
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
" Hem........"
Siswa laki-laki yang tadi menabrak ku pun langsung pergi ketakutan.
"Siapa cowok ini, sampai-sampai anak tadi pergi ketakutan. Perasaan aku baru lihat dia," bisik ku dalam hati.
"Kamu nggak malu apa, ribut hanya gara-gara hal sepele itu." ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
"Jangan marah-marah terus, yang ada kamu nanti cepat tua lagi." lanjutnya sambil tersenyum.
Aku hanya terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa.
Sepeninggal cowok yang bernama Dafa itu, aku pun langsung berjalan menuju ke kelas dan mengurungkan niat ku untuk menenangkan diri di taman belakang.
"Eh Nay, kamu udah balik. Bentar banget, katanya mau istirahat di sana."
"Tadinya......"
"Maksud tadinya?" tanya Eka penasaran.
" Waktu aku di sana, aku tidak sengaja bertemu sama cowok bernama Dafa kalau tidak salah."
"Dafa Mahendra maksudnya?"
"Maba aku tahu, ini kali pertama aku melihat dia."
"Dia masih satu angkatan sama kita, kebetulan emang dia anak IPS."
"Ah pantas saja, aku baru lihat dia tadi."
"Ganteng kan?"
"Ganteng sih, tapi biasa aja menurut ku."
"Ish kamu ini,"
Saat kami berdua tengah mengobrol Dika tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiri kami.
"Nay......"
"Aku dengar dari Azka, hubungan kalian udah berakhir. Apa itu benar?" lanjutnya.
"Iya......"
"Secepat itu?"
"Lah kamu lucu banget sih, kan awalnya emang aku hanya sekedar bantuin kalian aja."
"Iya aku tahu itu, hanya saja kok bisa secepat ini gitu."
"Lah Azka sendiri yang meminta ku untuk mengakhiri semua ini,"
"Kenapa sih?" tanya Eka.
"Enggak, aku hanya khawatir aja. Aku takut Azka mau balik lagi dekat sama Feby."
"Bukan karena apa-apa, aku khawatir cerita duku itu terulang kembali. Kamu pasti tahu lah, kejadian dulu itu seperti apa."
"Iya lah aku tahu banget," timpal Eka.
"Udahlah, emang mungkin udah saatnya untuk mereka berdua bersama. Harusnya kamu sebagai teman dukung aja,jangan malah mendo'akan hal yang tidak baik."
"Bukan seperti itu, aku takut aja Nay." balas Dika tampak khawatir.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
*Kring........
Bel tanda jam pelajaran terakhir pun berbunyi, hampir semua siswa langsung kegirangan dan langsung memasukan semua barangnya ke dalam tas, begitu pun dengan aku.
"Yuk.....''
"Katanya mau ke toko buku dulu mampir," ucap Eka.
"Yuk......"
Saat aku dan Eka baru saja keluar dari kelas, kami mendapati Feby sudah berdiri di depan kelas kami dan menatap ke arah kami berdua dengan perasaan bangganya.
"Ih apaan kali," ucap Eka.
"Udah lah," aku langsung menarik Eka.
Aku malas saja, kalau harus berurusan lagi sama Feby. Karena ujung-ujung nya nanti akan ada Azka yang terlibat.
"Ih bener-bener yah, dia sekarang udah berani main ke kelas kita."
"Udah sih, biarkan saja. Aku males berurusan kembali dengan orang kaya gitu." balas ku.
"Apalagi aku,"
"Ya aku bicara seperti ini bukan karena apa-apa, aku tidak mau saja lihat lagi kejadian kayak dulu terulang kembali. Aku takut Feby kembali mengkhianati Azka dan dia hanya melakukan itu atas dasar karena memanfaatkan perasaan Azka saja sama dia." jelas Eka.
"Ya terlepas dari itu aku pun tidak tahu, kedepannya akan seperti apa."
Baru saja kami turun dari tangga, Dika dan Farhan datang mengejar kami berdua.
