
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat Dika tengah sibuk menanyakan prihal keberadaan Azka. Tiba-tiba saja Azka masuk sambil menenteng tas milik ku.
Aku sangat kaget,belum sempat aku memberi dia isarat untuk tidak menunjukan tas nya,Azka sudah lebih dulu mengangkat tas ku.
"Nay, ini tas kamunya ketinggalan...." ucap Azka.
Sontak saja,perhatian teman-teman ku langsung mengarah pada ku semua.
"Nay......."
"Kamu bilang tadi...." ucap Dika.
"Itu,"
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa jelasin kok,"
Azka pun dengan santainya berjalan ke arah kami berempat sambil menenteng tas ku.
"Ini......." ucapnya sambil menyimpan tas kundi atas meja.
Aku pun buru-buru meraihnya dengan rasa malu ku.
"Kok tas nya Naya ada sama kamu?" tanya Eka.
"Ah itu, karena tadi....."
"Tadi mungkin aku meninggalkannya di parkiran dan mungkin Azka lah yang menemukannya lebih dulu." timpal ku.
"Heh.....'' balas mereka bersamaan seolah tidak mempercayai alasan ku.
Saat itu pula bel tanda jam pelajaran pertama berbunyi,aku merasa sangat beruntung. Karena mereka langsung membubarkan diri masing-masing duduk di kursinya mereka.
"Untung saja," bisik ku dalam hati.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat bel tanda jam pelajaran ke pertama berakhir dan sekarang giliran pelajaran olah raga. Aku pun langsung buru-buru keluar karena melihat Azka sudah lebih dulu keluar untuk ganti pakaian.
Untungnya Azka belum masuk ke toilet khusus laki-laki, jadinya aku keburu untuk menariknya.
"Eh ada apa ini?" ucapnya kaget.
Aku pun buru-buru membawa Azka menuju halaman belakang sekolah.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kami gimana sih, sembarangan banget. Gimana kalau teman-teman kita tadi tuh curiga sama kita."
"Curiga? Maksudnya apaan?" balas Azka heran.
''Iya lah, curiga. Bagaimana bisa tas aku ada sama kamu,kamu kok bisa ceroboh sih."
"Lah emang kenapa? Bukannya sejak awal mereka malah yang balik menjodohkan kita berdua. Terus kenapa kamu merasa khawatir?"
"Ya aku masih belum siap aja, lagian kan kita...."
"Kita apa?" ucap Azka memotong ucapan ku.
"Ya kan kita nggak pacaran,nanti mereka salah paham lagi." balas ku.
"Hah? Apa?" aku terkejut.
Azka hanya tersenyum sambil mengelus rambut ku pelan.
"Sudahlah, lagi pula aku pun mengerti. Kamu pasti masih kaget dengan apa yang barusan aku katakan."
"Aku pun tidak ingin kamu memberikan jawaban terburu-buru,pikirkan saja baik-baik. Aku akan menunggu nya," lanjut Azka.
"Iya......."
Setelah itu barulah kami berdua kembali ke kelas dengan terpisah.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat jam istirahat, seperti biasa aku dan teman-teman yang lain makan siang di tempat biasa. Namun aku tidak mendapati Azka kali ini, aku ingin menanyakannya namun urung aku lakukan karena takut mereka curiga.
"Eh si Azka mana?" tanya Eka.
Pertanyaan Eka barusan,sangat mewakili aku yang sejak tadi penasaran.
"Ah dia, tadi dia pergi ke ruang osis. Kan dua mingguan lagi ada pergantian osis."
"Ah iya aku lupa,"
"Emangnya kenapa?" tanya ku penasaran.
"Kan si Azka salah satu anggota osis di sekolah ini. Kalau nggak salah itu seksi olah raga."
"Umz......."
"Paling bentar lagi dia balik, masa iya dia nggak makan siang. Apalagi kan kita habis olah raga tadi," jelas Farhan.
Tidak lama setelah itu, Azka pun datang. Entah kenapa perasaan ku langsung merasa senang melihat kedatangannya. Layaknya seorang kekasih yang tengah menunggu kedatangan pasangannya.
Namun rasa senang ku langsung buyar seketika, saat melihat Feby yang berjalan tepat di belakangnya. Mereka terlihat begitu dekat dan asik mengobrol sambil antri untuk mengambil makan siang.
"Tadi aja, sok-sokan ngajakin aku jadian. Buktinya sekarang kamu malah jalan sama dia." gerutu ku dalam hati.
Azka pun kemudian menghampiri kami dan langsung duduk tepat di depan ku. Sedangkan Feby dia bergabung dengan temannya di meja yang lain.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Aku duluan yah," ucap ku.
"Lah kami mau kemana?" tanya Dika.
"Iya buru-buru banget,"
"Aku mau ke perpustakaan, ada buku yang harus aku pinjam." balas ku.
"Oh......" ucap Dika dan Farhan bersamaan.
Sedangkan Azka hanya diam saja sambil menatap ku.
Setelah itu, aku langsung beranjak dari tempat duduk ku dan berjalan menuju tempat pengembalian barang-barang bekas aku makan barusan.
Setibanya di perpustakaan, aku langsung memilih buku di lorong paling belakang. Sebenarnya aku tidak ada maksud untuk meminjam buku kali ini,hanya saja aku merasa kesal saja tadi melihat Azka dengan Feby.