
Chika, Clara, Velyn masih menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Mereka lelah, sangat lelah, frustasi, tidak menemukan jalan keluar dan tidak mengetahui jalanan yang mereka lalui. Menyerah pun tidak ada gunanya, tidak ada yang mengerti posisi mereka sekarang. Chika tetap memegang handphone Clara.
"Chik, masih lama nggak?" Tanya Clara yang mulai mengeluh.
"Bentar." Chika melihat handphone Clara dan mulai menghidupkan nya.
"Hm?" Chika beberapa kali mencoba menghidupkan handphone Clara, tapi layar ponsel Clara masih gelap dan tidak hidup sama sekali.
"Kok nggak bisa hidup." Ucap Chika.
"Ha?" Clara dan Velyn berhenti dan mendekati Chika. Clara mengambil ponselnya yang ada di tangan Velyn, dia mencoba menghidupkan handphone nya kembali.
"Please... Jangan mati sekarang dong." Clara menampar-nampar layar ponselnya dan mencoba menghidupkan nya kembali. Nihil, handphone Clara tidak hidup sama sekali.
"Huh." Velyn menyugar rambutnya ke belakang dan mengusap wajahnya kasar. Clara tetap berkali-kali mencoba menghidupkan handphone nya. Tidak ada yang mereka harapkan sekarang. Handphone Clara yang menjadi petunjuk jalan mereka tidak bisa digunakan lagi.
•••
Di posisi Edwin dan juga Dion.
Mereka masih bingung jalan mana yang harus mereka pilih.
"Kira-kira menurut lo kita lewat mana, Ion?" Tanya Edwin.
"Nggak tahu." Jawab Dion acuh. Edwin kembali menatap jalanan yang ada di depan mereka Kesalahan besar bagi Edwin karena memilih jalan yang berlawanan dengan Chika, Clara, dan Velyn. Edwin dan Dion berjalan memasuki gang yang lumayan besar dan sedikit terang. Edwin berada di depan, sedangkan Dion berada di belakang.
•••
Bram mengusap kepala Jeje dan mengelus pipi gembul anak kecil itu. Dia merasakan sedikit tenang karena mendapatkan hiburan dari Jeje.
Erica yang kembali fokus menatap layar ponselnya tersenyum ketika melihat layar ponselnya yang menurutnya menunjukkan dimana keberadaan Velyn, Clara, dan Chika. Erica langsung berdiri dari duduknya. Gary, Jack, dan Richo bersamaan menatap Erica.
"Gue tahu dimana Velyn sekarang." Ucap Erica. Bram, Gary, Richo, dan Jack kaget dan berdiri, mereka berjalan mendekati Erica.
"Lo serius?" Tanya Bram pada Erica. Erica mengangguk mantap menatap Bram.
"Tempatnya nggak terlalu jauh dari sini." Ucap Erica.
"Lo tahu darimana?" Tanya Gary ragu pada Erica.
"Nih." Erica menunjukkan ponsel nya pada Gary. Bram, Richo dan Jack merapat dan melihat layar ponsel Erica.
"Lokasi yang aman di sekitaran Jakarta ini hanya tempat yang kita tempati sekarang dan juga tempat-tempat terpencil. Gue yakin, Velyn, Clara, Chika berada di salah satu tempat terpencil itu. Dan tempat-nya nggak terlalu jauh dari sini." Jelas Erica dan melihat sekitarnya. Bram, Gary, Jack dan Richo mengangguk mengerti.
"Kita lewat mana sekarang?" Tanya Bram.
"Kita lewat gang yang ada di depan sana. Memang jauh, tapi tempat itu bisa dikatakan aman." Jawab Erica.
"Hm. Oke, sekarang kita pergi, sebelum para monster itu menemukan keberadaan Velyn." Ucap Bram. Mereka semua berjalan ke depan menuju gang kecil yang dikatakan Erica.
