
Edwin dan Dion berlari dari tempat itu. Orang-orang yang ada di sana yang merupakan Zombie tidak tinggal diam, mereka mengejar Edwin dan Dion. Edwin dan Dion berlari keluar dari gang itu.
"Mereka mengejar kita..!" Ucap Edwin melirik ke belakang.
"Lo sih! Gue kan udah bilang kita nggak perlu cari mereka. Jadinya kan gini. Ini akibat yang harus kita tanggung!" Jawab Dion sambil berlari. Edwin dan Dion sudah keluar dari tempat itu. Mereka berlari lurus ke depan, memasuki gang yang dimasuki oleh Velyn, Clara, dan Chika. Zombie itu masih belum melepaskan Edwin dan Dion, mereka masih tetap mengejar kedua lelaki itu.
"Woargh...!" Suara salah satu Zombie yang hampir berhasil menangkap Dion. Edwin dan Dion berlari, mereka tidak menyadari lagi seberapa lelah mereka sekarang, yang ada di fikiran kedua lelaki itu adalah selamat dari para monster itu.
Kedua lelaki itu sudah lumayan jauh berlari. Seperti yang dirasakan oleh Erica, Bram, dan juga yang lainnya, Edwin dan Dion melihat beberapa Zombie lagi berada di depan mereka. Seketika langkah kedua lelaki itu terhentikan.
"Ya, tuhan. Apalagi ini?" Ucap Edwin melihat sebagian Zombie menatap mereka. Edwin menyugar rambutnya kebelakang dia membalikkan tubuhnya melihat Zombie yang mengejar mereka. Kedua lelaki itu panik setengah mati, mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan. Edwin melihat sepotong kayu bangunan yang tidak panjang berada didekat kakinya. Dia mengambil kayu itu dan berjalan maju ke depan. Dion melihat Edwin yang maju, dia bingung. Apakah Edwin sudah kehilangan akal? Fikirnya.
Edwin memukul kepala Zombie yang berdiri menatapnya. Jatuhnya Zombie itu menyadarkan Zombie lainnya. Mereka langsung berjalan mendekati Edwin, berniat menyantap lelaki itu. Dion menatap Edwin yang berlawan melawan Zombie itu. Dia melihat ke belakang, menatap Zombie tadi yang tetap mengejar mereka. Tanpa fikir panjang, lelaki itu berlari ke depan, melewati para Zombie yang berlawanan dengan Edwin. Zombie yang berlari tadi sudah sampai di tempat Edwin, dan sekarang mereka menyerang Edwin secara bersamaan. Semakin banyak Zombie yang harus di serang oleh Edwin. Edwin melihat sekilas Dion yang sudah berada di depan, bukannya membantu Edwin, Dion malah diam menatap Edwin. Edwin bingung, sekarang dia sudah dikepung oleh para Zombie itu.
Kesialan menimpa Edwin, akibat terlalu banyak Zombie yang harus dia lawan, tanpa dia sadari, salah satu Zombie menggigit pundak belakang pria itu. Edwin berteriak kesakitan, dia lengah, para Zombie itu langsung memakan Edwin, mereka tidak membuang kesempatan emas mereka. Dion yang melihat itu kaget, dia langsung berlari meninggalkan Edwin yang meminta tolong padanya. Sebagian para Zombie itu menyantap tubuh Edwin, sementara para Zombie lainnya berlari mengejar Dion.
Dion berlari tanpa merasa bersalah sedikitpun, meninggalkan Edwin yang sudah menemaninya selama perjalanan mereka.
"Sorry, Win. Dari awal gue udah bilang sama Lo supaya kita nggak usah cari Chika lagi. Tapi Lo tetap ngotot buat cari mereka. Sekarang Lo tanggung sendiri semuanya." Batin Dion sambil berlari.
***
Erica, Bram, Gary dan yang lain sudah memasuki gang itu lagi. Awalnya Gary menyarankan untuk Erica, Jeje, Velyn, Clara dan Chika menunggu mereka di tempat itu dan tidak ikut bersama mereka untuk menyusul Edwin dan Dion. Tapi, Bram tidak menyetujui itu, dia takut jika nantinya para Zombie itu tiba-tiba datang dan menyerang Erica, Jeje, Velyn, Chika dan Clara.
