Chasing you

Chasing you
Episode 9



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Pagi-pagi sekali Eka sudah mengajak ku ke kantin, aku kira dia mengajak ku untuk beli cemilan atau minuman. Eh tahunya dia ternyata sudah janjian sama Dika dan Farhan di sana.


"Hai....." ucap Eka sambil melambaikan tangannya.


"Hai juga, sini duduk." balas Farhan.


Kami berdua pun langsung duduk di kursi yang berada tepat di depan mereka. Aku sendiri masih kebingungan,sebenarnya maksud Eka mengajak ku kesini pagi ini untuk apa?


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Jadi gimana?" tanya Dika.


"Ya aku sih,ikutin saran kamu aja." balas Eka.


"Sebenarnya kalian tengah ngobrolin apa sih?" tanya ku heran.


"Nay, sebaiknya kamu duduk aja dan simak apa yang kami bicarakan ini." ucap Farhan.


Aku agak terkejut dan langsung terdiam mendengar ucapan Farhan barusan.


"Kita harus secepatnya buat Azka jadian atau minimal punya pacar lah."


"Kasihan gue sama dia,tiap hari di teror terus sama feby." lanjut Dika.


"Setuju banget," timpal Farhan.


"Iya masalahnya sama siapa?"


"Pakai nanya lagi, sama Erika lah." balas Dika.


"Dih pede banget kamu,"


"Kan kamu tahu sendiri Azka seperti apa,dia bahkan sama sekali tidak pernah merespon Erika." lanjut Farhan.


Dika pun langsung terdiam sambil mengigit jari tangannya.


"Bener juga sih, gimana mau kita buat merek jadian. Azka sendiri tidak pernah merespon nya," ucap Dika.


"Jadi gimana dong?" tanya Eka.


"Kita harus cariin pacar untuk dia," lanjut Dika.


"Kamu nggak salah,mengatakan hal itu?" sambung ku.


"Kenapa tidak? Sejauh itu bisa bantu Azka jauh dari Feby."


"Aku sebagai temannya merasa sedih, aku tahu betul bagaimana dulu terlukanya Azka saat tahu Feby jadian sama cowok lain. Yang bikin kesalnya itu, kenapa sekarang Feby malah seolah menghalangi cewek yang coba deketin Azka."


"Hak dia apa coba? Apa karena di tahu Azka suka sama dia? Yang ada dia malah buat Azka terluka setiap hari." lanjut Dika.


"Bener banget," timpal Farhan.


"Nah aku punya ide,"


"Apa?" tanya Dika dan Farhan bersamaan.


"Gimana kalau kita cariin pacar bohongan buat Azka," lanjut Eka.


"Maksudnya?" tanya Farhan.


"Iya pacar bohongan, kita setting seolah Azka itu punya pacar. Nah kalau kayak gitu kan Faby pasti bakalan berhenti juga buat gangguin Azka." jelas Eka.


"Jangan becanda deh, nggak baik memainkan perasaan orang." timpal ku.


"Ya kan ini buat kebaikan Azka juga,"


"Ya tapi kan nggak gitu juga caranya Eka....."


"Terus apa dong? Aku sudah merasa muak dengan apa yang sudah di lalui sama Azka selama ini. Dia sudah cukup menderita selama ini," balas Eka.


Saat aku dan Eka tengah berdebat dengan prinsip kami masing-masing Dika dan Farhan malah terdiam setelah mendengar penjelasan Eka barusan.


"Setuju......" ucap mereka bersamaan.


"Hah? Yang benar saja. Kalian pasti sudah gila," ucap ku.


Aku sama sekali tidak habis pikir dengan apa yang mereka rencanakan kali ini. Aku sama sekali tidak menyetujui apa yang akan mereka rencanakan.


"Nay, sebaiknya kamu setuju saja. Ini semua untuk kebaikan teman kita ini," ucap Farhan.


