
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Keesokan paginya aku berangkat sekolah agak kepagian,itu karena tadi aku berangkat sama ayah. Kebetulan beliau melewati jalan ke arah sekolah ku, jadi sekalian aku pun berangkat bersamanya.
Setibanya di depan gerbang, aku sudah mendapati Azka tengah berdiri sendirian di parkiran. Luka lebam di wajahnya pun masih terlihat jelas dan seperti tengah menunggu seseorang.
Aku pun memilih untuk tidak menghiraukannya dan berjalan melewatinya.
"Naya....." seru Azka.
Karena kaget, aku pun langsung melihatnya dan berbalik arah.
"Apa?"
"Sini......"
Dia pun menarik tangan ku dan langsung membawa ku pergi dari parkiran.
"Kamu mau bawa aku ke mana?"
"Udah ikut aja,jangan berisik."
Aku pun hanya bisa pasrah saat Azka menarik ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sampai akhirnya kami pun sampai di taman belakang sekolah yang tampak sepi.
"Duduk....." ucapnya sambil melihat ke arah kursi.
"Ada apaan sih? Kayak mau di interogasi aja."
Meskipun aku merasa heran dengan tingkah Azka,anehnya aku malah menuruti perintah dia.
"Apa? Apa yang mau kamu katakan. Cepatlah aku tidak punya banyak waktu,"
"Naya,"
"Maksud kamu apa? Bisa-bisanya kamu mengiyakan rencana gila Dika dan yang lain untuk menjadi pacar bohongan."
"Ah itu......."
"Apa sih yang ada di pikiran kamu? Sampai-sampai kami menyetujui rencana konyol mereka." bentak Azka.
"Kamu rela mau jadi pacar bohongan aku," lanjut Azka.
"Azka....."
"Ehh......"
"Aku nggak kayak gitu,aku bisa jelasin." ucap ku sambil terbata-bata.
"Jelasin apa! Semuanya sudah jelas Nay, aku sudah tahu dari Dika. Dia sudah ceritakan semuanya sama aku semalam." timpal Azka.
"Enggak,ini bukan kayak yang kamu pikirkan kok."
"Nay......"
"Stop." lanjutnya.
"Aku pikir kamu beda Nay,bukan cewek gampangan yang pernah aku temuin selama ini. Tau gak?"
"Ternyata aku salah menilai kamu Nay,"
"Enggak kok,"
"Aku nggak kayak gitu......" aku berusaha untuk meyakinkan Azka.
"Nay,jujur sama aku sekarang. Kamu dapat apa dari mereka?" tanya Azka.
Ucapan Azka barusan langsung membungkam ku. Dia sempat menatap ku sesaat dan setelah itu pergi meninggalkan aku.
"Ih kok malah kayak gini sih? Padahal aku kan hanya berniat untuk nolongin dia."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di kelas,Eka langsung menghampiri ku.
"Nay, kamu dari mana aja? Bukannya kamu berangkat lebih dulu tadi."
"Itu......."
"Kenapa?"
Aku pun mendekatkan diri ku dan membisikan nya sama Eka. Karena memang ada banyak siswa lain,aku takut mereka mendengarnya.
"Tadi Azka memarahi aku,masalah rencana kalian itu."
"Lah emang dia udah tahu?" ucap Eka tampak terkejut.
"Katanya semalam dia di kasih tahu sama Dika."
"Ish si Dika ini nggak bisa di percaya banget. Padahal aku minta sama dia untuk tunggu dulu,jangan langsung kasih tahu Azka." jelas Eka.
"Tapi nyatanya sekarang dia sudah tahu," balas ku.
Saat aku tengah bicara dengan Eka, Azka dan kedua temannya pun masuk ke dalam kelas. Dika sendiri langsung memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya. Padahal Eka sudah bersiap untuk bicara sama Azka,namun langsung urung dia lakukan.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Siangnya saat kami di kantin pun sama,hanya keheningan saja yang tercipta. Tidak ada satu pun yang berani untuk bicara atau memulai pembicaraan.
