Chasing you

Chasing you
Episode 21



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah merasa perasaan ku sedikit tenang, aku pun langsung pergi ke kelas. Sesampainya di sana, Eka langsung menghampiri ku.


"Nay, kamu dari mana saja?"


"Ah itu, aku tadi habis dari perpustakaan sebentar. Eh tahunya penjaganya belum datang."


"Bentar deh, kok ini mata kamu kenapa? Kok merah gitu?"


"Merah? Merah apanya sih?"


"Iya merah, kayak habis nangis." lanjutnya.


"Ya ampun kamu ada-ada aja."


"Mana ada aku nangis, mungkin ini karena aku masih ngantuk kali. Soalnya hari ini aku bangun kepagian banget. Aku kan giliran piket hari ini,"


"Ah iya, ya udah aku bantuin yah."


"Mumpung belum banyak yang datang juga kan."


Akhirnya aku pun piket dengan di bantu oleh Eka. Untungnya kalau piket pas pagi,tidak begitu kotor dan banyak sampah. Terkecuali nanti pas pulang sekolah."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah membuang sampah di luar,aku dan Eka pun memutuskan untuk nongkrong di tangga sambil menunggu bel tanda masuk bunyi.


"Eh kalau boleh tahu yah, kamu kenal Dafa sejak kapan sih?"


"Sejak kapan yah? Yang pasti sih, awal aku ketemu sama dia tuh nggak sengaja gitu."


"Gak sengaja gimana?"


"Aku nggak sengaja ketemu dia tuh pas di taman yang ada di belakang sekolah. Itu pun aku masih belum tahu dia siapa."


"Terus tuh kemarin aku nggak sengaja ketemu sama dia dan pada saat itu dia bantuin aku kan. Eh tahunya menurut cerita dia itu katanya dia sempat main ke rumah ku bareng ayahnya." lanjut ku.


"Oh seperti itu,"


"Jangan pikir aneh-aneh deh,"


"Aku sama dia itu hanya teman saja,tidak lebih."


Saat aku tengah mengobrol dengan Eka, aku melihat Azka bersama Fahri masuk ke lapangan.


"Ya ampun itu anak berdua, masih pagi udah mau main basket aja." ucap Eka.


"Ya emang hobinya mungkin....."


"Aku merasa kasihan sama Azka, kenapa hidup dia bisa kayak gini. Ibunya ninggalin dia,terus di sia-siakan sama orang yang dia suka. Tahu deh sekarang, apa benar si Feby itu suka beneran sama dia atau enggak." jelas Eka.


"Ya kita lihat aja,"


" Aku kesal bukan sama Azka nya,tapi kesal sama si Feby."


"Iya aku tahu kok, maksud kamu."


"Iya kan, soalnya aku tahu gimana penderitaan Azka selama ini." lanjutnya.


"Kalian lagi ngapain di sini? Kayak nya serius banget." ucap Dika yang baru saja datang.


"Ini aku lagi merenungkan Azka," ucap Eka tanpa sadar.


"Hah? Maksudnya?" Dika tampak keheranan.


"Eh Dika, ya ampun aku tidak sadar kalau kamu di sini."


"Itu tadi kamu ngomong apaan sih? Emangnya kamu sedang merenungkan Azka kenapa? tanya Dika kembali.


"Yaitu,tentang apa yang terjadi di kehidupan dia selama ini. Aku merasa kasihan,"


Dika hanya terdiam sambil melihat ke arah Azka yang tengah asik main basket bersama Farhan.


... ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


*Kring..........


Bel tanda istirahat pun berbunyi, tidak seperti biasa aku dan Eka memilih untuk langsung keluar. Melainkan aku dan Eka memilih untuk mampir dulu ke parkiran. Karena Eka melupakan dompetnya di dalam bagasi motornya.


"Bisa-bisanya kamu lupa tidak bawa dompet kamu itu. Untung aja ini di sekolahan,coba kalau di tempat umum, pasti itu udah ada yang ambil."


"Enggak lah, kan nggak ada yang tahu."


