Chasing you

Chasing you
Episode 25



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Saat aku tengah fokus membaca buku novel yang tadi aku ambil,tiba-tiba saja ada tangan yang meraih buku yang tengah aku baca. Sontak saja aku langsung terkejut dan melihat ke arah belakang.


"Azka......." ucap ku kaget.


"Kenapa kamu tadi main pergi begitu saja?"


"Kan aku sudah jelaskan, aku mau ke sini."


"Bukan itu, aku melihat hal lain."


"Hal lain apa maksud kamu, jangan mengada-ngada."


"Terus kenapa kamu ke sini?'' tanya ku balik.


"Ya mau ke sini saja, kan ini di buka untuk umum. Kenapa, aku tidak boleh yah datang kesini?" balasnya.


"Ya bukan seperti itu, hanya saja....."


"Kenapa?"


"Kamu tidak suka karena tadi aku bisa bersama dengan Feby?"lanjut Azka.


Mendengar Azka bicara seperti itu, aku langsung menatapnya.


"Asal kamu tahu, kenapa tadi aku bisa bersama dengan Feby. Itu pun aku tidak sengaja bertemu dengan dia saat di jalan menuju ke arah kantin."


"Kami tidak perlu menjelaskannya, lagi pula tidak alasan untuk aku menanyakan hal itu."


Aku pun langsung mengambil buku yang tadi di rebut Azka dan aku kembalikan ke dalam rak bukunya kembali.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepulang sekolah aku langsung memasukan semua barang-barang milik ku. Dan setelah itu aku menyusul Eka yang sudah lebih dulu keluar dari kelas.


"Hari ini kami mau kemana?" tanya Eka.


"Tidak ada, kenapa memangnya?"


"Gimana kalau kita main ke rumahnya Dika. Kata dia tadi buah jambu di rumah dia sudah siap panen. Biasanya hampir setiap kali buah jambunya berbuah kami sering main ke sana." jelas Eka.


"Jauh nggak dari sini?"


"Tidak dekat kok, masih satu komplek dengan Farhan. Paling dari sini hanya sekitar 5 menitan saja,"


"Ya sudah aku mau, tapi jangan sampai pulang sore yah......"


"Iya,"


Sesampainya di parkiran, ternyata Dika dan yang lainnya sudah menunggu kami berdua termasuk Azka.


"Lama kali kalian, hampir saja kita tinggal." ucap Dika.


"Jangan gitu lah," ucap Eka memelas.


Kami pun tidak menunggu lama langsung menuju rumahnya Dika.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di rumah Dika, kami pun langsung masuk. Kebetulan saat ini hanya ada pembantu yang bekerja di rumahnya saja. Menurut penuturan Dika orang tuanya tengah keluar karena tengah menghadiri undangan saudaranya.


"Ayo masuk, kalian pasti sudah tahu kan pohon jambunya di mana. Aku mau simpan tas ku dulu, sekalian mau ambil minuman buat kalian." jelas Dika.


Eka pun langsung menarik tangan ku menuju halaman belakang. Dan ternyata benar saja,di halaman belakang rumah Dika banyak terdapat berbagai macam jenis pohon buah-buahan yang tertata rapi.


"Nah itu pohon jambu lilinnya......" tunjuk Eka.


Aku sangat tercengang karena buahnya begitu lebat, sedangkan pohonnya masih terbilang berukuran kecil.


"Kita bebas kalau mau bawa pulang," bisik Eka.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tidak lama kemudian Dika pun datang di ikuti pembantunya yang membawa beberapa minuman dan cemilan untuk kami.


"Ya udah sih, entar aja. Lagian kan kita juga baru sampai ini." balas Farhan.


"Oh ya sudah, kebetulan aku bawain kalian minuman dan cemilan. Sok di makan dulu,"


Pembantunya pun langsung menyimpannya tepat di atas meja yang ada di tengah-tengah gajebo.


Tanpa menunggu lama,Farhan dan Eka langsung mengambilnya. Sedangkan Azka dia malah fokus dengan HP di tangannya dan sejak tadi kami sampai dia bahkan tidak mengatakan apa pun.


