Chasing you

Chasing you
Episode 17



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Kenapa dek?" tanya bapak itu.


"Itu pak anaknya keluar dari rumah nggak pakai apa-apa." tunjuk ku.


Ayah Azka pun langsung berbalik melihat ke arah rumahnya,beliau pun hanya menyunggingkan senyuman.


"Kok ade tahu,kalau itu anak bapak?"


"Itu......."


"Beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja melihatnya masuk ke dalam rumah bapak."


Azka sendiri langsung masuk pas ketika aku tadi berteriak.


"Kebetulan juga, aku dan anak bapak itu satu sekolah juga."


"Oh pantas saja ade tahu anak bapak,"


Saat aku tengah berbicara dengan ayahnya Azka, tante Ismi pun datang sambil menuntun sepedanya.


"Nay....."


"Tante nggak tahu kalau kamu mau ke sini,"


"Iya tante, soalnya tadi pagi ibu yang minta aku ke sini." balas ku.


"Oh begitu, ya udah yuk masuk."


"Makasih ya pak, sudah menemani saudara saya."


"Sama-sama bu,"


Ayah Azka pun kembali masuk ke dalam rumahnya, begitu pun dengan aku yang masuk bersama tante Ismi.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di dalam rumah tante Ismi, aku langsung mengeluarkan titipan beliau dari dalam tas yang aku bawa.


"Wah, sepertinya ini enak."


"Ini tante sengaja minta beliin ini sama ibu kamu, karena tante lihat di sosial media banyak yang bilang enak. Eh untungnya kebetulan kemarin ibu kamu ke Bogor." jelas beliau.


"Iya tante, aku juga semalam udah nyobain."


"Oh iya ngomong-ngomong, kamu kok tadi bisa bareng sama pak Azhari?"


"Ah itu, tadi pas aku panggil-panggil tante. Karena ternyata bel yang di depan rumah itu mati."


"Bapak itu datang mendatangi aku dan memberitahu aku kalau tante lagi keluar." lanjut ku.


"Tante sudah biasa soalnya hampir setiap hari bersepeda,sehabis om kamu berangkat kerja."


"Iya ih, tante udah bilang sama pak tukang buat benerin belnya. Tapi pak tukangnya malah lagi pulang kampung sekarang ini."


"Ah......."


Setelah mengobrol sebentar, aku pun berpamitan untuk pulang. Kebetulan siang ini aku ada janji dengan Eka untuk pergi nonton ke mall.


"Hati-hati bawa motornya, yang penting selamat."


"Iya tante,"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tepat jam setengah 3 sore, aku pun berangkat ke mall dengan di antar oleh supir. Kebetulan juga ibu mau ada urusan yang jalannya itu satu arah dengan ku.


Sesampainya di mall aku langsung berpamitan dan turun.


"Eka di mana yah?" ucap ku sambil celingukan mencari keberadaannya.


Tapi sayangnya aku tidak bisa menemukan dia dari sekian banyaknya pengunjung mall hari ini.


Aku pun memutuskan untuk langsung naik ke lantai 3, mungkin saja dia sudah lebih duluan di sana. Ternyata feeling ku benar saja, Eka tengah duduk sendirian fokus dengan HP nya.


"Eka.......!" seru ku.


"Iya ih maaf, aku mau hubungin kamu tadinya. Tapi sayangnya aku lupa bawa HP ku. Aku belum sempat mengambilnya dari dalam saku jaket yang aku pakai tadi siang." jelas ku.


"Pantes, aku coba hubungin kamu nggak ada respon sama sekali."


"Ya udah yuk, udah waktunya kita masuk."


Aku dan Eka pun langsung masuk ke studio 2 nya dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan tiket yang di beli Eka.


