City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Tak Habis Fikir



"Clara, tunggu!" Ujar Velyn memberhentikan Clara yang berlari. Clara berbalik dan melihat Velyn.


"Kita nggak bisa pergi gitu aja. K-kita, kita harus nunggu, Kak Gary disini."


"Ha?" Clara jelas kaget mendengar Velyn.


"Lo gila? Jelas-jelas tadi Kak Gary nyuruh kita pergi. Terus, sekarang Lo bilang kita nunggu Kak Gary lagi? Are you serious?" Jelas Clara tak percaya.


"Gue tahu. T-tapi, Kak Gary ada di belakang. Dia sendiri, dia ngorbanin nyawanya hanya untuk keselamatan kita. Apa Lo tega ninggalin dia?!"


"Iya gue tahu. Ta-tapi--."


"Kalo Lo nggak mau, biar gue sendiri aja yang pergi." Ucap Velyn dan berbalik.


"Tunggu, Vel." Ujar Clara dan menahan tangan Velyn. Clara berjalan ke depan Velyn dan melihat perempuan itu.


"Kalo misalkan Kak Gary selamat, terus kita balik lagi ke belakang, otomatis Kak Gary akan lebih susah. Karena, pasti Kak Gary akan ngelindungin kita lagi, tapi kalo kita nggak nyamperin Kak Gary lagi, Kak Gary akan lebih mudah untuk bisa terhindar dari Zombie itu." Jelas Clara.


"Kalo kita balik ke belakang, apa kita bisa lindungin Kak Gary? Nggak. Malah Kak Gary nanti yang bakal ngelindungin kita." Sambung nya.


"Dengerin gue." Ucap Clara dan memegang kedua bahu Velyn. "Gue tahu Lo khawatir sama Kak Gary, tapi seandainya pun kalo kita nyamperin Kak Gary, kita belum tentu bisa ngelewatin Kak Gary." Velyn mengalihkan pandangannya dan diam. "Pliss, Vel. Gue mohon, kita pergi dari sini." Pinta Clara. Velyn melihat Clara, dia memikirkan semua yang dikatakan Clara.


"Kalo bisa memilih, gue juga nggak mau terpisah dari, Kak Gary." Jelas Clara. Velyn terdiam dan tidak menjawab Velyn, dia memang tidak mau jika harus pergi tanpa Gary, tapi semua yang dikatakan Clara juga ada benarnya.


"Kita pergi sekarang." Pinta Clara. Velyn mengangguk kecil, mereka berdua pun berjalan ke depan meninggalkan tempat itu.


***


Richo masih menangis, dia masih mengingat semua ucapan Chika, terutama kata-kata terakhir yang keluar dari mulut perempuan itu. Richo jelas belum merelakan kepergian Chika, air matanya terus menetes membasahi pipinya. Dion yang berada sedikit di belakang Richo melihat intens pria itu, tatapan nya tidak dapat diartikan. Dion sama sekali tidak merasa iba melihat Richo. Mereka berdua berjalan, para Zombie tadi sudah tidak terlihat di belakang mereka.


"Gue bakal balas Lo, Ric." Batin Dion yang terus menatap Richo. Entah apa yang di fikirkan lelaki itu sekarang. Di waktu yang bersamaan, Dion melihat sebuah pentungan tergeletak di jalan itu. Dia kemudian mengambil pentungan itu tanpa sepengetahuan Richo. Richo yang terus berjalan di depan Dion sama sekali tidak mengetahui kegiatan lelaki itu. Fikirannya masih tertuju pada Chika. Tanpa dorongan dari siapapun, kedua tangan Dion terangkat sambil memegang pentungan itu. Pentungan itu dia arahkan pada Richo.


"Gue bakal buat Lo nyusul orang yang Lo cinta, Ric." Ucap Dion. Mendengar itu Richo berbalik dan menatap Dion, dia kaget melihat lelaki yang ada di depannya.


"L-lo mau ngapain, Ion?" Kata Richo terbata. Dion tersenyum menyeringai.


'Bugh...'


***


Gary berlari dengan sekuat tenaganya, dia sesekali melirik ke belakang, para Zombie tadi terus mengejarnya. Dengan rasa lelah, sendiri, dia harus berjuang demi keselamatannya. Entah sampai dimana Gary sekarang berlari, tapi itu tidak dia fikirkan lagi, di dalam fikirannya hanya ada bagaimana supaya dia terbebas dari para Zombie yang mengejar nya.


