City Destruction (The Zombies)

City Destruction (The Zombies)
Pergi



Detik berganti menit, menit berganti jam. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dan itu artinya Erica dan yang lainnya akan memulai perjalanan mereka.


"Bagaimana sekarang? Apa kita akan tetap pergi?"


"Yah... Kita akan tetap pergi."


"Pergi kemana?" Ucap Gary dengan bingung mendengar pembicaraan Erica dan Jack.


"Gini Kak. Jadi, kita berencana untuk pergi dari sini--"


"Kenapa?" Sahut Bram seakan memotong kata-kata Clara barusan.


"Nggak tahu... Itu ide dari Erica." Jawab Clara.


Bram menatap Erica seakan meminta penjelasan.


"Kita nggak mungkin di sini terus." Ucap Erica.


"Tapi kan.. Ini udah malam." Jawab Bram heran.


"Justru karena itu. Kita lebih mudah untuk mengelabuhi mereka."


"Maksudnya?" Sahut Gary bingung.


"Mereka nggak akan bisa melihat jika di malam hari, kecuali ada lampu atau penerangan lainnya." Jelas Erica.


"Tapi kok mereka bisa melihat kami berdua?" Sambung Gary.


"Sebelum kami datang kesini, kami sempat di kejar para monster itu."


"Apa disana suasana nya gelap?" Tanya Erica.


"Seingat gue sih nggak.." Jawab Gary.


"Benar.. Waktu itu ada sebagian lampu jalan yang masih menyala." Sahut Bram.


"Berarti udah paham kan maksudnya apa?" Ucap Erica.


"Hem..." Bram dan Gary mengangguk-anggukkan kepala mereka.


"Kita pergi sekarang?" Tanya Gary.


"Yah..." Jawab Erica.


Bram, Erica dan yang lainnya berdiri, mereka mempersiapkan diri mereka untuk pergi.


"Nggak ada alat yang harus kita bawa?" Tanya Chika. Seketika semua mata tertuju pada nya.


"Yah... Buat jaga-jaga gitu. Kalau misal nanti mereka tiba-tiba nyerang kita." Jelas Chika.


"Iya. Lo benar." Sahut Clara.


"Tapi..? Alat apa yang akan kita gunakan?" Tanya Clara.


"Alat pemukul..?" Sahut Velyn.


"Oh... Iya. Tadi gue iseng keliling lihat-lihat nih rumah. Terus, gue nggak sengaja nemu satu ruangan. Karena gue penasaran, yah... gue buka aja. Ternyata isinya tuh.. barang-barang semua, semacam peralatan olahraga dan juga barang-barang yang udah rusak." Jelas Richo.


"Berarti gudang dong..." Ucap Clara.


"Gue rasa sih nggak..."


"Karena ruangan nya tuh masih bersih dan juga rapi. Lampunya juga masih bagus." Jawab Richo.


"Ruangan nya dimana?" Tanya Jack.


"Dekat kamar yang kita tempati tadi."


"Yaudah... Kita ambil sekarang aja." Sahut Edwin.


Mereka semua sepakat untuk pergi ke ruangan yang di katakan Richo barusan.


Sesampainya di atas, Richo memimpin mereka berjalan ke ruangan yang berdekatan dengan kamar yang mereka tempati tadi. Richo langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam, di susul yang lain juga. Mereka melihat ruangan itu yang tampak bersih dan rapi seperti yang di katakan Richo.


Ruangan yang tidak terlalu besar tersusun rapi barang-barang. Peralatan olahraga di pisah dari benda lainnya. Barang yang sudah rusak di asing kan dan di susun rapi.


"Apa gue bilang... Nggak mungkin kan tempat sebagus ini di jadiin gudang." Kata Richo.


"Tapi kok..?"


"Ini kan barang yang udah rusak, kok masih di simpan?" Bingung Clara melihat barang yang sudah tidak bisa di pakai lagi.


"Mana gue tahu.. Tanya aja sama yang punya nih rumah." Jawab Richo sambil memilih alat yang mau dia bawa.


