Chasing you

Chasing you
Episode 15



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Apa?" ucap Eka sedikit maju.


"Tadi kalian ngomong apa tentang kami?" balas Niza.


"Ih kepedean banget,"


"Nggak ada kerjaan banget aku harus ngomongin kamu." timpal Eka..


"Eh jangan kira kita nggak dengar yah, tadi kalian berdua tuh nyebut-nyebut nama kita."


"Kalau iya emang kenapa? Kita lagian ngomongin fakta." sambung ku.


Feby terlihat sangat kesal menatap ku dengan begitu tajamnya.


"Heh......."


"Kalian lagi ngapain sih?" ucapan Dika langsung mengalihkan perhatian kami.


"Azka," Feby dengan cepat menghampiri Azka dengan manjanya.


Aku merasa jijik sekali melihat tingkah Feby barusan,ya meskipun aku sadari saat ini memang aku tidak punya hak untuk marah


Azka langsung melepaskan tangan Feby yang sudah berhasil merangkul tangannya Azka.


"Kamu apa-apaan sih? Lepasin Feb," ucap Azka.


"Ih Azka, kamu tuh harusnya belain aku. Tau nggak itu pacar baru kamu itu tadi menghina aku."


Azka langsung melihat ke arah ku,seolah dia percaya dengan apa yang di katakan Feby barusan.


"Apa? Lemah banget,langsung percaya gitu aja."


"Tuh kan kamu lihat sendiri,dia galak banget."


"Kok bisa sih, kamu sampai pacaran sama cewek arogan seperti dia." lanjut Feby.


"Heh, dasar cewek tidak tahu malu. Sekarang aja kamu bisa mengatakan hal seperti itu,setelah kamu tahu Azka punya pacar. Kemarin-kemarin kemana aja?" timpal ku.


Karena takut emosi ku langsung tersulut,aku pun langsung mengambil motor ku untuk langsung pulang saja.


Ternyata memang benar, Azka masih menyukai Feby. Buktinya dia tidak mampu untuk membela ku di depan Feby, meskipun hanya sekedar bohongan semata.


Mungkin aku saja yang terlalu kepedean,Azka bakalan membela aku di depan wanita ya g pernah mengkhianatinya. Namun sepertinya cinta memang mampu mengalahkan segalanya.


"Eh Nay, bareng......." ucap Eka mengikuti ku dari belakang.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di rumah, aku langsung mengajak Eka untuk langsung ke kamar ku.


"Nay, kamu marah ya?"


"Tidak, buat apa aku marah?


"Lagian kan hubungan aku dengan Azka cuma bohongan aja."


"Kamu lihat sendirikan tadi, Azka bahkan tidak bisa berkutik saat di dekat Feby." lanjut ku.


"Iya sih,"


"Udah lah, nggak usah omongin mereka. Yang ada malah buat mood ku jelek."


"Ah iya, aku mau mandi dulu. Kalau kamu mau ngemil ambil aja di laci sama di kulkas ada minuman dingin juga." ucap ku sambil menunjukannya pada Eka


"Iya......"


Aku pun langsung meraih handuk yang tergantung di depan pintu kamar mandi. Mungkin setelah mandi mood ku kembali membaik.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah kepulangan Eka tadi sekitar jam 5 an, aku pun memutuskan untuk keluar untuk sekedar mencari angin menyegarkan pikiran ku yang kalut.


Sampai akhirnya aku sampai di sebuah toko yang menjual minuman dan beberapa cemilan juga,aku pun memutuskan untuk memesannya.


Setelah mendapatkan yang aku mau, aku langsung mencari tempat duduk untuk aku menikmati makanan yang sudah aku pesan. Dan pilihan ku terjatuh pada meja yang terletak di bagian luar,yang menyuguhkan pemandangan sore yang bagus.


"Kurasa ini lebih baik, dari pada di rumah saja." ucap ku sambil menikmati pemandangan yang ada di hadapan ku saat ini.


