
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Akhirnya ulangan hari ini pun selesai dan berjalan dengan lancar,hanya saja tadi ada insiden kecil saat mata pelajaran terakhir. Gara-gara Dika terus melempari kertas ke arah ku,hampir saja kertas ulangan ku di ambil oleh guru. Untungnya kertas yang di lemparkannya itu kosong tidak ada tulisan aneh-aneh.
Dika pun beralasan dia iseng dan tidak sengaja melempar kertasnya ke arah ku.
"Hampir saja,karena ulah Dika tadi kertas ulangan kamu di sita." ucap Eka.
"Iya......"
"Tadi aku pun kaget tahu," lanjut ku.
"Pasti lah,"
"Emang anak itu tuh,suka usil kayak gitu. Dulu sering banget dia dapat teguran dati wali kelas karena ulah nya itu."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Eh bentar,"
Eka tiba-tiba saja berhenti dan malah menarik ku ke bawah pohon.
"Ada apaan sih?''
"Itu ada Azka sama Feby," tunjuk Eka ke arah parkiran.
Aku pun langsung melihatnya dan benar saja Feby tengah duduk di atas motor Azka. Terlihat dari raut wajah mereka berdua tampak tengah saling bersitegang satu sama lain.
"Aku heran deh, kalau Feby suka sama Azka kenapa dia malah lebih memilih jadian sama cowok lain. Sekarang aja,hiliran Azka ada yang naksir kayak kebakaran gitu. Heran aku sama dia," ucap Eka kesal.
"Tahu lah, aku pusing kalau harus membahas masalah mereka. Biarkan saja,"
"Tapi kan, bagaimana juga Azka kan teman sekelas kita. Teman kita makan bareng saat istirahat,"
"Ya kan bukan berarti kita juga harus ikut campur masalah dia juga kan? Nanti yang ada kita malah kena semprot lagi."
"Udah ah, sebaiknya kita pulang saja." lanjut ku langsung menarik Eka.
Kami berdua pun langsung berjalan ke arah parkiran, Azka dan Feby pun tampak terkejut dengan melihat kedatangan kami berdua.
Samar-samar aku pun sedikit bisa mendengar apa yang tengah di bicarakan oleh mereka bedua.
"Harusnya kamu tegas dong sama Erika,"
"Aku ngomong seperti ini bukan karena cemburu atau apa. Hanya saja aku tidak suka saja dengan cara dia deketin kamu."
"Cara dia bagaimana maksud kamu? Kamu tahu apa masalah aku dengan Erika?" bentak Azka.
"Dengar yah Feb, meskipun aku pernah menaruh hati sama kamu tapi sekarang beda. Kamu sama sekali tidak punya hak untuk melarang ku dekat dengan siapa pun itu."
"Mau aku dekat dengan siapa,itu hal aku. Aku sekali pun tidak pernah melarang kamu dekat dengan siapa pun itu." lanjut Azka.
"Iya tapi......."
"Tapi apa?"
"Aku capek Feb, dari tadi kamu terus mengomeli aku dengan alasan yang tidak masuk di akal."
"Sebaiknya kamu urus saja hubungan kamu dengan pacar kamu itu, tidak usah sibuk mengurusi ku." lanjut Azka.
Aku dan Eka hanya bisa diam dan saling pandang satu sama lain.
"Udah yuk,nanti di kirannya kita nguping lagi." bisik ku.
"Emang kita udah nguping kali," timpal Eka.
Kami berdua pun langsung menarik motor kami untuk keluar dari parkiran.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setibanya di rumah,ibu tengah membersihkan tanaman yang ada di depan rumah dengan tukang kebun.
"Ibu......!" seru ku.
Beliau pun langsung menghentikan aktivitasnya dan menyambut kedatangan ku.
"Hai anak ibu,"
"Makasih ya nak, karena kamu sudah berusaha keras hari ini. Ibu tahu kamu pasti kesulitan selama ini," lanjut ibu.
"Tidak juga bu,"
"Itu sudah menjadi tugas ibu sebagai orang tua nak."
