
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di kantin Eka masih memasang wajah kesalnya dan mencuri perhatian Dika yang tengah mengantri makanan.
"Kamu kenapa Ka? Wajahnya gitu banget,nggak enak di lihat."
"Emangnya makanan, kalau nggak suka jangan di lihat lah." timpal Eka.
"Wih sabar dong,kok malah balik marah ke gue sih?"
"Udah Dika, jangan di ambil hati yah."
"Emangnya dia kenapa,kalau boleh tahu."
"Itu......."
"Tadi tuh, kita nggak sengaja lihat Azka sama Feby. Tapi Naya malah narik aku ke sini,padahal aku kepo banget sama apa yang mereka bicarakan." jelas Eka.
Dika pun tertawa mendengar penjelasan Eka.
"Ya ampun,lagian kamu nggak ada kerjaan banget. Lagian apa yang di lakuin Naya itu bener kali, aku saja temannya tadi milih buat pergi duluan dari sana."
"Oh jadi tadi sama kamu juga?"
"Iya,tadi kita bermaksud untuk makan siang bareng ke sini. Tahunya di tengah jalan Azka malah di cegat sama si Feby."
"Lagian gue heran yah, kalau dia nggak suka sama Azka. Ngapain dia deketin Azka terus,kasihan yang ada si Azka. Kayak seolah dia manfaatin perasaannya Azka sama dia." lanjut Dika.
"Iya....."
"Tapi tumben loh, perasaan udah lumayan lama mereka nggak kelihatan bareng." timpal Eka.
"Kamu nggak tahu emang,"
"Tahu apa?" tanya Eka.
"Kan sekarang tuh,ada adek kelas yang tengah deketin Azka. Si Erika kalau nggak salah anak IPS 3 kalau nggak salah."
"Terus?" tanya Eka kembali.
"Ya kayak kamu nggak tahu aja Azka kayak gimana,dia sama sekali nggak merespon si Erika itu lah."
"Eh iya,gue nggak ingat."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tanpa terasa sambil mendengarkan obrolan antara Eka dan Dika kami pun sudah mengambil menu makan siang kami hari ini. Setelah itu,barulah kami cari kursi yang masih kosong.
"Oh iya,Farhan mana?" tanya ku.
"Lagi ke toilet dia,"
"Tapi lama juga yah dia ke toiletnya." lanjut Dika.
Saat kami tengah menikmati menu makan siang hari ini,Farhan dan Azka pun datang dan sudah mengambil makanannya. Mereka berdua pun langsung gabung dengan kami bertiga.
"Udah ngobrolnya?" tanya Dika.
"Udah....." balas Azka tampak kesal.
"Ngapain lagi dia? Mau larang kamu buat dekat sama Erika?"
"Maksudnya apaan sih? Emang harus segitunya yah?" sambung Farhan.
" Nggak tahu lah, pusing juga." balas Azka.
"Ya udah, sebaiknya sekarang kamu makan aja. Nanti kita ngobrol habis makan," ucap Dika.
Azka pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan Dika.
Aku sendiri bisa melihat jelas bentuk kekesalan Azka siang ini, dia bahkan tidak menghabiskan makanannya dan malah sibuk dengan HP nya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah semua selesai, Azka pun sudah lebih dulu pergi di susul Dika dan Farhan.
"Aku makin penasaran deh,"
"Aku juga sama nggak ngerti sama sikapnya Feby. Kalau emang dia nggak suka lihat Azka ada yang deketin,lah kenapa dia malah jadian sama yang lain. Kalau kayak gitu kan egois namanya." ucap Eka.
"Aku sama sekali tidak tahu lah,"
"Mending sekarang kamu temenin aku aja ke perpustakaan. Aku mau pinjam buku soalnya,"
"Emang udah dapet kartunya?"
"Pinjam punya kamu lah, sekali ini saja."
"Hem......"
"Ya udah hayu....."
"Eh iya......."