"Azka sini," ajak Farhan.


"Ya udah sok aja," balasnya langsung duduk di kursi yang berada di dekat gajebo.


"Ini emang ayah kamu sengaja menanam ini semua atau emang sejak awal pohonnya sudah ada di sini?" tanya ku.


"Sengaja nanam, kalau bawaan dari rumah ini sih itu pohon manggis. Tapi sayang jarang berbuah,"


"Kalau pohon jambu ini, di tanam oleh ibu aku. Kebetulan saat itu ada saudara aku yang bawain ke sini." lanjut Dika.


"Kalau di rumah aku nggak ada pohon buah-buahan seperti di sini, yang ada halaman belakang rumah aku di jadikan tempat peternakan burung koleksi ayah ku." timpal Eka.


"Iya ih, kalau main ke rumah kamu tuh suka berisik. Sama itu bau tai nya," timpal Farhan.


Saat kami tengah asik bersenda gurau, Azka pun datang menghampiri kami.


"Maaf yah, sepertinya aku harus pulang duluan. Ada urusan mendadak soalnya," ucapnya dengan raut wajah yang tampak khawatir.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dika.


"Ada sedikit masalah di rumah," balasnya langsung berlalu meninggalkan kami berempat.


Aku dan yang lainnya saling menatap satu sama lain.


"Kenapa yah, kira-kira?" tanya Dika.


"Aku pun tidak tahu,"


"Kok aku merasa tidak enak, takut ada apa-apa."


"Emangnya kenapa?" tanya ku penasaran.


"Kamu emang tidak tahu?" ucap Farhan.


"Tidak, kenapa memangnya?" balas ku.


"Terkadang ayahnya Azka itu sakitnya kambuh."


"Sakitnya kambuh? Emangnya ayahnya sakit apa?" tanya ku kembali.


"Seperti gangguan kejiwaan, biasanya hanya berlangsung sebentar saja." balas Farhan.


"Semenjak ibunya Azka meninggalkan dia dan ayahnya. Sejak saat itulah ayahnya sakit,"


"Aku merasa kasihan sama dia, dulu aku tengah main di rumah dia. Eh tiba-tiba saja sakit ayahnya itu kambuh,ya ampun saat itu aku sangat panik. Karena ayahnya teriak-teriak sambil melempar barang yang ada di dekatnya." lanjut Dika.


"Bener serem banget, pernah juga tangannya Azka sampai terluka parah. Karena ayahnya melempar guci kearah dinding dan serpihan nya mengenai Azka. Karena saat itu Azka tengah berusaha untuk menenangkan ayahnya." sambung Farhan.


"Kalau aku sih belum pernah mengalami atau melihatnya secara langsung, hanya saja aku sering dengar dari kalian atau dari teman yang lainnya."


"Kasihan ya dia," Lanjut Eka.


"Iya, sejak kecil dia sama sekali tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang terdekatnya. Yang ada mungkin malah rasa sakit dan trauma yang dia dapat. Namun hebatnya, dia berusaha untuk kuat dan menyembunyikan kesedihannya itu di depan kita." jelas Dika.


"Semoga saja,ayahnya cepat sembuh dan kembali seperti dulu." ucap Farhan.


Mendengar cerita dari mereka bertiga,hatiku terasa terenyuh dan sedih. Karen selama ini, dia tidak pernah menunjukannya di depan kami. Apa yang di katakan oleh mereka memang benar adanya. Sama sekali Azka tidak pernah memperlihatkan kesedihannya itu.


"Terlebih lagi,dia malah di khianati oleh seseorang yang dia sukai sejak lama." lanjut Farhan.


"Feby?" timpal Eka.


"Iya si Feby, emang siapa lagi cewek yang di sukai Azka." balas Farhan.


"Iya ih, kalau di pikir-pikir tega banget yah si Feby. Cuma mempermainkan perasaan Azka selama ini." ucap Eka kesal.