
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Azka pun kemudian mengajak ku pulang lebih dulu,padahal keluarga dia yang lainnya bergantian untuk menjenguk ibunya ke dalam ruangannya.
"Azka,"
"Azka, tunggu......"
Dia pun berbalik menatap ku kosong,terlihat raut kesedihan di wajahnya.
"Kenapa kamu malah mengajak ku pulang? Bukan kah lebih baik kamu lihat kondisi ibu mu lebih dulu."
"Mendengar operasinya sudah berjalan dengan lancar dan keadaanya sudah mulai membaik,itu sudah cukup bagi ku."
"Mungkin kamu pernah mendengar dari kawan-kawan yang lain juga,betapa ibu ku tidak mengharapkan kehadiran ku sama sekali selama ini." lanjut Azka.
"Azka......" balas ku pelan.
Aku merasa kasihan setelah Azka mengatakan hal itu,dia begitu putus asa dengan hubungannya dengan ibu kandungnya sendiri.
"Baiklah, kalau kamu mau pulang."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Kami pun memutuskan untuk pulang dengan menggunakan kendaraan umum,sepanjang perjalanan Azka banyak melamun dan hanya menatap kosong ke arah luar.
Aku tahu betul meskipun dia berusaha kuat untuk menutupi kesedihannya saat ini,tapi dia tidak bisa membohongi dan menutupi kekecewaannya sekarang ini.
Karena aku merasa khawatir dengan Azka, aku pun memutuskan untuk mengantarnya pulang sampai ke rumahnya. Aku bisa minta Eka atau siapa pun nanti untuk menjemput ku ke rumahnya. Terlebih lagi ada tante Ismi juga yang bisa aku mintai tolong.
"Loh Nay, kok kamu bisa bareng sama Azka?" tanya tante Ismi setelah mendapati aku baru saja turun dari mobil.
"Iya tante,"
Tante Ismi langsung terdiam,setelah mendapati Azka yang terlihat murung dan langsung masuk ke rumahnya begitu saja.
"Kenapa?" tanya tante Ismi sedikit berbisik.
Aku pun langsung menarik tante Ismi masuk ke area garasi depan rumahnya.
"Ibunya Azka hari ini baru mengelami kecelakaan dan sekarang tengah berada di rumah sakit."
Tante Ismi sangat terkejut mendengar penjelasan ku barusan sambil menutup sebagian wajahnya dengan tangannya.
"Ya ampun, Azka." ucapnya pelan.
"Syukurnya,keadaan ibunya sudah mulai membaik paska di operasi tadi."
"Tapi mungkin yang buat Azka sedih sekarang ini adalah dia tidak bisa menemui ibunya secara langsung. Karena dalam pikirannya dia sekarang ini,ibunya tidak mengharapkan kehadiran dia sekarang ini." lanjut ku.
"Kasihan sekali dia," balas tante Ismi.
"Makanya aku memilih untuk mengantarkannya sampai ke sini, aku takut terjadi apa-apa soalnya. Apalagi pikiran dia saat ini tengah kalut," timpal ku.
"Ya sudah, kalau begitu biar tante Ismi saja yang antar kamu pulang. Kamu pasti meninggalkan kendaraan kamu di sekolahan,"
"Iya tante,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Keesokan harinya, saat aku sudah sampai di sekolah dengan Eka. Aku melihat motor Azka masih terparkir di tempat dimana kemarin dia memarkirkan motornya.
"Sepertinya hari ini Azka tidak masuk deh," ucap Eka.
"Sepertinya,"
"Aku merasa kasihan tahu, coba aja kalau semua ini menimpa aku. Duh nggak tahu deh, apa aku bisa sekuat Azka." lanjut Eka.
Tanpa kami sadari Dika dan Farhan pun datang bersamaan dan langsung melihat ke arah kami berdua.
"Hei......." sapa Dika.
"Kalian kok malah pada diem di sini sih? Bukannya ke kelas." ucapnya.
"Bentar dulu ih, lagian masih lama ini jam masuk juga."
"Emang masih mau pada ngapain sih? Dari pada di sini mending kita duduk aja di sana." ucap Farhan sambil menunjuk ke arah bawah pohon manggis.
Kami pun langsung mengiyakan dan duduk bersama di bawah pohon manggis.
"Azka hari ini nggak masuk yah?" tanya Eka.
"Masuk deh kayaknya, tadi pagi dia WA aku. Katanya minta ambilin buku pelajaran milik dia di loker. Paling nanti dia datang belakangan,kan motornya di sini." jelas Dika.
"Ah gitu, aku pikir dia nggak masuk hari ini. Soalnya kan,"
Belum sempat Eka menyelesaikan ucapannya, Azka sudah lebih dulu sampai dan tengah berjalan ke arah kami berempat.
"Nah itu dia......" tunjuk Farhan.