"Aku harus pergi kemana?" Batin Gary bingung.


"Tuhan.. Tolong hamba-Mu ini. Aku sadar disaat sekarang aku hanya memerlukan bantuan-Mu." Batinnya mengeluh. Dengan keadaan yang seperti ini, semua orang pasti hanya mengharapkan bantuan dari Tuhannya. Entah itu keajaiban Tuhan, Gary melihat sebuah kardus yang lumayan besar berada di persimpangan jalan yang membelok ke arah kanan. Kardus itu berada di dekat bangunan, tanpa banyak berfikir, Gary langsung berlari menuju kardus itu. Sesampainya di sana, dia berjongkok dan bersembunyi di balik kardus cokelat itu.


Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki para Zombie yang melewati tempat Gary. Gary melirik sekilas para Zombie yang berlari ke depan melewati nya. Dia menghembuskan nafasnya lega dan terduduk bersandar di dinding bangunan di belakangnya. Gary menutup matanya dan mendongak, dia kemudian membuka matanya dan menatap langit yang bersinar menerangi bumi.


***


Richo terjatuh mendapat pukulan dari Dion, dia kaget dan memegang kepalanya yang dipukul oleh Dion menggunakan pentungan yang ada di tangan pria itu. Dion menunjukkan senyum devil nya menatap Richo. Richo yang merasakan sakit di kepalanya akibat pukulan Dion mendongak dan menatap pria itu.


"Apa yang Lo lakuin, Ion?" Ucapnya dan menahan rasa sakit di kepalanya.


"Apa yang gue lakuin?" Ujar Dion dan smirk. Dion berjongkok di depan Richo, satu lututnya menyentuh jalan dan tangan kanannya memegang pentungan yang dia dirikan di atas aspal. Dion menjambak rambut Richo dan mengarahkannya untuk menatapnya.


"Gue mau buat Lo nyusul Chika dan Edwin!" Ucap Dion menatap mata Richo. Richo kaget mendengar ucapan Dion.


"Maksud Lo apa, Ion?"


"Hahaha.." Dion tertawa dan melepaskan kepala Richo kasar, dia berdiri dan kembali melihat Richo.


"Lo tahu nggak kenapa gue nggak ninggalin lo sama Chika tadi?" Dion mendekatkan wajahnya ke wajah Richo.


"Karena gue mau Lo mati di tangan gue!" Ucapnya dengan nada serak. Richo terdiam, fikirannya bergelut, dia tidak menyangka temannya Dion bisa sekeji itu. Dion kembali berdiri dan melihat Richo.


"Lo benar, Ric. Gue memang ninggalin Edwin waktu itu." Ucap Dion membuat Richo tambah kaget.


"Gue sebenernya udah ngomong sama Edwin supaya nggak perlu cari Chika lagi, tapi Edwin tetap ngotot buat cari mereka. Dan, akhirnya Edwin harus menanggung semua akibat yang harus dia tanggung. Para Zombie itu menyerang dan memakannya."


"Gue nggak salah, kan?" Dion menatap Richo sambil tersenyum.


"Gue nggak habis fikir sama, Lo. Apa yang ada dalam fikiran Lo, Ion! Kita ini teman lo..!!" Ucap Richo tak percaya.


"Teman? Heh, gue nggak pernah anggap kalian sebagai teman gue!" Richo menggeleng, dia tidak melihat Dion yang ada di depannya, tapi dia melihat iblis yang sedang bergejolak.


"Gue nggak tahu apa yang ada dalam fikiran Lo. Lo iblis..!!"


"Gue nggak peduli." Ucap Dion dan menatap tajam Richo. Dion kembali mengangkat pentungan nya, dia sedikit melangkah kan kakinya ke depan dan ingin memukul Richo. Richo yang masih terduduk di aspal sedikit mundur, dia tidak dapat melakukan apa-apa.


"Pliss.. Sadar, Ion. Jangan lakuin itu." Dion sama sekali tidak menggubris perkataan Richo, dia tetap maju dan tidak menurunkan tangannya. Pentungan yang ada di tangan Dion siap mendarat di kepala Richo. Richo menutup matanya dan pasrah akan nasibnya sekarang.


"Selamat tinggal, Ric." Tangan Dion siap memukulkan pentungan itu di kepala Richo.


Tiba-tiba...


"Dion...!!!"


•••


Bersambung.