
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Lah kalau seperti ini ceritanya gimana dong, yang ada kita bakal kesulitan buat bantuin Azka."
"Nggak tahu,kita juga bingung harus gimana." timpal Dika.
Saat mereka tengah sibuk berpikir mencari solusi untuk membantu Azka,tiba-tiba saja terdengar keributan dari kejauhan. Awalnya kami berempat cuek-cuek saja dan tidak menghiraukannya,namun ada salah satu murid yang berteriak menyebut nama Azka.
Kami pun langsung beranjak dari tempat duduk dan berlarian menuju tempat keributan itu terjadi.
Dan benar saja, di sana sudah ada Azka,Feby dan Dave yang merupakan pacar Feby. Wajah Azka sendiri sudah di penuhi dengan luka memar,Dika yang melihat itu langsung melerai Dave.
"Kamu gila? Kamu mau buat dia mati apa?" bentak Dika.
Sedangkan Feby sendiri dia tengah terisak sambil jongkok.
"Hentikan Dave," lanjut Dika.
Farhan pun langsung meraih Azka dan membawanya pergi dari kerumunan itu. Aku dan Eka sama-sama terkejut melihat kejadian ini.
"Lo kenapa sih? Sampai segitu teganya siksa Azka seperti itu? Lo sadar gak sih,dengan apa yang lo lakuin itu."
"Gue kesel ka,"
"Karena Feby masih saja peduli dan dekat sama Azka."
"Hah? Gue gak salah dengar."
"Harusnya lo tanya tuh sama Feby, bukan malah siksa Azka kayak gitu. Siapa orang yang akhir-akhir ini datangi Azka terus?"
"Lo salah orang udah siksa Azka seperti ini,harusnya lo cari pembenaran sama pacar lo ini." lanjut Dika.
HH
Setelah meluapkan semua kekesalannya,Dika pun pergi begitu saja di ikuti aku dan Eka.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setibanya di klinik,kami langsung menuju bilik dimana Azka berada. Dia tengah di obati oleh petugas kliniknya beserta Farhan juga.
"Mau si Feby apa sih? Apa dia mau buat kamu mati di tangan pacarnya itu?" ucap Dika kesal.
"Entahlah,"
"Kenapa tadi kamu tidak melawan Azka dan malah diam saja seperti itu?"
Azka hanya terdiam sambil menahan rasa sakit yang di deritanya saat ini. Aku merasa hal yang paling menyakitkan buat Azka sekarang itu adalah kenyataan Feby yang memilih diam saja dan tidak mengatakan apa-apa.
Hal itu pula yang menyebabkan Dave salah paham sama Azka,karena pada kenyataannya Feby lah yang setiap hari coba untuk deketin Azka.
"Gue marah bukan karena benci atau apa,hanya saja gue tidak terima lo di perlakukan seperti ini sama Dave." ucap Dika.
"Nay, sebaiknya kita pergi dari sini deh."
"Aku rasa situasinya sudah mulai memanas," lanjut Eka setengah berbisik.
Aku dan Eka pun langsung keluar dari ruangan itu dan memilih untuk ke kelas lebih dulu.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di dalam kelas,di sana sudah ramai dengan siswa yang tengah membicarakan kejadian yang menimpa Azka tadi. Kebanyakan dari mereka yang menyudutkan dan kecewa dengan sikap Dave pada Azka.
"Gimana keadaan Azka sekarang?" tanya Dera.
"Dia lagi di klinik,tengah di obati." balas Eka.
"Kalau gitu aku mau minta surat ijin pulang saja,supaya Azka bisa pulang lebih dulu untuk istirahat. Ini pasti cukup buat dia terkejut," jelas Dera.
"Ya sudah........"
Sepeninggal Dera kami semua langsung bersiap untuk mengikuti pelajaran berikutnya yang tersisa. Meskipun pada kenyataannya pikiran kami semua tengah terbagi dengan kejadian yang menimpa Azka hari ini.
