City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Hubungan yang Baik



Erica dan Jeje bercerita sambil tertawa. Walau pertemuan mereka baru beberapa menit lalu, tapi hubungan mereka sudah seperti saudara sendiri. Keberuntungan bagi Erica dapat bertemu dengan anak kecil itu yang bernama Jeje. Erica merupakan sosok perempuan yang pendiam dan tidak terlalu terbuka, dia juga tidak terlalu menyukai anak kecil. Tapi Jeje? Dia mungkin sudah menganggap anak itu seperti keluarga sendiri, atau lebih tepatnya Adik. Jeje juga seperti itu.


Erica dan Jeje mengobrol sampai lupa waktu. Erica lupa bahwa bukan dirinya dan Jeje saja yang berada di dalam Minimarket itu. Tetapi ada teman-temannya yang lain juga. Erica dan Jeje berdiri, dia mengajak Jeje untuk pergi ikut bersamanya dan Jeje menyetujui ajakan Erica. Lagipula, Jeje sudah merasa nyaman bersama Erica.


Erica memegang tangan kanan Jeje dan berjalan menghampiri Velyn dan yang lain juga. Erica berjalan dan sesekali melihat Jeje, tidak pernah terpikir di benaknya dia bisa akrab dan sedekat ini dengan anak kecil. Dalam fikiran Erica, anak kecil itu merepotkan dan juga menyusahkan, yang bisa mereka lakukan hanyalah merusak dan bermain saja. Tetapi sejak bertemu dengan Jeje, anak kecil yang berusia 2 tahun dapat menghibur dan membuat Erica tersenyum, tidak buruk juga fikir Erica.


Hanya beberapa menit Erica dan Jeje sampai di tempat Velyn. Mereka semua sudah berkumpul seakan menunggu kedatangan Erica. Velyn yang tertidur, Chika yang melihat Clara memakan cemilan dan mendengarkan cerita dari Clara. Sedangkan para lelaki sibuk dengan urusan dan fikiran mereka masing-masing. Bram sudah merasa lebih baik dan agak mendingan. Erica dan Jeje melihat mereka semua, Jeje menatap Erica, Erica tersenyum menatap Jeje.


"Ekhem..." Deheman Erica menyadarkan mereka semua termasuk Velyn yang belum tertidur pulas. Mereka menoleh menatap Erica. Tentu saja mereka semua kaget karena Erica datang tidak sendiri, melainkan membawa satu insan ikut bersamanya.


"Itu anak siapa yang Lo bawa?" Tanya Clara heran sambil memakan cemilannya. Erica menatap Clara yang bertanya padanya.


"Namanya Jeje. Dia nggak sengaja gue temuin sendirian waktu gue jalan tadi. Karena gue kasihan, gue bawa dia ikut..." Erica diam sejenak. "...Sama kita." Ucap Erica. Mereka semua diam dan menatap anak kecil yang berada di samping Erica. Clara berdiri dan berjalan menghampiri Erica dan Jeje sambil tetap memakan cemilannya. Clara sedikit membungkuk dan menatap Jeje.


"Hei bocah kecil--." Kata Clara menggantung kalimatnya. Clara mendongak dan menatap Erica. "Namanya siapa tadi?" Tanya Clara.


"Jeje.." Jawab Erica.


"Jeje.... Nama yang imut." Ucap Clara dan melihat Jeje. Jeje mundur dan sembunyi di belakang Erica dan memegang kaki Erica dari belakang. Clara menegakkan kembali badan nya dan melihat Jeje. Erica memegang kepala Jeje bagian belakang dan berbalik menatap nya.


"Hei... Kenapa takut..? Kakak itu orang baik kok, nggak akan jahatin Jeje." Ucap Erica lembut pada Jeje. Jeje menatap Erica dan menatap Clara yang memakan cemilannya kembali. "Mau..." Tawar Erica pada Jeje. Jeje mengalihkan pandangan nya dan menatap yang lain. Velyn tersenyum pada Jeje ketika Jeje melihat Velyn. Jeje beralih menatap yang di samping Velyn yaitu Bram, Bram juga tersenyum pada Jeje. Jeje kembali beralih menatap yang lain. Chika, Richo, Edwin, dan Jack juga tersenyum menatap Jeje, kecuali Dion. Lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun melihat Jeje. Dia hanya menatap sinis Erica yang menghadirkan Jeje diantara mereka. Entah apa yang difikirkan nya sekarang.