Erica yang berjalan tiba-tiba berhenti menatap layar ponselnya. "Gawat...!" Ucap Erica dengan sedikit keras. Suara Erica memberhentikan langkah Bram dan yang lain. Mereka semua menatap Erica, termasuk Jeje yang berada tepat di sampingnya.
"Kenapa?" Tanya Velyn. Erica mendongakkan kepalanya menatap ke depan.
"Mereka berjalan ke sini." Jawab Erica.
"Mereka?" Bingung Clara.
"Siapa?" Lanjutnya.
Erica beralih menatap Erica. "Para Zombie itu!" Jawabnya. Mereka semua tentunya kaget mendengar itu.
"Apa mereka sudah dekat?" Tanya Richo. Erica kembali menatap layar ponselnya.
"Hampir mendekati." Jawab Erica. Mereka semua menatap ke depan.
"Dion..!" Ucap Jack senang. Erica dan yang lainnya berbalik, mereka melihat lelaki yang berlari menghampiri mereka, dan benar saja, itu adalah Dion, teman mereka. Dion berhenti, dia membungkuk dan menyentuh kedua lututnya.
"Dion. Lo nggak papa?" Tanya Jack memegang kedua pundak Dion. Dion masih membungkuk dan mengatur nafasnya akibat lari tadi.
"Mereka... Hah... Hah... Mereka ada di belakang..." Jawab Dion dengan terengah-engah. Dion menegakkan tubuhnya dan melihat Jack dan yang lain.
"Kita harus segera pergi dari sini!" Ucap Dion. Mereka semua diam menatap Dion. Dion bingung menatap kawanannya itu.
"Tunggu apa lagi?" Tanya Dion. Richo menatap Dion seakan-akan meminta penjelasan.
"Lo kok sendiri?" Ucap Richo. Dion menatap Richo yang bertanya padanya.
"Edwin mana?" Tanyanya lagi. Seketika Dion diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Richo.
"Itu nanti gue jelasin. Yang terpenting sekarang kita harus pergi dari sini, sebelum para Zombie itu segera datang dan menangkap kita." Jawab Dion mengalihkan pertanyaan Richo. Mereka semua mulai tersadar dan langsung panik.
"Iya. Kita harus pergi!" Ucap Gary.
"Woargh..." Suara para Zombie itu yang datang menghampiri mereka. Erica dan yang lainnya melihat para Zombie itu yang berlari menghampiri mereka.
"Lari...!!" Teriak Bram. Erica langsung menggendong Jeje dan berlari dari tempat itu. Mereka semua berlari setelah melihat Zombie itu mendatangi tempat mereka.
Mereka semua lolos keluar dari gang itu, termasuk para Zombie yang tetap mengejar mereka. Jalan besar, tempat luas dan sepi membuat mereka lebih mudah untuk berlari. Erica tetap menggendong Jeje, walau sebenarnya Jeje lumayan berat baginya, tapi dia tidak mempunyai niat sama sekali untuk meninggalkan anak itu.
Mereka sudah lumayan jauh berlari dari tempat itu. Kelelahan yang sudah menghantam mereka, tapi tidak melunturkan semangat mereka untuk tetap berlari berusaha terbebas dari kejaran para Zombie itu.
Dion yang berada di belakang melirik sekilas ke belakang, dia melihat Zombie itu yang sudah lumayan jauh dari tempat mereka. Di persimpangan, Erica dan yang lain membelok ke kanan, mengalihkan perhatian para !!!!!Zombie itu. Mereka berhenti ketika tidak melihat Zombie tadi mengejar mereka lagi. Erica menurunkan Jeje, nafasnya terengah-engah. Masing-masing dari mereka mengatur nafasnya masing-masing, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Satu pertanyaan Richo yang masih belum dijawab oleh Dion, dan Richo tetap menagih jawaban itu pada Dion.
"Dion!" Panggil Richo. Dion menoleh menatap Richo.
"Jawab pertanyaan gue. Edwin mana?" Tanya Richo. Dion diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Richo.
•••
Bersambung.