Chasing you

Chasing you
Episode 23



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku, aku merasa wajah ku terbakar panas.


"Kamu kenapa?" tanya Eka.


"Enggak...."


"Eh iya makasih ya, karena kalian udah nyempetin waktu buat jenguk aku."


"Tidak apa-apa, lagian kan kapan lagi kita busa main ke sini dan tahu rumah kamu."


"Eh tahu nggak, tadi di bawak kita ketemu sama ayah kamu. Ya ampun perasaan ku tuh campur aduk. Emang yah, beda kalau ketemu sama seorang TNI tuh." lanjut Dika.


"Beda apanya, perasaan biasa aja." balas ku.


"Ya beda aja, ada rasa segan." timpal Farhan.


"Oh iya lupa, aku nggak nawarin kalian minuman. Itu ambil aja di kulkas,ada cemilan juga di sana."


"Iya tenang aja, lagian tadi sebelum kesini kita udah makan di rumahnya Farhan." balas Eka.


"Iya kebetulan orang tua aku punya bisnis restoran gitu," sambung Farhan.


"Kapan-kapan kamu main dong," lanjutnya.


"Kedengarannya bagus, nanti deh kapan-kapan aku ajakin ayah dan ibu. Kebetulan minggu depan kakak aku pun pulang dari Sulawesi." jelas ku.


"Wih jauh banget," ucap Dika.


"Iya lagi di tugaskan di sana."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Paginya, setelah sarapan aku pun langsung ikut dengan ayah. Karena ayah memaksa hari ini beliau ingin mengantar ku lebih dulu ke sekolah.


"Ada angin dari mana ini, ayah tumben mau nganterin aku berangkat sekolah."


"Ya sekalian ayah berangkat kerja juga nak," balas ayah.


"Nanti pulangnya kamu minta supir buat jemput yah."


"Iya.........


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tanpa terasa akhirnya aku pun sampai di depan gerbang sekolah, aku pun langsung berpamitan sama ayah dan turun.


Setibanya di parkiran aku mendapati Azka yang tengah duduk sendirian di atas motornya.


"Tumben dia sendirian," ucap ku pelan sambil memperhatikannya.


Tidak lama setelah itu, saat aku melewati dia. Azka langsung memanggil ku.


"Naya......!" serunya.


"Iya kenapa Azka?"


"Kamu mau ke kelas kan?"


"Iya......."


"Ya udah bareng." balasnya singkat.


Aku sempat terdiam dan hanya menatapnya saja. Aku tidak salah dengar dia mau bareng bersama ku kelas.


"Tumben banget ini anak, biasanya nggak begini." bisik ku dalam hati.


"Enggak ah....."


"Nanti ada yang marah lagi. Aku bisa sendiri kok,lagian kayaknya yang lain pun masih belum pada datang juga."


Sekarang malah Azka yang malah balik terdiam dan hanya menatap ku.


"Nay......." ucapnya pelan.


"Apa lagi? Udah ah, aku mau ke kelas. Nanti ada yang lihat lagi dan salah paham sama kita."


Baru saja aku melangkahkan kaki ku beberapa langkah,Azka langsung meraih tangan ku dan menariknya.


"Sepertinya aku menyukai kamu......"


* Deg.........


Mendengar Azka mengatakan hal itu, aku langsung berbalik arah dan menatapnya.


"Apa aku tidak salah dengar? Apa kamu sedang mempermainkan ku sekarang?" ucap ku.


"Azka......."


"Jangan becanda deh, aku tahu mungkin sekarang pikiran kamu tengah kacau atau goyah. Makanya kamu main ngomong gitu aja,"


Azka pun langsung menarik ku dan membawa ku pergi dari parkiran.


"Kita mau ke mana?" tanya ku.


Azka hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan ku. Pandangannya lurus kedepan dan tidak sekalipun melihat ke arah ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sampai akhirnya kami pun sampai di sebuah ruangan studio di lantai 3 tepatnya di atas kelas ku.


