpam berdiri dengan pakaian yang di lumuri darah. Satpam itu terlihat jelas di mata Manda.
Manda menutup mulut nya, dia berbalik dan berdiri. Manda hendak berlari, tapi sayang, mungkin Tuhan tidak berpihak kepada Manda. Manda tidak sengaja menyenggol pot bunga yang berada di atas meja yang menyebabkan pot itu jatuh dan pecah.
Satpam yang berdiri tidak jauh dari Manda menatap ke arah nya. Melihat santapan ada di depan mata, satpam itu pun langsung berlari ke arah Manda. Manda berbalik dan melihat satpam itu berlari ke arah nya. Manda kaget, dia pun berlari dengan terburu-buru.
Manda berlari keluar melewati pintu belakang pagar rumah mereka, beruntung pintu pagar mereka tidak ditutup jadi dia bisa keluar lewat pintu itu.
Manda berlari ke belakang rumah mereka, kebetulan di belakang rumah mereka itu terdapat jalan kecil dan lumayan sepi. Perempuan itu berlari dan terus berlari sampai dia tidak menyadari ada orang di depan nya.
'Bruk'
Karena panik, Manda tidak sengaja menabrak orang yang menyebabkan dia terjatuh.
"Maaf...., maaf...., aku nggak sengaja." Ucap Manda tanpa melihat orang tersebut.
Orang itu berbalik dan menatap Manda. Manda mendongak dan menatap balik orang yang dia tabrak itu.
Orang itu berdiri di depan Manda, dia memiringkan kepala nya melihat Manda. Darah segar keluar dari mulut nya yang terbuka, dia berjalan mendekati Manda. Manda kaget menatap orang itu, dia mundur dengan posisi nya yang masih terduduk di aspal.
"Jangan mendekat...!" Ucap Manda sambil menodongkan stik Golf yang ada di tangan nya ke orang tersebut.
Orang itu tetap maju mendekati Manda. Manda berdiri, dia membalikkan badan nya dan hendak berlari.
Manda melihat satpam yang mengejar nya tadi berlari ke arah nya, Manda membalikkan kembali badan nya dan melihat orang itu yang tetap berjalan ke arah nya.
Manda tersenyum, air mata keluar dari mata perempuan itu, dia terdiam dan tidak punya niat untuk berlari dari tempat itu. Manda menutup mata nya, dia pasrah akan nasib nya sekarang.
Satpam dan orang yang di tabrak Manda tadi mulai mendekat ke arah Manda.
Orang itu langsung menggigit tangan Manda, Manda berteriak dia menjambak rambut orang itu dan berusaha melepaskan gigitan orang tersebut. Sementara satpam itu menggigit pundak belakang Manda.
Darah segar keluar dari mulut Manda, mata nya berubah, urat di kepala nya mulai muncul.
Erica terbangun, dia mengatur nafas nya. Keringat bercucuran dari tubuh nya. Erica menghapus keringat di wajah nya menggunakan tangan nya.
"Hah..., hah..., itu hanya mimpi..", ucap Erica dengan nafas yang terengah-engah.
"Mamah...." Lirih Erica.
Yah, Erica bermimpi Manda Mamah-nya di gigit oleh satpam dan orang itu.
Erica mengambil handphone nya, dia mengecek ponsel nya apa ada balasan dari Manda Mamah nya.
"Huft..."
Erica menghembuskan nafas nya, dia memijat pelipis nya ketika melihat layar ponsel nya, lagi-lagi tidak ada respon dari Mamah nya.
Erica menoleh ke samping, terdapat Velyn dan Clara yang masih tertidur pulas, nampak dari kedua wajah wanita itu yang merasa kelelahan.
Erica berdiri, dia berjalan ke depan.
Erica menatap sekitar-nya, dia menyipitkan mata nya ketika melihat Mahasiswi berjalan dengan sedikit pincang tidak jauh dari tempat mereka. Mahasiswi itu berjalan dengan posisi membelakangi Erica.
"Sial.., mereka ada di sini." Ucap Erica.
Erica menatap Velyn dan Clara, dia berjalan mendekati mereka berdua. Erica berjongkok di depan Velyn.
"Velyn..., bangun...!" Ujar Erica tapi tidak ada jawaban dari Velyn. Erica menepuk-nepuk pipi Velyn dan berusaha membangunkan nya.
"Hei...., bangun. Kita harus pergi." Ucap Erica dan menggoyangkan tubuh Velyn.
Velyn kaget dan terbangun, dia menatap Erica.
"Hah..? Apa?" Ucap Velyn.
"Kita harus pergi, mereka ada di sini. Lo tolong bangunin Clara." Ujar Erica dan berdiri.
Velyn masih setengah sadar, dia tidak mengerti apa yang di ucapkan Erica. Velyn menoleh ke samping, dia menatap Clara yang tidur. Velyn pun membangun kan Clara seperti yang di ucapkan Erica.
Erica menatap ke depan, dia melihat mahasiswi itu berhenti berjalan, Erica bingung.
Tiba-tiba Mahasiswi itu membalikkan badan nya dan menatap Erica. Erica kaget, dia menoleh ke samping dan melihat Velyn yang berusaha membangunkan Clara.
Erica menatap ke depan, dia melihat Mahasiswi itu berjalan mendekati mereka.
"Sial..., nggak ada waktu lagi." Ucap Erica.
Erica berjalan mendekati Velyn dan Clara, dia membantu Velyn membangunkan Clara. Erica menggoyangkan tubuh Clara tapi itu tetap tidak berhasil untuk membangun kan perempuan itu.
Erica menatap Velyn yang kembali menyandarkan tubuh nya di samping Clara dan ingin tidur. Erica berdecak kesal menatap kedua perempuan yang ada di depan nya.
Erica melihat Mahasiswi itu yang mulai mendekati mereka. Dia melihat sebotol air mineral tepat di samping kanan nya. Erica mengambil botol itu dan membuka nya.
"Nggak ada cara lain.." Ucap Erica.
Erica langsung menyiram kan air yang ada di botol itu ke wajah Clara dan Velyn. Sontak kedua nya kaget dan langsung bangun.
"Astaga..." Ucap Clara dan menatap Erica.
Erica menatap Velyn dan Clara tanpa merasa bersalah. Di fikiran Erica, yang dia lakukan ini adalah benar.
"Lo kenapa nyiram kita...?" Kata Clara dengan kesal, sementara Velyn hanya menatap kesal Erica.
Erica memperlihatkan kepada Clara dan Velyn Mahasiswi itu yang berjalan mendekati mereka.
Clara dan Velyn kaget dan langsung berdiri, Erica pun ikut berdiri.
•••
Bersambung....