"Pinter juga kamu pilih tempat duduknya,"


"Iya lah, ini spot yang bagus untuk nonton. Tidak terlalu belakang,tidak terlalu depan." balasnya bangga.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Saat filmnya mau mulai, aku dan Eka di buat kaget karena melihat Azka dan Feby yang baru saja memasuki bioskopnya.


"Ih buset, perasaan dunia ini sempit banget." ucap ku pelan.


"Iya ih," timpal Eka.


Aku dan Eka pun memilih untuk pura-pura tidak melihatnya,meskipun pada kenyataannya pas Azka melewati kursi yang aku duduki,dia sempat melihat ke arah ku. Namun aku mencoba untuk memalingkan wajah ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tidak terasa film yang kami tonton pun telah berakhir, setelah 1 jam 30 menitan di putar. Saat aku hendak turun dan baru saja keluar dari kursi ku tiba-tiba saja, aku merasa ada yang mendorong ku dari belakang. Sampai aku pun tersungkur dan membentur ujung kursi yang menyebabkan kaki aku berdarah.


"Ah......." meringis kesakitan.


"Nay......" Eka tak kalah terkejut melihat apa yang terjadi pada ku.


"Ih ya ampun, maaf yah. Tadi aku nggak lihat,soalnya masih gelap." ucap Feby seolah sengaja melakukannya.


"Gelap gimana maksud kamu? Ini tuh udah terang aneh. Kamu sengaja yah, lakuin ini sama Naya?"


"Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih, aku emang gak sengaja. Azka, kamu lihat kan kalau tadi aku tak sengaja mendorong Naya?"


Azka hanya terdiam sambil menatap ku.


"Udahlah, sebaiknya kamu bantu aku untuk keluar dari sini. Lagian tidak akan ada akhirnya kalau berurusan dengan dia." ajak ku.


Eka pun langsung meraih tangan ku dan membatu untuk memapah ku keluar dari ruang bioskopnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya sampai di depan toko yang menjual obat,di sana aku langsung membeli obat untuk membersihkan luka dan perban untuk menutupinya. Kebetulan memang aku hanya mengenakan rok yang panjangnya sampai di atas lutut.


"Ih aku jengkel banget sama si Feby, udah tahu dia salah."


"Udahlah, lagian kalau kita meladeni dia yang ada kita sama gilanya sama si Feby."


"Biarin aja orang gila kayak gitu,nanti juga bakalan dapat balasannya."


"Ya iya, hanya saja aku tidak terima dia buat kamu terluka seperti ini."


"Ya ampun,ini hanya luka gores biasa aja kok. Nanti pulang dari sini aku minta istrinya mang Diman untuk mengurutnya juga." jelas ku mencoba untuk menenangkan Eka yang sudah tersulut emosi.


Kami pun akhirnya duduk di kursi yang berada di depan toko obatnya dan langsung mengobati luka ku. Meskipun tidak begitu parah, tapi lutut ku terasa sakit mungkin karena kerasnya benturan tadi.


"Sakit nggak?" ucap Eka khawatir.


"Nanya lagi,ya sakit lah."


"Tuh kan, apa aku bilang."


"Ya terus mau gimana lagi? Kamu mau kita balik lagi untuk balas perbuatan dia sama aku. Nggak mungkin kan,"


"Kenapa enggak, aku mau balas perbuatan dia ini."


"Eka, udahlah. Nggak baik bicara seperti itu,biar bagaimana pun kita harus menjaga perasaan Azka juga. Karena mungkin sekarang mereka sudah pacaran juga kan."


"Jadi kita lupakan saja kejadian hari ini,oke."


Eka hanya terdiam, aku tahu dia pasti belum merasa puas dan ingin memberikan pelajaran sama Feby.


Aku sendiri bukannya tidak mampu untuk membalas perbuatan Feby kali ini, hanya saja aku pun ingin menghargai Azka. Dia pun pasti tadi merasa serba salah,di satu sisi kami berdua temannya. Di sisi lain,Feby merupakan wanita yang dia suka selama ini.