"Kenapa kamu malah membawa ku ke sini? Nanti kalau ada yang lihat kita gimana?"


"Tidak akan ada yang lihat kita, hanya aku saja yang bisa masuk ke ruangan ini." balasnya.


Aku dan Azka pun hanya terdiam satu sama lain dengan pikiran kami masing-masing.


"Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan tadi?"


"Tentu saja, bagaimana aku bisa percaya begitu saja."


"Bukanya sekarang kamu tengah dekat dengan Feby lagi bukan. Dengar yah, aku tidak mau hanya jadi pelampiasan kamu saja."


"Bisa saja kan, sekarang perasaan kamu tengah goyah dan sembarangan ngomong kayak tadi." lanjut ku.


"Aku sadar Nay........"


"Aku sadar dengan apa yang aku katakan pada kamu tadi. Aku serius,"


"Terus bagaimana dengan Feby? Apa kamu akan baik-baik saja meninggalkan dia?"


"Aku sudah merenungkan ini beberapa kali, sampai akhirnya aku menyadari. Aku tidak bisa balikan lagi dengan Feby, bisa saja saat ini perasaan di hati Feby bukanlah perasaan suka atau cina terhadap ku. Melainkan rasa penyesalan dari beberapa hal yang belum terselesaikan dari masa lalu kami berdua."


"Aku pun mengakui dulu aku sangat menyukainya, sampai aku berpikir aku tidak bisa lagi menyukai orang lain selain Feby. Tapi ternyata semua itu salah, karena pada kenyataanya sekarang ada orang lain di hati aku yaitu kamu." lanjut Azka.


Mendengar penjelasan Azka barusan aku hati ku tersentak kaget.


"Aku tahu ini pasti buat kamu kaget, aku sudah berusaha untuk menahannya. Tapi melihat kejadian kemarin menimpa kamu itu, aku merasa tersiksa. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat kamu terluka oleh ku."


"Tentu saja aku kaget, aku sama sekali tidak pernah mengira sebelumnya. Bagaimana bisa kamu sekarang malah balik menyukai ku, sedangkan yang aku tahu selama ini kamu begitu mengagumi Feby." balas ku.


"Aku masih bingung harus mengatakan apa, aku sendiri......."


Belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku,Azka langsung meraih leher ku dan mendekatkannya dengan wajahnya.


"Apakah setelah ini, kamu pun akan menyadari perasaan kamu terhadap ku?"


"Apa?" balas ku heran.


Azka pun langsung mencium bibir ku secara tiba-tiba, aku tersentak kaget dan langsung menutup mata ku.


"Apa yang aku lakukan ini? Bagaimana bisa aku...." bisik ku dalam hati.


Setelah mencium ku, Azka pun menggenggam tangan ku erat.


"Aku akan menunggu kamu," ucapnya sambil menatap ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di kelas, aku langsung duduk di kursi ku dengan perasaan yang masih campur aduk. Sedangkan Azka dia masih di luar karena kami berpisah saat baru menuruni tangga tadi.


"Nay.....!" seru Eka yang baru saja datang.


"Kamu kenapa? Kok bengong sih, apa masih sakit bekas kemarin itu?" tanya nya.


"Ah tidak....."


"Kalau tidak, terus kenapa? Janganlah kamu banyak bengong, nanti kesambet lagi." ucapnya.


"Ish kalau ngomong tuh suka sembarangan,"


"Lagian kamu sih, aku baru datang lihat kamu lagi bengong sendirian di kelas kan takut."


Tidak lama setelah itu Dika dan Farhan pun datang sambil memakan cemilan yang mereka bawa dan langsung menghampiri kami berdua.


"Eh lihat Azka nggak?" tanya Dika.


"Mana aku tahu, aku pun baru datang." balas Eka.


"Kemana yah dia? Aku lihat motornya udah terparkir lebih duluan. Lah terus dia kemana, di bawah pun tidak ada." lanjut Dika.