Tanpa terasa hari pun sudah malam,aku pun menutuskan untuk langsung pulang dan turun dari lantai 2. Saat aku hendak mengambil motor ku,tidak sengaja aku malah bertemu dengan Azka. Sepertinya dia pun hendak makan di tempat ini.


"Naya......." panggilnya.


Aku memilih untuk diam dan tidak membalas panggilannya barusan.


"Nay ......" Azka langsung meraih tangan ku.


"Apa sih?"


"Kita perlu bicara,"


"Soal?"


Tanpa menjawab pertanyaan ku Azka langsung menarik ku ke arah parkiran.


"Apa? Aku mau pulang."


"Jadi begini, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita yang palsu ini." ucapnya.


Mendengar Azka mengatakan hal itu barusan, entah kenapa aku merasa kecewa dan sedih secara bersamaan.


"Aku tahu ini mungkin gerdengar konyol atau gimana,hanya saja aku tidak mau kamu terus di ganguin oleh Feby."


"Lagi pula aku rasa......"


"Baiklah, aku setuju. Lagi pula ini hanya bohongan kan," timpal ku.


Aku pun langsung melepaskan genggaman Azka dan berjalan menuju motir ku. Setelah berhasil pergi dari area toko itu, di tengah perjalanan aku sudah tidak mampu membendung air mata ku lagi dan menangis sekerasnya.


"Kenapa dengan aku ini, kenapa aku merasa sedih dan kecewa?" isak ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Paginya Eka sengaja datang ke rumah ku untuk mengajak ku berangkat sekolah bareng. Karena memang kemarin sore kami sudah janjian untuk pergi bersama hari ini.


"Nay, kamu kenapa? Aku perhatikan wajah kamu sembab gitu."


"Ah ini, mungkin karena semalam aku begadang nonton drama korea. Jadinya kayak gini deh, kurang tidur soalnya."


"Eh iya aku lupa, ada yang ingin aku katakan sama kamu."


"Apaan?"


"Akting aku untuk jadi pacar bohongan Azka. Kemarin sore dia sendiri yang mengatakannya pada ku untuk mengakhiri hubungan ini."


Eka tampak terkejut mendengar apa yang aku katakan.


"Ya mau gimana lagi, kan emang awalnya ini hanya setingan aja." balasnya.


"Ya udah yuk, kita berangkat. Hari ini kan terakhir kita masuk,jadinya kita harus semangat karena besok kita libur." ajak Eka.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di sekolah, suasana pun kembali seperti awal lagi. Aku dan Azka seolah tidak dekat satu sama lain dan bahkan kami pun tidak saling sapa saat bertemu.


Untuk mengurangi rasa bosan ku, aku pun memutuskan untuk pergi ke area taman belakang. Di sana tidak terdapat banyak siswa paling hanya ada beberapa saja yang tengah bersantai sambil membaca buku.


Saat aku hendak duduk di kursi yang dulu sempat aku duduki. Ternyata di sana sudah ada sosok laki-laki yang tengah tertidur pulas.


"Ya ampun,bisa-bisanya dia malah tidur di sini," ucap ku sambil berbalik arah.


*Bruk......."


Tiba-tiba saja aku tidak sengaja menabrak seseorang dengan cukup keras.


"Awh........" meringis kesakitan.


"Kalau jalan tuh lihat-lihat, nggak lihat apa ada orang segede gini." bentak ku.


"Maaf kak, aku tidak sengaja. Soalnya tadi saya buru-buru,"


"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi, untung aja kita tidak sampai jatuh."


"Iya kak......"


"Ish berisik sekali, kalau mau ribut jangan di sini. Gangguin orang tidur aja," ucap seorang laki-laki yang tadi tidur.


Dia langsung bangun dari tidurnya dan duduk sambil melihat ke arah kami berdua.


"Maaf kak Dafa, aku tidak sengaja." ucap siswa yang baru saja bertambrakan dengan ku.