Chasing you

Chasing you
Episode 26



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sekitar jam 4 sore kami pun berpamitan untuk pulang,karena Eka sendiri dia sudah ada janji dengan saudaranya. Kebetulan memang saudaranya itu tengah hamil dan meminta di bawakan buah jambu untuk di buat rujak buah katanya.


Sesampainya di rumah, aku langsung menuju dapur untuk memberikan buah jambu yang aku bawa dari Dika.


"Dari mana non, kok banyak sekali?" tanya bi Ratmi.


"Ini bi, pemberian dari teman ku Dika. Yang waktu itu main ke sini,"


"Oh......."


"Kebetulan di rumahnya dia punya pohon nya,jadinya dia sengaja mengajak aku dan teman-teman yang lain untuk memanennya." lanjut ku.


"Ini enak di buat rujak non,"


"Iya bi, sok aja. Aku mah sudah kok,"


"Kalau enggak di bikin manisan aja bi."


"Benar juga ya non, ya sudah nanti bibi buatkan."


Setelah itu, aku langsung menuju kamar ku untuk mandi dan ganti pakaian.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Malamnya aku turun untuk makan malam, kebetulan saat aku turun ibu tengah berada di ruang keluarga tengah nonton TV sendirian.


"Bu......."


"Ibu sendirian aja? Ayah mana?"


"Ayah lagi ada kerjaan di luar kota,mungkin lusa baru pulang. Baru saja tadi siang ayah berangkat,itu pun mendadak karena ada rekan kerjanya yang tengah sakit dan tidak bisa pergi. Jadinya ayah lah,yang masuk untuk menggantikannya." jelas ibu.


"Ah pantas saja, tadi pulang sekolah aku tidak lihat mobil ayah di depan."


"Kamu mau makan? Itu makanannya sudah di siapkan. Ibu tadi sudah duluan makan,kirain kamu nggak bakal turun. Soalnya dari tadi sore kamu diem aja di kamar." ucap ibu.


"Itu karena aku tengah mengerjakan tugas dulu sebentar, soalnya kalau di nanti-nanti yang ada aku malas."


"Ya sudah sana makan dulu,nanti kita nonton film di sini bareng-bareng sama ibu.''


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah selesai menghabiskan makanannya, aku pun langsung menghampiri ibu di ruang keluarga. Ibu tampak asik tengah menonton TV sendirian.


"Seru banget bu,"


"Iya nak, ini tadi ibu baru beli CD yang baru."


"Eh benar saja, filmnya seru juga." lanjut ibu.


"Oh iya, ibu sampai lupa....."


"Lupa? Lupa apaan bu?"


"Tadi kan pas ibu pergi ke super market, ibu tidak sengaja bertemu dengan tante Ismi. Kata tante Ismi,kamu kenal dengan anak tetangganya yang di depan rumahnya."


"Ah iya, kan waktu itu aku pernah cerita sama ibu."


"Ibu lupa nak,"


"Namanya Azka bu,dia satu kelas dengan aku."


"Oh......."


"Memangnya kenapa bu?"


"Tidak apa-apa sih, hanya saja mendengar cerita dari tante Ismi,ibu merasa kasihan aja sama anak itu."


"Katanya tadi pun ayahnya itu sakitnya kambuh. Sampai-sampai tante Ismi sama tetangga yang lain datang ke rumahnya karena ayahnya mengamuk."


"Pantas saja,tadi Azka lebih dulu pulang." balas ku.


"Oh tadi kamu bareng sama Azka juga?" tanya ibu.


"Iya........"


Ibu pun langsung terdiam dan menatap kosong.


"Kenapa bu? Sepertinya ada yang ibu khawatirkan?"


" Ya ibu merasa kasihan saja, sama dia."


"Kasihan kan, dia masih anak-anak. Harusnya kan dia mendapatkan perhatian dari orang tuanya,tapi sekarang yang terjadi dia malah harus merawat ayahnya yang sakit."


