City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Putus Asa



"Gue nggak pernah nyangka Dion bisa berbuat senekat itu!" Jack mengoceh tentang Dion, dia yang paling dekat dengan Dion tidak pernah menyangka Dion bisa berbuat sebodoh itu. Jack dan Richo berjalan di jalan sepi, Richo hanya diam dan mendengarkan semua ucapan dari Jack.


"Tujuannya apa, coba?" Bingung Jack.


"Sumpah, gue nggak nyangka!" Ucapnya kesal. Richo diam. Dia kembali mengingat masa-masanya waktu sekolah dulu.


"M-mungkin, Dion dendam sama gue." Jack kaget dan langsung melihat Richo yang sedikit berada di belakangnya.


"Lo bilang apa?" Richo menatap Jack yang tampak bingung mendengar ucapannya. Richo kembali diam, dia sebenarnya ragu untuk mengungkapkan kejanggalan di dalam hatinya tentang Dion.


"Dion sebenarnya pernah suka sama Chika." Ucapnya membuka pembicaraan.


"Apa?!" Kaget Jack. Richo menatap Jack seakan-akan meminta penjelasan.


"Gue, Edwin, dan Dion adalah sahabat waktu sekolah dulu, tapi gue sama Edwin nggak tahu kenapa Dion tiba-tiba berubah dan menjadi dingin, dia nggak pernah lagi mau ngumpul bareng gue sama Edwin." Jack menatap dan mendengarkan dengan seksama cerita dari Richo.


"Sebelum itu, kami bertiga sempat ngumpul, awalnya sih fine-fine aja, sampai gue bicara dan ngungkapin perasaan gue tentang Chika ke mereka berdua. Edwin dan Dion jelas kaget, Dion diam, sedangkan Edwin dukung gue dan ngebela gue. Kalo tentang darimana gue tahu Dion suka sama Chika, itu gue nggak sengaja dengar Dion bicara sendiri." Jelas Richo.


"Bicara sendiri? Maksud, Lo?" Bingung Jack.


"Waktu Dion ngejauh dari gue sama Edwin, gue sempet bingung dan nggak sengaja ngikutin dia. Dion pergi ke belakang sekolah, disitu dia ngungkapin semua perasaan nya. Gue kaget banget dan ngerasa bersalah, dari situ gue lebih jaga jarak dari Chika. Tapi, itu semua nggak pernah ngerubah sifat Dion. Dia tetap dingin dan cuek ke kami berdua, terutama gue. Bahkan sampai sekarang." Ucap Richo dengan sedih. Jack diam, dia memang dekat dengan Dion, tapi dia tidak tahu semua yang menyangkut tentang Dion.


"Terus, dendam dia ke Edwin itu apa?"


"Hem?" Richo bingung sendiri mendengar pertanyaan Jack.


"Lo bilang kan, Dion ninggalin Edwin. Berarti dia punya dendam sama Edwin." Fikir Jack.


Richo menggeleng. "Nggak. Dion nggak punya dendam sama Edwin. Dion memang dari dulu udah kayak gitu. Egois." Ucapnya menatap Jack. Jack kembali diam dan merenungi semua penjelasan Richo.


***


Erica, Bram, dan Jeje masih berada di dalam toko baju, mereka masih bersembunyi dan belum punya niatan untuk keluar. Bram sedikit mengintip, para Zombie yang mengejar mereka sudah tidak terlihat lagi. Bram berdiri untuk memastikan lebih jelas, dan benar saja, satu pun Zombie tidak ada lagi di balik dinding kaca toko itu.


"Apa kita harus pergi?" Tanya Bram. Erica diam dan menatap ke depan, kaca transparan yang bersih dan putih kini menjadi kotor karena bercak darah akibat para Zombie yang berusaha untuk menerobos memasuki toko tadi. Erica masih diam, sudah satu hari mereka berlari dan berusaha terbebas dari para Zombie. Namun, sampai sekarang mereka belum menemukan bantuan apa pun. Jika mereka kembali pergi, meninggalkan tempat mereka sekarang, apakah ada tempat untuk mereka menetap dan aman dari para Zombie? Atau, hanya sekedar mendapat bantuan? Itu yang difikirkan Erica.


Pernah terlintas di benak perempuan itu, mungkinkah hanya mereka yang masih hidup di Negara ini? Mengingat tidak ada satu pun petugas yang di utus untuk melintas atau hanya sekedar memantau kondisi Kota itu.


"Kita akan pergi kemana?" Ucap Erica.


"Keluar dari sini." Erica melihat Bram yang berdiri di samping Jeje.


"Kak! Apa Lo nggak pernah mikir? Kita semua dari semalam berjalan, menyusuri satu tempat ke tempat lain, berharap mendapatkan kemudahan, bahkan sampai kita semua terpisah. Dan sekarang? Nggak ada perkembangan sama sekali. Keadaannya semakin kacau, kita bahkan nggak tahu gimana nasib Velyn dan yang lain sekarang!" Jelas Erica membuat Bram diam membisu.


"Sekarang kita mau pergi kemana lagi?" Tampak kefrustasian di wajah perempuan itu.


"Keluar dari daerah ini." Usul Bram.


Erica menggeleng. "Nggak ada tempat yang bisa kita masuki." Bram bingung melihat Erica.


"Semua daerah dikarantina. Satu-satunya tempat yang masih terbuka adalah Bali. Dan itu mustahil bagi kita untuk pergi ke sana."


***


"Gue minta maaf, Bram. Gue nggak bisa jaga Adik, Lo. Maafin gue, Vel. Gue nggak bermaksud buat ninggalin, Lo." Batin Gary dan berlari.


"Apa yang harus gue lakuin sekarang?" Gary berlari seorang diri memperjuangkan keselamatannya. Tidak ada teman untuk dia bersanding dan berbagi sekarang.


"Gue berharap gue bisa ketemu lagi sama Lo, Bram."


•••


Bersambung.