
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sepulang sekolah Eka membantu ku untuk berjalan menuju parkiran, di sana aku tidak sengaja bertemu dengan Dafa.
"Hai Nay......" sapanya.
"Hai juga,"
Eka sendiri dia hanya senyum-senyum sendirian dengan tatapan yang meledek ku.
"Kamu mau pulang sekarang kan?" tanya Dafa.
"Iya, emang kenapa?"
"Aku anterin mau nggak?"
"Nggak usah,aku bisa sendiri kok. Lagian jarak rumah ku dari sini nggak jauh,"
"Emang kamu bawa kendaraan?"
"Itu......" tunjuk ku pada motor kesayangan ku.
"Ah, aku kira kamu nggak bawa kendaraan. Makanya aku nawarin kamu untuk ku antar pulang."
"Lagian kalau pun aku nggak bawa motor, aku kan bisa pulang bareng sama teman ku Eka. Lagian nggak biasanya kamu mau antar aku pulang." balas ku.
"Emangnya nggak boleh yah, bantuin orang yang kita kenal. Nggak salah kan?"
"Ya enggak sih,"
Saat aku tengah berdebat dengan Dafa, dari kejauhan aku melihat Azka yang tengah berjalan menuju parkiran di ikuti Feby.
Melihat mereka berdua, aku pun langsung meminta Eka untuk langsung pulang saja.
"Eh Daf,"
"Kamu ngapain sama mereka berdua? Emang kamu kenal sama cewek ini berdua?" ucap Feby dengan sombong nya.
"Kenal, emangnya kenapa?"
"Ya enggak sih, aneh aja kamu kenal sama mereka berdua." balasnya.
"Heh, Feb. Aku nggak mau buat masalah sama kamu lagi yah. Jadi jangan coba buat mancing-mancing yah,"
"Oh kepedean banget jadi orang," timpal Feby.
"Bukan kepedean, lah terus maksud kamu ngomong gitu ke Dafa apa? Kalau bukan maksud kamu itu kita berdua." balas Eka tidak terima.
"Udahlah, sebaiknya kita pulang aja." aku mencoba menarik tangan Eka.
"Sebentar Nay, aku masih belum puas."
"Udahlah kalian kok malah berantem sih, lagian kamu juga Feb, emang apa salahnya kalau emang gue temenan sama mereka berdua. Toh nggak ada yang larang gue," jelas Dafa.
Mendengar ucapan Dafa barusan aku tersenyum dalam hati dan menyembunyikannya sambil berbalik arah.
"Tapi kan......"
"Harusnya lo tuh mikir, hargain orang yang ada di samping kamu sekarang. Setahu ku mereka berdua itu temannya Azka bukan?" lanjut Dafa.
"Heran gue sama lo, nggak ada rubahnya. Tetep aja julid sama orang."
Dafa langsung pergi ke arah gerbang depan, karena memang motornya dia sudah terparkir tepat di depan pos satpam.
Aku dan Eka sendiri langsung mengambil motor kami masing-masing.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di rumah, aku mendapati ibu tengah membuat brownies coklat kesukaan ku.
"Wah, ibu tahu aja. Udah lama banget aku nggak makan brownies buatan ibu."
"Iya nak, kebetulan emang tadi ibu habis belanja juga. Eh kepikiran deh,mau buatin brownies buat kamu. Untungnya juga kan pekerjaan rumah udah selesai juga." jelas ibu.
"Oh iya, ibu sendirian aja emang. Bi Ratmi emang mana?"
"Ada, beliau tengah menyetrika pakaian. Tadi sih, di sini sama ibu."
"Ah iya aku mau cerita,"
"Cerita apa nak?"
"Pas waktu malam itu kan kata ibu ada teman ayah,main ke sini sama anaknya itu."
"Iya, terus......"
"Emang iyah? Ibu pun tidak tahu nak,"
"Namanya Dafa, tapi memang sih kami tidak mengambil jurusan yang sama. Dia ngambil jurusan IPS soalnya." jelas ku.
"Bagus dong kalau gitu,kan kamu nambah teman lagi."
