Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Kasih Sayang



"pakkk!! Bu!!!" teriak seorang petus bandara. 


Reflex Lia dan Stevan menoleh.


"ini sepatu anaknya jatoh" ucap ibu petugas itu.


"ohh makasi ya bu.. maaf jadi merepotkan" jawab Lia yang langsung mengambil sepatu adiknya.


Ibu ibu petugas itu melirik Ila yang sedang tertidur di pangkuan Stevan.


"anaknya manis. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohma yaa" ucap nya lalu pergi.


Lia dan Stevan saling bertatap tatapan canggung.


"ayo cepet keburu malem" ucap Lia berjalan lebih dulu. Stevan tersenyum miring lalu menyusul.


"kakak marketnya gede baget yaa!" seru Ila yang baru pertama kali melihat mall.


"Ila mau makan apa?" tanya Stevan sambil menggenggam tangannya.


"menurut kak boy Ila makan apa?" tanya balik Ila.


Ya, karena jika manggil kakak dua duana ngaliek. Jadi Ila memanggil Stevan dengan panggilan 'kak boy'.


"Ila mau daging atau yang lain?" tanya Stevan.


"Ila alergi daging merah" jawab Lia.


"owhh, kalau gitu kita makan burger aja ya!?" seru Stevan.


"jangan makan fastfood! Gak sehat".


"trus makan apa?! Semua lo larang" ucap Stevan.


"kasi dia makanan yang di rebus, jangan di goreng".


"oke kalau gitu kita makan.. apa Ya yang di rebus ngak kepikiran gua".


"kita kan bisa ke restoran yang nyediain menu sayur sayuran".


"kakak jangan ngelarang kak boy! Biar kak boy yang nyari!" bentak Ila yang bosen mendengar pertengkaran itu.


"okee ayo kita makan burgerr!!" seru Stevan menjinjing tangan Ila. Lia hanya menjawab dengan gelengan kepala lalu menyusul.


"Ila mau minum apa?" tanya Stevan memangku Ila untuk memilih makanannya.


"Ila mau susu coklat!" seru Ila.


"mau di tambah es krim?" tanya si pelayan.


"mauuu" jawab Ila kembali.


"ada lagi?" si pelayan bertanya ke Stevan. Stevan melirik Lia yang terdiam dari tadi.


"lo mau nambah?" tanya Stevan yang di balas gelengan.


"kentang goreng aja tiga" jawab Stevan.


"baik silahkan di tunggu" ucap sang pelayan lalu mengerjakan tugasnya.


Mereka pun duduk di kursi sambil bercanda. Hmm buak mereka, tapi Stevan dan Ila.


Tiba tiba ponsel Stevan pun berbunyi.


"hallo?"


"..."


"lagi di mall"


"..."


"sama temen"


"..."


"..."


Stevan menarik nafas dalam dalam kemudiam menatap Lia.


"Lia"


"..."


"iya pa"


"..."


Sambungan pun terputus oleh sebelah pihak.


"kenapa?" tanya Lia.


"si Sella dateng ke rumah" jawab Stevan.


"siapa Sella?" tanya Lia.


"yang gue ceritain".


"astagfirullah, tuh kan kata gue juga ngak usah ke sini! Atau lebih tepat nya ngak usah ngarter guee! Kan jadi lo lagi yang susahh!!" marah Lia.


"yauda sii udah terlanjur".


"terus sekarang gimana Sella nya?" tanya Lia.


"yaa pulang, mungkin. Lagian ngapai coba malah dia yang kerumah kek ngemis cinta aja" ketus Stevan.


"permisi ini makanannya" ucap si pelayan menarus makanan di meja.


"makasih, nihh Ila makan yaa" ucap Stevan memberika satu burger ke Ila, Ila pun langsung menyantapnya.


Lia terus memandangi kedekatan Stevan dan Ila. Disana tergambar jelas senyuman Ila yang begitu senang dan ikhlas. Lia sendiri sangat cemburu bahwa Ila bisa memberikan senyum kebahagiaan itu kepada orang lain.


Ya Lia sadar. Selama ini dia belum bisa memberikan sesuatu yang membuat Ila senang. Dia hanya memberi permen bila mana ada sisa uang lima ratusan, itu pun terkadang.


Lia baru kali ini melihat Ila begitu senang dalam hidupnya. Merasakan seorang lelaki menggendongnya dan menuntun nya kesana kemari, bahkan mengabuli langsung permintaan nya.


Hhhh, andai saja suami ku nanti bisa memberikan kebahagiaan kepada Ila seperti Stevan memberikannya kepada Ila. Batin Lia.


Stevan melirik Lia yang sedang menatap Ila dengan penuh senyum.


Dia jadi sangat senang telah memberi kesenangan kepada teman yang bisa dibilang musuh karena setiap bertemu pasti ada perdebatan karena perbedaan.


"kak boy bakalan sering ngajak aku kesini kan?!" seru Ila. Baru saja Stevan akan menjawab tapi di tangkis oleh Lia.


"kak boy punya keluarga nya sendiri Ila, bahkan dia bakal punya keluarga kecil. Jadi pasti dia juga sibuk sama kepentingannya. Apalagi kak boy menuruni perusahaan ayahnya, jadi gak ada waktu bagi kamu yang bukan siapa siapa nya" jelas Lia yang mengundang kecemberutan bagi Ila.


Sangat tidak ingin bagi Lia melihat adiknya se sedih itu. Tapi mau bagaimana lagi? Stevan memang bukan siapa siapa mereka. Dia kerumah Lia hanya ingin curhat.


Dia juga bisa mengantarkan karena mungkin berpas pasan dengan Lia yang akan pergi. Karena melihat kondisi, akhirnya Stevan mengartarnya. Hanya sebatas itu.


"tapi nanti kak boy janji deh kalau ada waktu bakal main ke rumah Ila" ucap Stevan yang mengundang kembali senyuman di muka Ila.


"bener kak boyy?! Yeeeeee asikkkk" teriak Ila senang.


Setelah selesai makan Lia memohon mohon untuk segera pulang ke rumah karena khawatir jika Stevan akan di marahi.


Stevan dengan pendiriannya malah pergi ke toko mainan untuk memberi kenang kenangan kepada Ila.


Ila memilih mainannya sendiri sedangkan Lia dan Stevan memilih untuk duduk menunggu Ila kembali.


Hanya kesunyian di antara mereka karena Lia masih marah tentang pintaannya untuk pulang di tolak.


"Lia Stevan? Ngapain kalian berduaan di sini?!"