City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Kepedulian



Matahari terbit, menampakkan dirinya dari arah timur, menyinari dunia yang gelap. Erica beserta yang lain melanjutkan perjalanan mereka, bertahan hidup adalah tujuan hidup mereka. Tidak peduli dengan tempat yang mereka lalui sekarang. Kota itu sudah seperti kota yang tidak berpenghuni, dimana sebagian bangunan-bangunan besar hancur, lingkungan yang tidak terawat, kerusakan yang terjadi dimana-mana dan ditambah penghuninya tidak bisa disebut lagi sebagai manusia.


Disini, jauh dari tempat yang aman, Erica dan yang lain berjalan menyusuri jalanan yang tampak sepi. Mengawasi setiap sudut tempat yang dilalui. Jalanan tampak sepi, tapi tidak dapat dipastikan jalanan itu aman. Kehidupan bagi mereka sudah hancur, tidak ada yang dapat diharapkan lagi. Keluarga yang harmonis, kekayaan yang berlimpah, kehidupan yang tenang, semua itu tidak dapat dirasakan lagi, hanya ada kewas-wasan dan kekhawatiran didalam hati mereka.


Samar-samar Erica melihat sebuah mobil yang tampak familiar baginya. Mobil yang bercat putih, dihiasi dengan lumuran darah yang begitu jelas. Kaca depan mobil itu hancur dan bagian depan mobil itu mengalami kerusakan yang lumayan parah. Perempuan itu langsung berjalan dengan memegang tangan Jeje menghampiri mobil yang berada didekat pohon yang lumayan besar. Tidak peduli dengan Bram dan yang lain yang bingung melihatnya, Erica tetap berjalan menghampiri mobil itu.


Erica melepas tangan Jeje, dia mengamati mobil itu seakan tidak percaya. Erica melihat Plat nomor yang ada di belakang, dia kemudian berjalan dan membuka pintu depan mobil itu. Kunci mobil itu masih tetap berada di tempat, Erica melihat sebuah foto tergantung di kaca spion tengah mobil itu. Dia mengambil foto itu dan memastikannya. Terlihat jelas di dalam foto itu terdapat foto dirinya bersama kedua orang tuanya. Erica shock tak percaya, dia kembali menatap mobil yang ada didepannya. Kedua bola mata gadis itu sudah berlinang air mata.


"P-papah.." Lirihnya. Erica meremas kuat foto yang ada di tangannya, dia menundukkan kepalanya dan menangis. Kedua orang yang sangat dia sayangi telah pergi, dan sekarang tinggallah dia seorang diri.


Erica mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara Velyn dan yang lain memanggil namanya dan Jeje. Dia melihat Jeje yang berdiri sambil menatapnya, Erica melihat ke belakang Jeje, terdapat satu lelaki dengan mulut yang terbuka berlari mendatangi mereka. Erica kaget, dia melihat Jeje yang masih diam dan menatapnya. Di seberang jalan sana, Velyn dan yang lain terus meneriaki Jeje. Erica ingin melangkahkan kakinya, tapi langkahnya terhenti ketika melihat lebih banyak lagi Zombie yang berlari di sekitaran mereka.


"Woargh..." Teriak Zombie yang ingin memakan Jeje. Hanya satu loncatan Zombie itu dapat menangkap Jeje.


"Bugh..." Tiba-tiba Bram datang dan langsung memukul kepala Zombie itu dengan siku tangannya hingga terjatuh. Dia langsung menggendong Jeje dan menarik tangan Erica berlari dari tempat itu.


"Kakak...!" Teriak Velyn yang ingin menghampiri Bram. Gary langsung mencegah Velyn dan menarik tangan perempuan itu untuk berlari pergi dari tempat itu. Alhasil, Erica, Jeje, dan Bram terpisah dari Velyn dan yang lain. Bram dan Erica berlari ke depan, Gary dan yang lain berlari ke samping, sedangkan para Zombie itu berlari mengejar kedua kelompok itu. Beginilah kehidupan mereka sekarang, berlari dan menghindar dari para Zombie.