"Kenapa?" tanya Eka.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sama kamu,"
"Apa? Tanya kan saja,"
"Ini soal Azka,"
"Tuh kan,kamu juga sama kepo nya. Tadi aja sok-sokan nggak mau peduli,tahunya."
"Ih bukan masalah itu Eka,"
"Lah terus apa dong?"
"Jadi begini, kemarin tuh pas habis pulang sekolah aku kan jalan-jalan sebentar pakai motor. Singkatnya di jalan aku tidak sengaja lihat Azka keluar dari toko kue apa yah namanya, aku lupa lagi." jelas ku.
"Qu***a bukan?"
" Ah iya itu,"
Eka pun langsung menarik ku dan membawa ku ke arah lorong paling ujung.
"Lah kenapa kamu malah bawa aku ke sini Eka?" tanya ku heran.
"Takut ada yang dengar Nay,"
"Memangnya sebenarnya ada apa sih?"
"Aku pun tahu ini dari Dika,terlepas benar atau tidaknya aku pun tidak tahu."
"Katanya ibunya Azka itu rela ninggalin Azka sama ayahnya,hanya karena dia lebih memilih untuk menikah dengan atasannya saat itu."
"Padahal sebenarnya keluarganya Azka sendiri sudah terbilang cukup dan ayah nya pun punya usaha." lanjut Eka.
"Katanya sih,dulunya ibunya di jodohkan gitu sama kakeknya Azka. Nah si atasannya yang sekarang jadi suaminya itu tuh,kebetulan dulunya itu pacarnya ibunya Azka. Singkatnya itu,kayak cari kesempatan aja."
"Ah jadi seperti itu ceritanya,"
"Iya......."
"Asal kamu tahu aja, semenjak kepergian ibunya itu Azka dan ayahnya sangat terpukul dan drop banget. Kata Dika bahkan saat SMP Azka kerap kali nggak masuk sekolah,karena harus jagain ayahnya yang sakit."
"Maksud kamu kejadiannya itu pas Azka SMP?"
"Bukan, pas dia masih sekolah SD kalau nggak salah. Masih kecil kata Dika mah,soalnya Azka sempat mau berhenti sekolah juga saat itu."
Aku pun langsung terdiam mendengar cerita dari Eka barusan.
"Kasihan tahu, makanya aku sangat memaklumi kenapa dia bisa punya sikap sedingin sekarang ini."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah kembali dari perpustakaan,pas lewat lapangan aku dan Eka melihat Feby tengah bersama seorang lelaki di bawah pohon.
"Tuh lihat, tadi aja dia sok-sokan datangin Azka." ucap Eka sedikit berbisik.
"Padahal lebih ganteng si Azka jauh kemana-mana," lanjut Eka.
"Ya kan,hati orang siapa yang tahu."
"Iya juga sih,"
"Ya udah yuk ah,bentar lagi bel nya bunyi."
Aku dan Eka pun langsung berjalan menuju kelas dengan sedikit berlari.
Sesampainya di dalam kelas,ternyata Azka dan kedua temannya sudah di kelas lebih dulu. Mereka tengah asik memainkan game di bangkunya Azka.
"Kalian asik banget sih," ucap Eka.
"Iya lah," timpal Dika tanpa melihat ke arah kami.
"Udah mendingan kamu duduk aja, lagian kamu nggak bakalan ngerti." ucap Farhan.
"Ih lagian siapa juga yang mau ikutan main," balas Eka tidak terima.
" Emang nya kalian udah pada ngapalin buat ulangan Fisika sama Bahasa daerah? Kalian malah asik main game."
Azka dan kedua temannya langsung melihat ke arah Eka dengan tatapan yang tajam.
"Kan ada kamu sama Naya," ucap Dika.
"Ih maaf yah, aku nggak bakalan kasih jawaban aku sama kamu. Aku yang udah capek-capek mikir,enak aja kamu minta."
"Janganlah pelit Eka, kita kan teman. Kalau sama teman itu harus saling bantu." timpal Dika.