"Iya bu....."
"Ya sudah sebaiknya sekarang kamu mandi,ganti baju. Sambil nunggu brownies nya matang."
"Oke siap,"
Aku pun langsung menuju ke kamar ku di lantai dua.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Malamnya sambil aku mengerjakan pelajaran yang ketinggalan waktu kemarin,bi Ratmi pun datang ke kamar ku untuk memijat kaki ku. Sekarang rasanya tidak begitu sakit, kondisinya pun sudah tidak begitu memar.
"Bibi dengar sekarang non,sudah kelas tiga yah?"
"Iya bi, sebentar lagi aku lulus."
"Non mau lanjutin kuliah di mana?"
"Sepertinya aku mau lanjutin kuliah ke luar negri bi,nggak tahu kenapa kayaknya mau cari pengalaman aja. Soalnya aku dulu punya teman dan sekarang dia tengah kuliah di luar negri juga." jelas ku.
"Ke mana non?"
"Jepang bi...."
"Jauh banget non, kirain bibi non bakalan masuk sekolah kemiliteran mengikuti jejak ayah non dan kakak non."
"Tidak bi, sepertinya aku tidak ada bakat untuk terjun ke bidang itu."
"Aku ingin fokus pada pelajaran seni aku bi,"
"Berarti sebentar lagi non bakalan mengadakan study tour dong."
"Dengar-dengar sih iya bi, tapi aku belum tahu tepatnya kapan." balas ku.
Tanpa terasa sambil belajar dan di pijitin bibi,waktu pun tidak terasa sudah menunjukan pukul 21.00 wib.
Setelah selesai memijit ku,bibi pun langsung berpamitan,begitu pun dengan aku bersiap untuk tidur. Karena besok aku harus bangun pagi,karena giliran aku untuk piket.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Keesokan harinya di sekolah,sehabis aku memarkirkan motor ku. Aku melihat bungkusan plastik berukuran sedang tergeletak begitu saja.
"Ya ampun,ini siapa sih yang buang sampah sembarangan di sini." ucap ku sambil meraihnya.
Karena tong sampahnya ada di depan gerbang, aku pun langsung membawanya ke sana sambil menutup hidung ku dengan tangan ku yang satunya lagi.
Setelah berhasil membuang sampahnya, aku melihat ada kertas berbentuk kapal terjatuh tepat di depan pos satpam. Karena penasaran dengan bentuknya,aku pun meraihnya.
"Bagus juga,ini punya siapa yah? Perasaan tadi aku tidak melihatnya di sini."
"Bisa nggak sih,nggak berhenti di tengah jalan?" ucap seseorang yang suaranya tidak asing bagiku.
"Apaan sih kamu,nggak bisa lihat apa ! Emangnya aku segede itu. Aku gak sampai nutupin ini jalan." timpal ku tanpa melihat ke arahnya.
"Emangnya aku harus merhatiin kamu terus apa?" balasnya.
Mendengar ucapan Azka seperti itu, aku pun langsung berbalik melihat ke arahnya yang tengah memegang sepeda kesayangannya.
"Ih biasa aja kali,nggak usah ngomel. Iya aku tau, kamu gak suka sama aku. Tapi kamu gak bisa apa,sedikit aja bersikap baik sama aku." balas ku.
"Gak bisa,kenapa?" ucapnya sambil berjalan mendahului ku.
"Azka......." teriak ku.
"Apa lagi?" balasnya malas.
"Segitu bencinya kamu sama aku. Sampai-sampai kamu selalu bersikap dingin terhadap ku, emang salah aku apa sama kamu?"
Aku pun langsung berbalik mendahului dia karena merasa kesal.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun memilih untuk tidak langsung pergi ke kelas,melainkan pergi ke belakang taman sekolah untuk menenangkan diri ku. Entah kenapa aku bisa sekesal ini sama Azka, aku merasa di khianati oleh Azka saat ini.
Air mata ku pun sudah tidak dapat ku bendung lagi,sampai akhirnya tumpah dan membasahi pipiku.