"Bagaimana sekarang? Apa kita akan pergi atau menginap disini sampai pagi?" Tanya Richo pada Erica dan yang lain.


"Apa Kak Bram udah baikan?" Ucap Erica dan menatap Bram. Bram mengangguk melihat Erica. "Udah kok. Udah agak mendingan." Jawab Bram.


"Ayo.." Ucap Erica dan melihat Velyn. Velyn dan yang lain mengangguk menatap Erica.


Mereka semua keluar dari Minimarket itu, memulai perjalanan mereka. Jarak mereka baru beberapa meter dari Minimarket itu. Suara keributan terdengar di telinga Erica, dia berhenti dan menatap sekitarnya.


"Aaaaa...." Suara teriakan lelaki terdengar dari arah belakang. Velyn dan yang lain juga berhenti dan menatap ke belakang. Seorang lelaki berlari sambil berteriak, lehernya berdarah. Dia berlari dengan di ikuti beberapa Zombie di belakang nya. Sedikit lagi agar lelaki itu mendekati Erica, tiba-tiba saja dia berubah menjadi Zombie. Erica kaget melihat itu, dia langsung menggendong Jeje berlari pergi dari tempat itu


"Lari...!" Ucap Erica. Mereka semua berlari meninggalkan tempat itu. Para Zombie itu sudah melihat Erica dan yang lain, mereka berlari mengejar Erica. Entah kapan situasi yang mereka rasakan ini berakhir. Selamat dari para Zombie itu adalah tujuan hidup mereka sekarang. Di gelapnya malam, dengan sedikit penerangan dari cahaya bulan, mereka berusaha keras terbebas dari kejaran para Zombie yang mengejar mereka.


Karena rasa panik dan kekhawatiran yang menghantam diri mereka sekarang, tanpa mereka sadari, Edwin, Clara, Dion, Chika dan Velyn, terpisah dari mereka. Erica yang tetap menggendong Jeje, Bram, Gary, Jack, dan juga Richo memasuki sebuah gang kecil yang cukup gelap yang mungkin akan lumayan sulit untuk para Zombie itu menemukan mereka. Erica, Bram, Gary, Jack, dan Richo sembunyi di balik mobil hitam. Mereka dapat melihat Zombie itu yang melewati mereka. Richo bernafas lega melihat kepergian Zombie itu. Mereka terduduk dan menyandarkan tubuh mereka di dinding mobil itu. Erica menurunkan Jeje, dia mengelus pipi Jeje yang basah akibat air mata yang turun membasahi pipi gembul anak itu.


"Jeje kenapa nangis?" Erica melihat Jeje menatap nya sambil menangis sesenggukan.


"Kenapa, hm..?" Tanya Erica lembut pada Jeje.


"Hiks... hiks.... Je--Jeje... Takut..." Jawab Jeje sesenggukan. Erica menarik Jeje kepelukannya, dia mengelus lembut rambut Jeje. "Jeje nggak usah takut. Kakak akan selalu jaga Jeje, Kakak janji nggak akan pernah ninggalin Jeje." Ucap Erica dan mengelus punggung Jeje, mencoba menenangkan anak itu. Jeje mendongak dan menatap Erica. "Janji?" Ucap nya. Erica tersenyum pada Jeje. "Janji." Jawab Erica.


Bram yang memerhatikan interaksi Erica dan Jeje tersenyum hangat. Sungguh hubungan yang sangat baik antara Kakak dan Adik. Bram tidak menyangka, Erica yang dia kenal sejak pertama kali adalah perempuan yang pendiam dan tidak peduli dengan siapapun. Tapi ini? Dia sangat menyayangi anak kecil yang dia temui, yang tidak ada hubungan darah sedikit pun dengan nya. Terlihat jelas, Erica tulus dan sangat menyayangi Jeje. Bram sekali lagi tersenyum melihat kedua insan itu.


•••


Bersambung...