Chasing you

Chasing you
Episode 13



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang terbuka.


"Mungkin itu bu Ratih," ucap Farhan.


Baru saja Farhan selesai bicara,tirai yang menghalangi bilik nya pun terbuka.Ternyata sangkaan Farhan salah, orang yang baru saja masuk ternyata Feby.


"Ngapain kamu ke sini?" ucap Azka kesal.


"Aku dengar kamu sakit, makanya aku langsung ke sini."


"Untuk apa? Aku tidak butuh kamu,lagi pula di sini sudah ada teman-teman ku juga."


"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini,kehadiran kamu di sini malah buat aku pusing." lanjut Azka.


"Kamu kok bicaranya kayak gitu, aku ke sini karena mengkhawatirkan keadaan kamu."


"Sudah lihat kan,kondisi ku sudah membaik. Jadi sebaiknya kamu pergi saja," ucap Azka kembali.


"Tidak, aku tidak mau pergi dari sini. Aku mau menemani kamu di sini,"


Azka tampak frustasi dengan sikap Feby kali ini,wajahnya pun sudah mulai memerah memendam amarah.


"Feb......"


"Tolong yah, sebaiknya kamu keluar dari sini. Azka sedang sakit, yang ada kehadiran kamu di sini tuh malah buat kondisinya memburuk." ucap Dika.


"Enggak aku nggak mau," balas Feby kekeh.


Aku dan Eka hanya bisa diam saja,begitu pun Farhan.


"Sebaiknya kita keluar aja yuk," bisik Eka.


"Yuk......."


Saat aku hendak keluar dari ruangan itu,karena aku berdiri tepat di samping kiri nya Azka. Tiba-tiba saja,Azka menarik tangan ku. Sontak saja apa yang di lakukannya itu cukup buat aku terkejut dan langsung berbalik ke arahnya.


"Dia pacar ku," ucap Azka sambil mengacungkan tangan kami berdua.


"Jangan becanda deh, dia kan hanya teman sekelas kamu saja bukan?" balas Feby.


"Iya memang di teman sekelas ku,tapi dia pun sekarang ini sudah menjadi pacar ku. Jadi aku mohon sama kamu,pergi dari sini."


"Aku tidak ingin pacar ku salah paham sama aku." lanjut Azka.


Feby pun langsung melihat ke arah ku dengan tatapan yang tajam. Seolah dia tidak terima dan menyangkal ucapan Azka barusan.


"Aku nggak percaya, kemarin saja kamu bilang kalau......"


Belum sempat Feby menyelesaikan ucapannya,Azka langsung menarik ku dan buat aku tersungkur ke hadapannya. Aku sangat kaget karena sekarang posisi ku sudah seperti hendak memeluk Azka.


"Bantu aku kali ini saja," bisik Azka dengan suara parau nya.


Azka pun langsung mencium ku,sontak saja seisi ruangan itu di buat kaget oleh nya. Begitu pun dengan aku yang sama sekali tidak tahu dengan apa yang di lakukannya ini.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Kalian....." teriakan Feby langsung menghentikan Azka yang masih menempel kan bibirnya di bibir ku.


Mata Feby sudah memerah,dia tampak marah dan kesal.


"Masih kamu tidak percaya?" ucap Dika.


"Diam kamu," balas Feby kesal.


Dia pun langsung keluar dari bilik itu dengan kesal.


Tiba-tiba saja Dika dan Farhan bertepuk tangan sambil tertawa.


"Gila......"


"Serasa nonton drama korea banget." lanjut Farhan.


"Kamu......"


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu main cium aku begitu saja?" bentak ku setelah menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Bukannya ini bukan yang kalian rencana kan?"


"Iya tapi,kamu nggak ada hak untuk melakukan itu. Kita hanya pacaran bohongan saja dan itu pun hanya di depan Feby saja."


"Aku tidak suka yah,kami main....."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Sial......."


