
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Tapi ini bukan salah kamu juga kan, kamu kan tidak tahu kalau di dalam risolnya itu ada sosisnya."
"Tetap saja,"
Tidak lama kemudian bu Ratna keluar dari dalam ruangannya dengan satu orang petugas.
"Gimana bu?" tanya Dika
"Udah kamu tenang aja, ini tidak separah yang kamu pikirkan."
"Untung nya kamu tadi langsung bawa Naya ke sini,jadi ibu bisa langsung memberikan pertolongan pertama sama dia." lanjut bu Ratna.
"Terus gimana bu? Apa sekarang saya sudah bisa masuk?"
"Tentu saja, tapi ingat jangan berisik yah."
"Baik bu,"
Setelah mendapatkan ijin dari bu Ratna Eka dan yang lainnya pun langsung masuk.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
*Di taman sekolah........
"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi melamun terus?" tanya Feby.
"Enggak,"
"Jangan bohong, dari tadi loh aku ajak kamu bicara. Tapi kamu sama sekali tidak merespon ku."
"Udah lah Feb, aku sedang malas untuk berdebat dengan kamu kali ini."
"Sebaiknya aku ke kelas saja." ucap Azka sambil bangkit dari duduknya.
"Kamu kenapa sih,sebenarnya. Kamu kok malah balik marah sama aku. Aku kan hanya nanya aja kamu kenapa,"
"Ya karena aku nggak kenapa-kenapa. Jadi berhenti terus mengulang kata-kata itu."
Azka pun langsung pergi begitu saja tanpa melihat Feby kembali.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampai nya di kelas, Azka langsung duduk di kursinya sambil merenung. Tidak lama kemudian Farhan pun datang dan langsung menghampiri Azka.
"Kamu di sini ternyata, tadi aku cariin kamu di bawah."
"Iya tadi aku ke sini lebih dulu,"
"Ah iya, gimana keadaan Naya?"
"Untungnya sekarang dia sudah sadar. Ya meskipun lehernya agak bengkak dikit."
"Makasih ya, karena tadi kamu sudah bantu buat gendong Naya sampai klinik." ucap Farhan.
Azka hanya terdiam dengan tatapan yang kosong.
"Naya yang sakit, tapi kenapa malah kamu kayak orang yang sakit."
"Kenapa? Cerita deh sama aku."
"Aku merasa tidak enak aja sama dia,"
"Dia siapa maksud kamu?" tanya Farhan kembali.
"Naya......"
"Hah? Kok kamu merasa tidak enak gitu sama dia? Emangnya kamu buat apa sama dia?"
"Entahlah aku pusing,"
''Ya sudah sebaiknya tenangkan dulu pikiran kamu, aku pun bingung harus memberi saran seperti apa. Karena kamu pun kayak nya masih bingung gitu."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
*Di klinik.........
Saat aku membuka mata ku, aku mendapati Eka,Dika dan Farhan tengah berdiri mengelilingi ku.
"Nay......" ucap Eka sambil memegang tangan ku.
"Hem....."
"Gimana sekarang? Apa kamu sudah tidak merasakan sesak lagi?" tanya nya.
"Tidak, aku sudah merasa baik sekarang. Hanya saja kepala ku masih sedikit pusing."
"Oh iya, kok aku bisa sampai di sini? Kan tadi kita di kantin."
"Tadi kamu tuh pingsan, makanya kita tuh langsung bawa kamu ke sini. Untung aja tadi Azka bantuin buat gendong kamu sampai ke sini." jelas Eka.
"Azka....?"
"Iya Azka, dia yang bawa kamu ke sini." tegas Eka.
"Sudah lah, tidak usah di pikirkan. Yang terpenting sekarang kamu sudah sadar," lanjutnya.
Tidak lama setelah itu, Farhan pun ijin untuk lebih dulu kembali ke kelas. Sedangkan Eka dan Dika mereka memilih untuk menjaga ku di klinik.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku tadi sudah menelpon supir ayah untuk menjemput ku ke sini. Dan sekarang beliau mungkin sudah menunggu ku di depan.