Erica dan Bram berlari, sementara para Zombie stay mengejar mereka dari belakang. Jeje yang berada dalam gendongan Bram menyembunyikan wajahnya di leher Bram, dia tidak berani jika melihat para Zombie yang mengejar mereka. Zombie itu tidak 5 atau 11 orang, melainkan ada puluhan Zombie berada di belakang mereka. Bram dan Erica tidak menyerah untuk tetap menghindar dari para Zombie, ini bukan akhirnya mereka mati. Kedua sejoli itu mengamati jalanan yang berada di depan, belum ada tempat yang layak untuk mereka tempati atau hanya sekedar sembunyi dari para Zombie yang mengejar mereka.


•••


Gary, Velyn, Clara, Chika, Richo, Jack, dan Dion berlari, seperti halnya Erica dan Bram. Para Zombie itu masih tidak melepaskan mereka, walau jalan mereka lumayan sempit, tapi itu tidak meruntuhkan pendirian Zombie itu untuk tetap mengejar mereka. Dion, Richo, Chika, sedikit berada di depan, sedangkan Gary, Velyn, dan Clara berada di belakang mereka.


Gary melihat Dion, Richo, dan Chika masih berlari di depan, tempat mereka banyak didapati jalan kecil atau gang. Merasa Zombie itu tidak akan pernah melepaskan mereka, Gary membawa Velyn dan Clara ke jalan yang lebih sempit, tapi masih bisa berjalan dan berlari bebas. Gary, Velyn, dan Clara memasuki gang yang tidak bisa dimasuki kendaraan mobil, memang sebagian Zombie masih mengejar mereka, tapi itu sudah dapat meringankan beban mereka. Gary melirik sekilas kebelakang, kira-kira Zombie yang mengejar mereka sekarang hanya 4 atau 5 Zombie.


"Oke. Ini akan lebih mudah." Batin Gary. Velyn dan Clara berada di depan Gary, Gary melihat di depan, ada jalan yang lebih kecil dari jalan yang mereka lalui sekarang. Dia melihat sebuah pintu yang sudah rusak terletak di dekat gang kecil itu. Seketika terlintas sebuah ide di fikiran Gary.


Gary sedikit kesusahan menahan dorongan dari para Zombie yang ingin menangkap mereka. Dia melirik kebelakang, melihat Velyn dan Clara yang diam menatapnya.


"Lari...!" Pinta Gary. Velyn dan Clara kaget, mereka tidak akan mampu meninggalkan lelaki yang bersama mereka sekarang.


"Lo berdua dengar gue nggak?"


"Lari...!!" Teriak Gary yang mulai berkeringat.


"T-tapi? Ka--kakak..?" Tanya Velyn terbata.


"Kakak akan nyusul kalian berdua...!"


"Tapi?"


"Cepat..! Kakak udah mulai lelah..!!" Ucapnya.


Dengan terpaksa, Velyn dan Clara berlari, meninggalkan Gary yang masih menahan para Zombie. Sangat berat bagi kedua perempuan itu meninggalkan Gary, walau hubungan darah mereka tidak ada, tapi dalam situasi seperti ini, mereka sudah seperti keluarga. Velyn menumpahkan air matanya, dia tidak dapat membayangkan jika nantinya Gary bernasib sama seperti Edwin.


Di sisi Gary, dia masih menahan para Zombie itu dengan sekuat tenaganya. Walau ini dapat membahayakan keselamatannya, tapi keselamatan kedua perempuan tadi lebih penting baginya. Gary sudah merasa sangat lelah, rasanya semua tenaganya sudah terkuras habis. Gary masih tetap tidak menyerahkan dirinya.


"Ini belum akhirnya!" Batinnya. Gary mendorong pintu yang dia pegang dengan sangat keras, alhasil Zombie yang berada di balik pintu itu terjatuh. Gary melempar pintu itu ke atas para Zombie yang tergeletak di aspal. Dia kemudian berlari meninggalkan tempat itu.


•••


Bersambung.