Mendengar ucapan ibu barusan,aku pun ikut terenyuh dan merasa kasihan sama Azka. Apa yang di katakan ibu barusan memang benar.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Keesokan paginya, saat aku baru saja sampai di sekolah. Aku tidak sengaja bertemu dengan Azka di dekat lapangan basket.


Tanpa basa-basi, aku langsung menghampirinya.


"Azka.......!" seru ku.


Azka pun langsung berbalik melihat ke arah ku sambil tersenyum.


"Kenapa Nay?"


"Enggak, hanya saja ada yang ingin aku tanyakan sama kamu."


"Apa itu?"


"Kemarin, kami kenapa balik duluan. Ada urusan apa kalau boleh tahu?"


Azka sempat terdiam dan tampak kebingungan.


"Nggak apa-apa kalau kamu tidak ingin cerita sama aku. Aku hanya penasaran saja,soalnya kemarin pas kamu pergi tampak khawatir gitu." jelas ku.


"Sebenarnya, kemarin sakit ayah ku kambuh. Makanya aku buru-buru pulang,soalnya di rumah hanya ada supir dan pembantu ku saja."


"Ayah ku menderita gangguan kecemasan,saat sakitnya kambuh dia akan berteriak-teriak dan membanting barang apa saja yang ada di dekatnya yang terlihat oleh ayah ku." jelas ku.


"Apa kamu sendiri baik-baik saja?"


"Kalau boleh jujur, aku sangat menderita selama ini. Hanya saja aku berusaha untuk kuat di depan ayah ku selama ini. Kalau aku menunjukan kesedihan ku di depannya, aku khawatir ayah malah semakin menderita." jelas Azka.


"Aku tahu gimana perasaan kamu sekarang, meskipun aku tidak mengalami apa yang kamu rasakan selama ini." balas ku.


Azka hanya terdiam sambil menatap ku dengan sayu.


"Aku senang, karena sekarang aku merasa ada yang peduli dengan ku. Selama ini aku tidak begitu bebas untuk mengatakan masalah ini terkecuali sama orang terdekat ku."


"Lagian kan tidak baik juga menceritakan semuanya sama orang lain. Kan kita tidak tahu, gimana hati mereka seperti apa."


"Aku takut Nay, setelah mereka tahu keadaan ku seperti apa. Mereka malah balik menjauh dari ku,karena tahu aku terlahir dari keluarga yang broken home."


"Ya kan tidak semuanya........"


"Iya memang, buktinya kamu sama yang lainnya tidak." balas Azka.


Saat aku dan Azka tengah ngobrol, Eka dan Farhan pun datang dan langsung menghampiri kami.


"Kalian udah sampai duluan ternyata? Pantas tadi aku tidak lihat kamu di parkiran."


"Dika mana?" tanya ku.


"Dia lagi nganterin jambu sama ibu kantin. Kemarin kan ibu kantin minta sama Dika,"


"Oh pantas,"


"Ya udah kalau gitu,kita ke kelas duluan aja yuk." ajak ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di kelas, kami langsung duduk di bangku kami masing-masing karena memang jamnya yang sangat mepet.


Tidak lama setelah itu, Dika pun datang bersama Faren.


"Teman-teman, ada yang ingin kita sampaikan." ucap Faren.


"Apa?" balas teman-teman yang lain.


"Pak guru matematika hari ini tidak masuk, karena beliau tengah menghadiri seminar."


"Jadinya jam pelajaran pertama ini,kita tidak belajar." timpal Dika.


"Yes......" sorak semua orang.


Aku dan Eka pun saling berpegangan tangan,karena merasa senang. Soalnya minggu kemarin kami sudah sangat pusing karena habis mengikuti ulangan.


Akhirnya sekarang kami bisa bernafas dengan lega beristirahat sebentar.


"Bentar yah, aku mau ambil dompet ku." ucap Eka sambil berjalannke arah kursi miliknya.


Sepeninggal dia, Azka pun langsung berbalik. Ke arah ku.


"Gimana kalau kita pergi ke ruangan ku yang di atas itu?"