"Terserah kalian saja, "


"Tenang,kalau masalah itu kamu serahkan saja sama kita berdua." timpal Dika dengan pedenya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di dalam kelas, Dika dan Farhan saling memberi kode satu sama lain. Mereka seperti kebingungan untuk mengajak Azka bicara. Aku hanya bisa senyum melihat tingkah keduanya, tadi saja mereka berdua sangat pese saat di kantin. Tahunya pas berhadapan langsung sama Azka nyali mereka berdua langsung ciut.


"Eh nih, tadi Deka dititipin ini." ucap Azka sambil memberikan satu kartu pada ku.


Ternyata itu kartu yang bisa aku gunakan untuk bisa pinjam buku ke kampus nanti.


"Makasih ya,"


"Bilang makasih nya sama Deka aja, aku hanya ke titipan saja." balasnya langsung berbalik membelakangi ku kembali.


"Ish laki-laki ini, mana ada cewek yang mau jadi pacar dia. Sikap nya angkuh seperti itu," gerutu ku pelan.


Tidak lama kemudian bel tanda jam pelajaran pertama pun berbunyi, semua siswa yang masih ada di luar kelas pun langsung masuk dan duduk di kursinya masing-masing.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


*Kring.........


Bel tanda jam pelajaran ke dua pun berakhir dan itu menandakan saat nya untuk kami istirahat. Eka pun langsung menarik tangan ku untuk pergi ke kantin bersama.


"Eka pelan-pelan aja,nanti jatuh."


"Iya......."


"Eka......" seru Dika.


"Ya,"


"Hari ini kita nggak bisa makan bareng, soalnya aku dan Farhan ada urusan."


"Ah iya," balas Eka seolah sudah mengerti dengan apa yang Dika dan Farhan rencanakan.


Sepeninggal mereka berdua,kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju kantinnya. Setibanya di sana,kami sangat beruntung karena belum begitu banyak siswa yang mengantri untuk mengambil makan.


"Kira-kira kita makan apa siang ini,yah." ucap Eka.


Dia nampak sudah tidak sabar untuk segera makan dan langsung mengambil nampannya. Ternyata hari ini menunya itu nasi goreng seafood,nugget,telor ceplok dan buah jeruk.


"Wah menu hari ini buat selera makan ku bertambah," lanjut Eka penuh semangat.


Dia pun langsung mengambil setiap menunya dan menaruhnya di atas nampannya. Setelah itu,barulah kami berdua duduk di kursi yang biasa kami tempati.


"Loh Dika sama Farhan mana? Tadi perasaan mereka udah pergi duluan dari kelas." ucap Azka yang baru saja datang.


"Mereka yah,"


" Aku pun tidak tahu,Azka. Mungkin mereka pergi ke kantin mbok Nur yang di belakang itu." lanjut Eka.


"Lah ini, kenapa Eka malah berbohong sama Azka? Padahal tadi sudah jelas kami bertemu." bisik ku dalam hati.


"Sudah lah, sebaiknya sekarang kamu makan saja. Tidak usah pikirin mereka berdua, mereka tuh udah pada gede udah bisa cari makan sendiri." lanjut Eka.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah selesai makan, Azka sudah lebih dulu pergi. Sedangkan Eka dia malah sibuk dengan HP nya dan sesekali melihat ke arah ku.


"Kamu lagi ngapain sih?"


"Ini aku lagi WA an sama Dika," balasnya.


"Ya udah yuk," ajaknya.


"Kemana?" tanya ku.


"Udah ikut aja,nanti juga kamu tahu." balasnya.


Aku pun hanya bisa pasrah mengikuti arah Eka pergi. Aku sendiri tidak tahu, rencana apalagi yang sekarang tengah mereka rencanakan.


Sampai akhirnya kami pun sampai di belakang laboratorium dan ternyata di sana sudah ada Dika dan Firman tengah duduk.


"Hei......" ucap Eka.


"Gimana sudah nemu?" lanjutnya.


"Itu dia, ternyata mencari pacar bohongan untuk Azka itu tidak semudah dengan apa yang kita pikirkan. Kebanyakan dari mereka menolak karena tidak suka dengan sikap Azka." jelas Dika.