"Ya udah yuk kita masuk,ibu sudah masak makanan kesukaan kamu. Sate iga bakar sambal ijo sama tahu isi." lanjut ibu.
"Wah kedengarannya enak banget itu, hayu lah bu. Aku sudah tidak sabar ingin memakannya."
"Mang, saya tinggal dulu yah."
"Nanti tolong itu pohon manggisnya di kasih pupuk juga jangan lupa."
"Baik bu,"
Aku dan ibu pun langsung menuju ruang makan,tidak lupa aku pun menyimpan tas sekolah ku di atas meja dekat tangga.
"Bu itu siapa?"
"Itu loh, tukang kebun yang ibu ceritakan kemarin."
"Iya maksud aku tuh,namanya siapa?"
"Hahaha......" ibu langsung tertawa.
"Namanya Sudiman,panggilannya Diman. Beliau berasal dari kota Kebumen."
"Kebumen? Jauh juga bu."
"Kok ibu bisa tahu beliau,"
"Itu sih ayah yang mencarinya,kalau tidak salah atas rekomendari dari temannya."
"Kerjanya bagus tahu nak,cekatan dan bersih."
"Syukurlah,"
"Jadi beliau tinggal di sini juga?"
"Tidak,beliau tinggal di paviliun,kamu masih ingat gak paviliun dekat rumah om Harto milik kakek dulu. Di sana lah beliau tinggal," jelas Ibu.
"Aku ingat bu,''
"Ibu tadi sempat mengobrol sama beliau,ternyata beliau punya banyak anak ada sekitar 7 kalau tidak salah."
"Wah banyak banget bu,"
"Iya tapi sayangnya dari semua anaknya itu tidak ada satu pun yang mau membantu pak Diman. Mereka bisa bertemu setahun sekali saat hari raya saja,itu pun tidak tentu katany."
"Lah kok gitu sih,tega banget mereka." timpal ku.
"Harusnya kan kalau punya anak banyak,yang jadi orang tua tuh udah istirahat di rumah saja. Apalagi ini ada 7 orang,berapa sih memangnya yang harus mereka keluarkan untuk memberi sama orang tua sendiri."
"Aku jdi kesal dengar nya,"
"Iya ibu juga, ibu jadi teringat sama almarhum kakek dan nenek kamu."
"Makanya ibu meminta beliau untuk mengajak istrinya ke sini. Kasihan kan,di sana istrinya hanya tinggal sendirian saja di rumahnya. Kalau di sini kan bisa bantu-bantu ibu, kan nanti ibu ada temannya nggak sendirian lagi." jelas ibu.
"Aku setuju bu,"
"Kata mang Diman,nanti habis selesai kerja beliau akan menghubungi istrinya dulu dan meminta persetujuannya."
"Lagi pula menurut ibu, jarak dari paviliun ke sini tidak begitu jauh."
"Tapi menurut aku bu, mengingat mereka sudah berumur. Alangkah lebih baik mereka tinggal di rumah bareng kita saja." balas ku.
"Ya kedepannya memang bakal seperti itu,tapi kan kamu tahu sendiri kamar ART yang di belakang itu kecil. Nanti ibu mau renovasi dulu supaya agak luas dan muat buat di jadikan tempat tinggal mereka berdua." jelas ibu.
"Setuju kalau begitu mah,"
"Ya udah, nih....."
" Dari tadi kita malah ngobrol, kamu jadinya nggak makan-makan."
"Tidak apa-apa, lagian Naya paling tidak bisa kalau ngobrolin masalah orang tua." balas ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Seperti biasa,malamnya aku hanya berdiam diri di kamar sambil belajar. Namun pikiran ku terbagi,karena mengingat kejadian saat tadi di parkiran sekolah.
Apa yang di katakan Azka memang ada benarnya juga. Meskipun Azka secara terang-terangan menyukai Feby dan mengakuinya,Ya meskipun pada akhirnya Feby lebih memilih cowok lain,tapi sekarang ini Azka pun sudah bisa mengikhlaskan Feby untuk jadian dengan laki-laki lain.