Biar bagaimana pun,kita semua tahu cerita yang terjadi antara mereka betiga.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Ih aku sama sekali tidak mengerti dengan Feby, mau dia apa sih? Apa emang yang dia mau itu seperti ini?" ucap Eka kesal.
"Kemarinkan kita tidak sengaja mendengar obtolan mereka berdua."
"Aku sudah punya firasat soal ini,tidak mungkin Dave bakalan tinggal diam melihat Feby yang masih saja coba deketin Azka." lanjut Eka.
"Sudahlah Eka, kita ke sini bukan untuk membahas masalah tadi. Kita ke sini mau beli buku,"
Aku pun langsung menarik tangan Feby masuk ke dalam toko bukunya.
Setelah berkeliling beberapa saat dan mendapatkan apa yang aku mau,kami pun menyempatkan untuk duduk terlebih dulu. Karena ternyata di luar malah turun hujan,untungnya di toko buku ini juga tersedia kantin atau toko yang menjual minuman dan beberapa cemilan juga.
Tanpa menunggu lama, aku dan Eka langsung memesan beberapa menu untuk kami. Eka sendiri memesan teh hangat dan mie rebus,sedangkan aku memilih untuk memesan bakso malang dan es jeruk.
"Kamu kok bisa sih,malah pesan es. Di luarkan hujan," ucap Eka.
"Kan itu di luar,"
"Iya juga sih."
Tanpa menunggu lama,kami langsung menyantap makanan kami dengan lahap dan dalam hitungn menit saja kami sudah bisa menghabiskannnya.
"Kita kelihatan banget laparnya,iya gak sih?" ucap ku sambil memandang ke arah luar.
"Bukan lapar lagi, aku emang sudah lapar sejak tadi. Tenaga terkuras habis gara-gara kejadian hari ini." balas Eka.
"Gimana yah,caranya supaya Azka bisa dapat pacar. Bisa saja kan,setelah Azka punya pacar Feby pun bakal jauhi dia." lanjut Eka.
"Ya aku tidak tahu lah,"
Eka pun terdiam sambil memandangi hujan di luar sana,aku sendiri memilih untuk memainkan HP ku.
"Aku ada ide," ucapnya penuh semangat.
"Apaan?"
"Gimana kalau kamu saja yang jadi pacar bohongan Azka?"
"Hah?" ucap ku terkejut.
"Kamu jangan becanda Eka. Tidak lucu,"
"Aku serius Nay,"
"Tapi Eka,"
"Itu sama saja dengan mempermainkan perasaan seseorang." lanjut ku.
"Siapa yang di permainkan? Kamu kan nggak ada ketertarikan sama Azka. Begitu pun Azka,"
"Nggak tahu ah, aku nggak mau."
"Ayolah Nay, kamu bantu aku dan yang lainnya sekali ini saja. Kita lakuin ini tuh,kan buat kebaikan teman kita juga. Kita mau nolongin dia dari gangguan Feby."
"Emangnya kamu mau,kedepannya kejadian seperti tadi itu terus terulang kembali?" lanjut Eka.
"Ya tapi bukan begitu,"
"Terus apa?"
"Masalahnya emangnya Azka mau dan setuju dengan ide yang kalian rencanakan ini. Kamu kan jauh lebih tahu Azka seperti apa," jelas ku.
"Tenang, kalau masalah itu aku akan bicarakan sama Dika dan Farhan."
Eka tampak puas,raut wajahnya tampak bersemangat setelah berhasil membujuk ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Kami pun akhirnya pulang sekitar jam 4 sore,setelah hujannya reda. Sepanjang perjalanan pikiran ku tidak menentu dan memikirkan bagaimana tanggapan Azka nanti setelah mengetahui ide konyol yang di rencanakan oleh mereka.
"Tau lah aku pusing,gimana besok aja. Anggap saja aku bantuin dia kali ini." ucap ku sambil melajukan motor.