"Kalian kenapa sih?"
"Ih sumpah ya, itu si Feby......"
Belum sempat Dika menyelesaikan ucapannya,Farhan langsung mengarahkan kami bertiga menuju kelas XI.
"Han, kami kok malah ajak kita ke sini sih? Aku tadi baru aja mau ngomong." ucap Dika.
"Kamu nggak lihat apa, tadi tuh Azka sama Feby mau turun dari tangga. Aku bicara kayak gini bukan karena aku kasihan sama Feby,tapi aku kasihan sama Azka. Gimana perasaan dia kalau temannya tengah membicarakan dia sama Feby." jelas Farhan.
"Ah aku kira kenapa,"
"Ya udah, apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya ku.
"Gue kesel banget lihat Feby, sekarang dia seolah ingin menjauhkan kami dengan Azka. Masa iya kami mau pulang bareng, dia malah bilang nggak mau bareng pulang sama kita."
"Si Azka langsung mengiyakan lagi," lanjutnya.
"Ya maklum saja, mereka tengah di mabuk cinta."
"Cinta kan buta," sambung Eka.
Saat kami tengah mengobrol,terlihat Dave lewat di depan kami berempat. Dia sempat melihat ke arah kami, namun dia langsung memalingkan wajahnya.
"Sepertinya aku tahu, harus cari informasi sama siapa." ucap Dika sambil tersenyum.
"Maksudnya?" balas kami bersamaan.
Dika langsung menarik Farhan,tampaknya dia berusaha untuk mengejar Dave dan mencari informasi dari dia.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Keesokan paginya, karena hari ini libur seperti biasa aku dan ibu lari pagi di sekitaran komplek.
"Nak, ibu boleh minta tolong sama kamu nggak?"
"Minta tolong apa bu?"
"Nanti kalau kamu sudah selesai mandi dan sarapan,tolong anterin pesenan tante Ismi. Kemarin ibu dan ayah tidak sempat mampir ke rumahnya." jelas ibu.
"Emang tante Ismi pesan apa?"
"Cemilan apa yah, kalau nggak salah itu pie."
"Itu loh,cemilan yang semalam kamu makan sama ayah."
"Ah itu,"
"Ya udah,aku mau."
"Bu,gimana kalau pagi ini kita sarapan di tempat tulang bubur di depan itu. Naya kepengen sarapan sama bubur ayam hari ini."
"Ya udah hayu......"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku langsung menghampiri ibu untuk mengambil barang yang akan di antarkan ke rumah tante Ismi.
"Ingat yah, meskipun jaraknya cukup dekat tapi kamu harus hati-hati bawa motornya."
"Siap bu,"
Aku pun langsung menuju parkiran untuk mengambil motor kesayangan ku.
Tidak terasa akhirnya aku pun sampai di depan rumah tante Ismi, setelah memarkirkan motor aku langsung memencet bel yang ada di samping gerbang rumahnya. Namun sayang, ternyata belnya itu malah rusak dan tidak ada bunyinya.
"Permisi......."
"Tante....." seru ku.
"Tante......"
"Tadi sepertinya bu Ismi keluar nak," ucap seseorang.
Aku pun langsung berbalik untuk melihat siapa orang itu. Aku agak terkejut mendapati ayahnya Azka tengah berdiri tepat di belakang ku.
"Pagi pak,"
"Mau ke bu Ismi yah?"
"Iya pak,"
"Tadi kalau tidak salah,bu Ismi keluar. Biasanya tiap hari sabtu beliau pergi ke lapangan untuk bersepeda." jelas beliau.
"Ah seperti itu,"
"Mungkin sebentar lagi beliau pulang, ini sudah hampir jam 9 soalnya."
Saat ayahnya Azka tengah menjelaskan prihal kepergian tante Ismi, tiba-tiba saja Azka keluar dari rumahnya tanpa mengenakan kaos dan hanya memakai kolor saja.
"Ah......" seketika aku langsung berteriak karena kaget.