"Ini tuh bekas kemarin aku nganter ibu aku ke pasar, aku lupa nggak ngeluarin dompetnya kembali." jelasnya.


"Udah kan, aku sudah lapar nih."


"Udahlah, emangnya mau ngapain lagi."


Saat aku dan Eka hendak berjalan menuju koridor, kami tidak sengaja bertemu dengan Dafa dan satu temannya.


"Hai Nay, kamu habis dari mana?"


"Kamu sendiri mau kemana? Emangnya kamu nggak makan di kantin,ini kan jamnya istirahat." lanjut ku.


"Bosan aku makan di kantin terus, aku mau pergi ke depan buat makan jajanan yang lain."


"Ah......."


"Ya udah yah, duluan."


Dafa dan temannya pun lebih dulu pergi menuju gerbang depan. Begitu pun aku dan Eka lanjut menuju kantin.


"Emang di depan suka ada yang jualan yah?" tanya ku.


"Tentu saja, banyak lah."


"Ya itu jualan kayak batagor,siomay,bakso dan banyak lagi."


"Kedengarannya enak,"


"Ya emang enak, tapi kan kalau kita nggak makan di kantin pun sayang juga. Kita udah bayar mahal-mahal,nggak di ambil." balas Eka.


"Iya juga sih,"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di kantin, seperti biasa kami pun langsung ikut antri dengan siswa yang lainnya. Untung saja antriannya tidak begitu panjang,mungkin karena yang lainnya sudah lebih dulu makan.


"Wah sepertinya risolesnya enak nih," ucap ku sambil mengambilnya.


"Iya ih, tumben nggak biasanya ada risoles sama ini spaghetti."


Tanpa pikir panjang Eka dan aku langsung mengambil menu yang lainnya. Setelah itu, kami pun bergabung dengan Azka dan yang lainnya.


"Kalian dari mana aja? Kok baru datang?" tanya Dika.


"Ini aku habis dari parkiran, aku melupakan dompet kundi bagasi." balas Eka.


"Ya ampun Eka, kamu tuh harus lebih hati-hati. Kok bisa kamu ninggalin barang sepenting itu di sana." ucap Farhan.


"Ya namanya juga lupa,"


Aku pun langsung memakan spaghetti nya lebih dulu dengan brokoli rebus.


"Kamu nggak di makan risolnya?" ucap Dika.


"Ah ini, aku sengaja makan ini belakangan." balas ku.


"Enak tahu, tadi aja aku ambil dua habis. Ini jatahnya Azka pun aku makan."


Mendengar ucapan Dika barusan, aku pun langsung meraih risol milik ku dan langsung memakannya.


"Em enak bener,"


"Iya kan......"


Namun,saat baru aku menghabiskan setengahnya, aku merasa tenggorokanku gatal dan nafas ku sesak.


"Ekhem......."


Aku berusaha untuk minum, aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba merasakan ini.


"Lah Nay, kamu kenapa?" tanya Eka.


Tanpa menjawab pertanyaan Eka, aku terus mengusap tenggorokan ku yang terasa semakin gatal dan panas.


"Bentar deh,"


Eka langsung mengecek makanan yang kami ambil.


"Kenapa?" tanya Dika panik.


"Enggak, setahu aku dia ada alergi sama sosis. Takutnya ini ada sosisnya," balas Eka.


"Sosis? Perasaan emang di dalam risol nya itu ada potongan sosinya. Kalau nggak salah sosis ayam deh,"


Eka pun langsung bangkit dari duduknya dan langsung merangkul ku.


"Ayo kita ke klinik," ucapnya.


Saat aku hendak berdiri, pandangan ku kabur begitu saja. Sampai akhirnya aku pun tumbang di pelukan Eka.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Di klinik......


"Ya ampun Nay, harusnya kamu lihat dulu tadi sebelum makan risolnya." ucap Eka khawatir.


"Ya kan emang Naya tahu, kalau di dalam risolnya itu ada sosisnya."


"Aku merasa bersalah banget sama dia,"