"Besok kalau kondisi kamu masih belum membaik,jangan masuk dulu. Tunggu sampai kondisi kamu pulih." ucap Eka.
"Tidak lah, lagian sekarang pun aku merasa sudah baikan. Terlebih lagi di rumah aku punya obat yang biasa aku konsumsi saat alergi ku kambuh." jelas ku.
"Iya takutnya......."
Sesampainya di parkiran, aku melihat Azka dan Farhan tengah duduk di motor mereka masing-masing. Melihat kedatangan ku, mereka pun langsung beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri ku.
"Nay....." ucap Farhan.
"Gimana, udah baikan?"
"Sudah......"
"Eh udah yah, biarkan Naya pulang dulu. Itu supirnya udah datang.'' timpal Eka.
"Ya udah kalau gitu, cepat sembuh yah."
"Azka......!" seru ku
Azka tampak kaget saat aku memanggil namanya.
"Ya......"
"Makasih ya, aku dengar tadi kamu sudah bantu aku."
"Ah itu....."
"Sama-sama," balasnya.
Setelah itu barulah aku pun langsung pulang dengan di antarkan oleh Eka menuju mobil.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di rumah, ibu dan ayah sudah menunggu ku di depan rumah. Tampak mereka raut wajah mereka berdua khawatir melihat kedatangan ku.
"Naya......" ibu langsung berlari menghampiri ku.
"Aku sudah tidak apa-apa kok bu,"
"Tetap saja, ibu khawatir." ibu sudah berlinangan air mata.
"Bu sebaiknya kita bawa Naya dulu masuk," ucap ayah.
"Ya sudah......"
Ibu dan ayah pun langsung memapah ku sampai menuju kamar ku. Tidak lama kemudian bibi Ratmi pun menyusul dengan membawa minuman dan makanan untuk ku.
"Sekarang kamu makan dulu, ibu sudah buatkan sup kesukaan kamu. Setelah itu minum obat yang biasa pemberian dari Dokter Hendra." jelas ibu.
"Iya bu......"
Ayah dan ibu pun menemani aku selama makan. Tidak hentinya ibu pun menanyai aku prihal kejadian yang menimpa ku hari ini.
Meski pun awal nya beliau agak marah pada ku, terlebih lagi ini bukan kali pertama untuk ku. Karena dulu saat aku masih di Surabaya pun aku sering sembarangan makan dan akhirnya buat aku jatuh sakit karena keteledoran ku.
"Sudah lah bu, tidak ada gunanya juga kamu marahin dia. Yang terpenting sekarang ini kondisi Naya sudah membaik. Sekarang biarkan saja Naya istirahat supaya kondisinya pun cepat pulih." ucap ayah mencoba untuk menenangkan ibu.
"Ibu bukan marah ayah, ibu kesal saja. Ibu seperti ini pun karena ibu khawatir,"
"Iya ayah tahu bu,"
"Sudah, sekarang sebaiknya kita turun dan biarkan Naya beristirahat lebih cepat."
"Ya sudah......"
"Nak kami langsung istirahat yah, kalau ada apa-apa langsung panggil ibu atau bi Ratmi." lanjut ibu.
"Iya bu........"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Malamnya bi Ratmi datang ke kamar ku dan beliau pun memberitahu ku bahwa di bawah ada teman ku datang.
"Ya sudah bi, suruh langsung naik aja ke sini."
"Baik non,"
Bi Ratmi pun kemudian keluar kembali, setelah itu Eka dan yang lainnya pun datang.
"Ya ampun aku kira siapa," ucap ku setelah mengetahui kalau yang datang itu Eka dan yang lainnya.
Perhatian ku langsung tertuju pada Azka yang paling belakangan sampai.
"Iya, kami sengaja malam-malam ke sini untuk jenguk kamu."
"Ya sudah sini duduk,"
Mereka pun langsung masuk dan duduk di karpet yang biasa aku gunakan untuk nonton TV.
Mata ku langsung tertuju pada Azka dan betapa kagetnya aku, karena Azka pun malah balik melihat ke arah ku juga.