Clara hanya menatap sinis Richo.


Mereka semua mencari barang yang bisa di jadikan alat, sementara Dion hanya berdiri dan menatap mereka. Entah ucapan Erica beberapa jam lalu yang membuat dia seperti ini atau karena kedatangan Kakak nya Velyn dan Bram.


Jack tidak sengaja melihat Dion yang diam dan menatap sinis salah satu dari mereka. Jack melihat arah mata Dion, dan ternyata yang di tatap lelaki itu adalah Erica. Jack tersenyum dan menggeleng kan kepala nya. Dia berjalan menghampiri Dion dan membawa dua tongkat di tangan kanan dan kiri-nya.


"Lo kenapa sih, Bro?"


"Dari tadi uring-uringan mulu. Kenapa, ada yang lo fikirin?" Ucap Jack. Dion sedikit kaget karena kedatangan Jack yang tiba-tiba dan dia langsung memutuskan pandangan mata nya dari Erica.


"Lo ngagetin gue aja tahu nggak..." Ucap Dion kesal.


"Haha..." Jack tertawa kecil melihat Dion.


"Udah lah... Masalah itu lupain aja. Lagian emang benar yang di katakan Erica."


Dion diam mendengar perkataan Jack.


"Lo kesal kan karena omongan Erica waktu itu." Ucap Jack. Dion menoleh menatap Jack.


"Nggak usah sok tahu.." Jawab Dion dan mengalihkan pandangan nya.


"Haha... Lo kayak anak kecil aja tahu nggak. Erica memang benar, kalo mereka bisa buka gerbang itu, mungkin kita nggak akan bisa ada di sini sampai sekarang." Jelas Jack.


Dion menoleh dan menatap Jack. "Lo belain dia?" Tanya Dion.


Lagi-lagi Jack tertawa karena Dion. "Benar kan apa yang gue bilang. Lo nggak terima dengan keputusan Erica."


"Udah lah, nggak usah di perpanjang."


"Mending sekarang kita fokus sama perjalanan kita." Ucap Jack dan menyerahkan satu tongkat yang dia dapat tadi pada Dion. Dion mengambil tongkat yang di berikan Jack.


Skip...


Mereka semua sudah mempunyai alat di tangan mereka masing-masing. Erica dan yang lain turun ke bawah dan berjalan ke pintu.


Bram membuka pintu rumah itu, satu persatu mereka keluar dari rumah minimalis yang mereka tempati itu.


Erica dan yang lain melihat keluar. Ternyata para Zombie itu masih tetap aktif di luar sana.


"Bagaimana cara nya kita pergi?" Ucap Richo.


"Buka gerbang nya." Perintah Erica.


Bram yang berada di posisi depan menggeser gerbang itu. Dia menggeser gerbang itu dengan hati-hati dan pelan supaya tidak menimbulkan suara yang dapat memancing para Zombie itu.


Gerbang terbuka. Bram keluar terlebih dahulu, kemudian di susul oleh Gary dan yang lainnya. Di gelap nya malam, Erica dan yang lain berjalan dengan penuh rasa ke khawatiran.


Baru beberapa meter jarak mereka dari pintu gerbang itu, di depan sana sudah nampak jelas Zombie yang berdiri dan berjalan dengan lesu. Bram berhenti ketika melihat Zombie itu. Dia berbalik ke belakang dan mengangkat satu tangan nya pertanda sinyal untuk Erica dan yang lainnya berhenti.


Bram menuntun Gary dan yang lain berjalan ke samping tembok rumah yang berdekatan dengan mereka. Sesekali Bram dan Gary mengintip dari balik tembok itu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Gary yang melihat para Zombie itu.


"Kita nggak punya pilihan lain. Kita harus menyerang mereka." Ucap Erica yang juga melihat para Zombie itu.


Gary dan Bram berbalik melihat Erica yang berada di belakang mereka, Velyn dan yang lain pun langsung menatap Erica.


"Lo serius...?" Tanya Bram heran.


"Yah..." Jawab Erica santai.


•••


Bersambung...