"Sial banget," gerutu ku.


" Aku sama sekali tidak tahu Nay, kejadiannya begitu cepat." ucap Eka.


"Apalagi aku,"


"Bisa-bisanya dia main cium aku begitu saja, emangnya aku apa."


"Mungkin Azka pun sudah buntu dan hanya dengan itu dia baru bisa buat Feby pergi."


"Tetap saja Eka, dia nggak boleh seenak itu lah." timpal ku.


"Ya udah sebaiknya sekarang kamu tenangkan diri kamu di sini. Nanti baru kita balik ke kelas,"


Aku pun hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada ku tadi. Pikiran ku kacau dan kalut, ini kali pertamanya ada seorang laki-laki yang mencium ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah jam pelajaran terakhir aku pun langsung memasukan kembali barang-barang ku ke dalam tas. Ada sebagian juga yang aku simpan di bawah meja.


"Aku duluan yah," ucap ku pada Eka yang tengah membereskan semua barang miliknya.


" Ah iya....."


Setibanya di parkiran tanpa menunggu lama,aku langsung mengambil motor ku untuk langsung pulang tanpa menunggu Eka.


Sepanjang perjalanan aku merasakan perasaan ku begitu kacau,aku merasa kesal sama Azka. Dengan begitu gampangnya dia melakukan itu pada ku.


"Sial......"


"Memangnya dia siapa? Main cium aku begitu saja. Emangnya aku cewek gampangan apa?" gerutu ku.


Tanpa terasa aku pun sampai di rumah,di parkiran tengah ada mang Diman tengah mencuci motor. Beliau tampak kebingungan mendapati aku pulang dengan wajah yang kusut.


"Non, ibu lagi pergi ke luar sama bapak." ucapnya ragu.


Tanpa menjawab ucapan pak Diman, aku langsung masuk ke rumah menuju kamar ku.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung membanting tubuh ku ke atas kasur. Tangis ku pun langsung pecah seketika dan langsung membasahi wajah ku.


... ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Malamnya sehabis mandi dan berganti pakaian, aku pun turun untuk makan malam bersama ayah dan ibu.


"Loh nak, ada apa dengan wajah kamu itu?" ucap ibu heran.


"Ah ini,"


"Mungkin ini karena aku baru saja bangun bu. Tadi pulang sekolah aku langsung ketiduran dan baru bangun barusan." jelas ku.


"Ibu kira kamu kenapa,"


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu bantu ibu untuk menyiapkan semua makanannya. Sebentar lagi ayah mu pun keluar dari kamar untuk makan malam."


"Iya bu......."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Paginya saat aku hendak mengeluarkan motor ku, aku melihat mang Diman sudah bekerja membersihkan tanaman.


"Mang......"


"Kata ibu kemarin,istrinya mang Diman ikut kerja di sini juga."


"Iya non, tapi baru besok bibi masuknya. Hari ini mamang sengaja meminta dia untuk istirahat saja,apalagi dia habis melakukan perjalanan yang cukup jauh.'' jelas mang Diman.


Setelah mengobrol dengan mang Diman beberapa saat, aku pun langsung tancap gas keluar dari parkiran.


Saat berhenti di lampu merah dekat sekolah ku, tidak sengaja aku melihat Azka pun yang baru saja datang dan sama-sama tengah berhenti menunggu lampu hijau nya menyala.


Dia sempat melihat ke arah ku beberapa saat,namun kemudian dia langsung memalingkan wajahnya.


"Ih apaan kali, ngga jelas banget jadi cowok."


"Setelah apa yang di lakukannya kemarin, kirain sikapnya bakalan berubah. Ternyata aku terlalu berharap banyak dengan perubahan dia." lanjut ku.


Aku merasa kesal karena dia terlihat baik-baik saja setelah melakukan hal yang tidak sopan pada ku kemarin. Dan malah terlihat baik-baik saja saat melihat ku.