•••
Edwin dan Dion masih berjalan dan belum menemukan tanda-tanda keberadaan Velyn, Clara, dan Chika. Edwin tanpa lelah berjalan mencari keberadaan ketiga wanita itu, Dion yang kesal dan tidak memperdulikan kondisi Chika, Clara dan Velyn. Tempat mereka sekarang lebih mendominan daripada tempat yang mereka lalui sebelumnya. Jalan yang lumayan besar, tempat yang diterangi dengan lampu-lampu jalan yang masih berfungsi memudahkan mereka untuk berjalan. Tapi, siapa yang bisa memastikan tempat itu aman untuk mereka. Edwin dan Dion tetap berhati-hati dan berjaga-jaga dengan jalan yang mereka lalui.
Edwin berhenti dan berbalik menatap Dion.
"Lo kok gitu sih?"
"Chika itu teman kita, dan lo tega ngomong gitu. Gue baru tahu ternyata lo itu egois. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain."
"Cih." Edwin tersenyum remeh dan berjalan meninggalkan Dion. Lagi-lagi Dion kesal karena Edwin, dia kembali berjalan mengikuti langkah Edwin.
•••
Erica, Bram, Gary, Jack, Richo dan Jeje memasuki gang kecil yang lumayan gelap dan sepi. Mereka berjalan dan mengawasi jalanan yang mereka lalui. Erica tetap fokus menatap layar ponselnya dan memegang tangan Jeje. Dia berjalan tepat di samping Bram.
Titik merah terlihat di layar ponsel Erica, dia berhenti yang membuat Bram dan yang lain ikut berhenti.
"Kenapa?" Tanya Bram.
Erica melihat ke depan lalu menatap Bram. "Mereka ada di depan." Ucap nya.
"Velyn?" Tanya Bram antusias.
Erica menggeleng. "Nggak. Tapi para monster itu." Jawab nya. Bram, Gary, Richo dan Jack kaget dan melihat ke depan.
"Terus kalo Velyn dan yang lainnya nanti lewat jalan itu gimana?" Tanya Bram khawatir. Erica diam dan menatap ke depan. Dia melihat di pinggir jalan terdapat sebuah kayu yang tidak terlalu besar. Erica berjalan dan mengambil kayu itu. "Jalan satu-satunya adalah dengan menyerang mereka." Ucap Erica menatap Bram.
Bram mengangguk melihat Erica, dia melihat sekitar nya mencari alat yang bisa dia pakai untuk melawan para Zombie itu.
Mereka semua sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Berhadapan langsung dengan para Zombie itu.
•••
Di sisi Chika, Clara dan Velyn.
Mereka memilih untuk tetap berjalan dibandingkan mereka hanya diam saja. Kehidupan yang amat sulit yang mereka jalani sekarang. Ketiga wanita itu berjalan dengan menahan rasa lelah mereka. Mereka tidak mempunyai waktu untuk beristirahat walau hanya sebentar. Mereka tidak mengetahui apakah di depan sana aman untuk mereka lalui.
Mereka berjalan selama satu jam lebih, dan inilah tantangan yang harus mereka hadapi. Beberapa Zombie berdiri dan berjalan dengan lesu. Chika, Clara dan Velyn berhenti ketika melihat Zombie itu berada di depan jalan yang harus mereka lewati. Clara menyentuh kedua lututnya dan membungkuk, dia mengatur nafasnya dan melihat para Zombie itu. Perempuan itu mungkin sudah pasrah akan nasibnya sekarang.
Bersamaan dengan itu, Bram, Erica, Jeje, Gary, Richo dan Jack muncul. Velyn, Chika dan Clara yang melihat itu kaget dan bahagia, perjuangan mereka untuk menemukan Erica dan yang lainnya tidak sia-sia. Bram juga seperti itu, dia sangat bahagia karena telah melihat Velyn dengan keadaan selamat meski penampilan sedikit kacau. Zombie itu sekarang berada di tengah-tengah mereka.
"Velyn." Lirih Bram.
Para Zombie itu mulai menyadari keberadaan Bram dan yang lain. Tanpa di tunggu kedatangan Zombie itu, Bram langsung maju dan menyerang para Zombie itu. Gary, Richo dan Jack ikut maju melawan para Zombie itu. Erica dan Jeje berjalan menghampiri Chika, Clara dan Velyn.
Velyn langsung memeluk tubuh Erica sambil menangis.
"Gue takut, Ric. Gue takut." Ucapnya sambil menangis.
"Udah. Yang penting kalian selamat." Ucap Erica dan melepas pelukan Velyn.
•••
Bersambung.