"Dia lagi," ucap Farhan.
Dika pun langsung menyikut Farhan agar tidak mengatakan apa-apa.
"Azka,"
"Aku ingin bicara sama kamu."
"Apa lagi? Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan." balas Azka.
"Tapi......"
"Feb, apa kamu tidak lihat kondisi ku sekarang?"
"Lihat baik-baik, ini semua terjadi karena kamu terus menemui aku seperti ini. Mau kamu apa sih?" lanjut Azka.
Aku dan yang lainnya hanya bisa terdiam sambil memakan makanan kami.
"Aku bisa jelasin sama kamu,tapi tidak di sini."
"Memang apa bedanya di sini atau di tempat lain,sama aja kan?"
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, kejadian kemarin sudah cukup buat aku." ucap Azka.
Feby pun hanya terdiam dan hanya menundukan kepalanya. Melihat Feby tidak pergi, Azka langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi begitu saja.
"Aku sudah minta putus sama Dave,"
Ucapan Feby sempat buat Azka terhenti,namun dia pun kembali melanjutkan langkahnya ke arah luar. Dika dan Farha pun tidak mau ketinggalan,mereka pun langsung mengikuti Azka dari belakang.
"Sebaiknya kita juga pergi," bisik Eka langsung menarik tangan ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sorenya aku tengah menunggu supir untuk menjemput ku, sebenarnya tadi Eka sempat menawari aku juga untuk ikut dengannnya. Hanya saja aku menolaknya karena aku akan langsung pergi ke rumahnya tante Ismi. Tadi ibu yang langsung meminta ku untuk menyusulnya kesana.
"Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Azka yang baru saja keluar.
"Lagi nunggu jemputan,"
"Eh Naya....." ucap Dika yang juga baru keluar dari area parkir sekolah.
"Kamu lagi nungguin angkot atau jemputan ini?" lanjutnya.
"Jemputan,"
"Lah emang Eka nya mana? Bukannya kamu sering bareng sama dia kalau pulang."
"Udah pulang lebih dulu, Iya memang. Hanya saja hari ini aku tidak langsung pulang ke rumah,aku ada keperluan dulu di luar."
"Eh iya, dengar-dengar kata Eka ayah kamu itu seorang TNI yah?" lanjutnya.
"Iya......."
"Wih mantap juga, aku harus hati-hati nih sama kamu. Kalau enggak nanti di tembak lagi," ucap Dika sambil tertawa.
Azka yang mendengar celetukan Dika pun langsung menepuk Dika.
"Kalau ngomong tuh di jaga,emangnya kamu mau beneran kena tembak nantinya?"
"Enggak lah,"
Saat kami tengah asik mengobrol,mobil yang menjemput ku pun datang. Pak Eko pun langsung turun dan membantu ku untuk membuka pintu mobilnya.
"Silahkan non," ucap pak Eko.
"Makasih pak,"
"Eh Nay, bentar."
"Itu ajudan ayah kamu yah?"
"Bukan, kamu nggak lihat dia kan nggak pakai seragam."
"Kirain,"
"Ya udah,kalau gitu aku dukuan yah. Sampai ketemu besok,"
Aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan pak Eko pun langsung menutup kembali pintunya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah sekitar 5 menitan,aku pun akhirnya sampai di rumahnya tante Ismi. Yang ternyata rumahnya itu tidak jauh dari tempat tinghalku masih satu arah.
Terlihat ibu dan tante Ismi sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan ku.Aku pun langsung menghampiri ibu dan tante Ismi.
"Hai Naya, sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya tante,"
"Oh iya,ngomong-ngomong ibu sama tante sengaja nungguin aku di sini?"
Mereka berdua hanya tersenyum dan saling menepuk pundak masing-masing.
"Bukan nak,"
"Tadi ibu dan tante Ismi tidak sengaja mendengar keributan di luar. Makanya kami berdua langsung keluar untuk melihatnya."
"Keributan?"