Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Naksir



"STEVANNN!!!" 


"kenapa kakak?" tanya Ila di balik pintu.


"ehh, gak papa Ila, Ila balik ke kamar yaa" teriak Lia.


"kurang ajar si Stevan! Ngapain coba ngirim foto perut dia! Lagi hamil apa?! Buat mata gue ternodai aja sih!" ketus Lia.


"BWHAHAHAAHAH MAMPUS LOO. JADI CEWEK SO ALIM BANGET SII!" teriak Stevan.


"Stevan kamu ngobral sama siapa?" teriak Rina dari balik pintu.


Stevan panik lalu mencari akal.


"ehh, itu mii, Stevan nyanyii. Iaa nyanyiii!" jawab Stevan.


"nyanyi kok ketawa?" tanya Rina kembali.


"Stevan lucu liat lirik nya mihh" jawab Stevan kembali berbohong.


"owhh, yasudah. Kamu tidur ya sayang.." ucap Rina lalu pergi dari hadapan kamar sang anak.


"okeyy mamii syanggg!" balas Stevan sambil tertawa.



"Stevan inget! Pulang sekolah langsung ke rumah! Ngak ada nongkrong nongkrongan!" tegas sang ayah.



"iyaaa, takut amat" jawab Stevan sambil melahap makanannya.



" awasss jangan peluk cewek lagi!" tegas Rina.



Stevan hanya diam.



"ehh! Kamu mau peluk cewek lagi ya!" teriak Rina.



"masaa Stevan ngak boleh meluk mamiii!" les Stevan.



"kalau mami bukan cewek tapi wanita. Bedain cewek sama wanita!" jawab Charlie.



"berarti aku boleh meluk wanita yeayy" seru Stevan.



"GAK BOLEH" jawab Charlie dan Rina kompak.



Stevan cemberut dan cepat cepat menghabiskan makanannya.



"Stevan berangkat" Stevan menghampiri ayah dan ibunya kemudian mencium punggung tanyanya. Tak lupa juga mencium pipi sang ibu lalu pergi .



Dilain tempat, Lia kesusahan mencari kendaraan umum untuk pergi ke sekolahannya. Dia terus berjalan bilamana ada angkot melewat yang sepi. Namun tetap saja yang melewat itu adalah angkot yang penuh.



Lia terus berjalan. Mungkin sangat mustahil bahwa dia akan berangkat jalan kaki. Karena jarak dari rumah ke sekolahnya membutuhkan jarak kurang lebih tiga kilo meter.



"duhhh!! Masa dari tadi yang lewat penuh terus sihhh!" keluh Lia yang sedang beristirahat sambil memegang perutnya.



"ngirit ongkos mbak jalan kaki?" ledek seorang lelaki dari motor.



Lia menoleh dan menatap lelaki itu.



"apa lo!! Sana pergi! Jangan ganggu gue!" ketus Lia.



"mau ikut ngakk?!" tawar Stevan.



"ngak"



"angkot lagi penuh semua lohh!"



"ngak"



"kalau telat trus di hukum gimana?!"



"gue lebih milih telat trus lari dari pada harus naik motor bareng lo!" sentak Lia yang melanjutkan perjalanannya.




Lia berhenti dari langkah nya kemudian berbalik. "bodo amat!".



Stevan mengejar Lia dan langsung menarik tangannya.



"ishhh! Lepas"



"kalo ngak naik juga gue cium nih sekarang!" peringatan Stevan.



"B O D O A M A T !, AAAA" teriak Lia ketika wajahnya di dekatkan oleh Stevan kemukanya.



"ihhh kurang ajar banget sih loohh!!" Lia langsung menarik kembali badannya.



"naik!"



Karena tatapan tajam yang Stevan berikan sangat mematikan, akhirnya dia pergi kebelakang untuk duduk. Namun idenya langsung naik ketika melihat mobil Shalma melintas.



Dia langsung mengayun kan tanagnnya, begitu sudah berhenti langsung lah naik tanpa sepengetahuan Stevan.



"dah?" tanya Stevan yang merasa motornya telah di tumpangi oleh seseorang.



"udah" suara valset yang langsung menyenderkan dirinya di punggung Stevan.



Merasa aneh, Stevan pun melirik ke arah jok motor nya.



"goblok anjing! Ngapain lo di motor gue!?!" teriak Stevan terkejut.



"BWAHAHAHAH, abis lo ngapain coba diem sendiri kek ada yang bakal naik motor lo!. Mumpung gue buruan naik sebelum cewek cabe cabean" balas Devan.



"ck"



"udahh buruan jalan! Angcot lagi pada penuh nichh" goda Devan memeluk Stevan.



"jangan meluk goblok!" bentak Stevan yang di balas dengan pukulan dan tawa dari Devan.



Lia membuka bukunya di atas meja. Dia ingin melihat kembali tugas yang semalam dia kerjakan. Takutnya ada kesalahan fatal yang harus segera di benarkan.


Lia menatap sekeliling kelas yang amat sangat ribut karena adanya pr yang di berikan minggu lalu. Dia acuh dan mulai memeriksa prnya dengan tenang.


Stevan memasuki kelas nya dengan di iringi tatapan heran 'tumben banget masuk kelas'.


Dia berjalan ke belakang, ke bangkunya dan melihat ada Sintia disana.


"go away!" usir Stevan. Sintia langsung menoleh.


"ehh sayanggg, sini duduk" goda Sintia dengan lembut sambil menepuk kursi pinggirnya.


"gue bilang pergi!" balasnya ketus.


"iyaa aku gak akan pergi kok, sini!" Sintia menarik tangan Stevan lembut yang langsung di tukas oleh Stevan.


Dia menatap sekeliling kelas mencari seseorang dan menangkap wanita itu duduk di kursi depan dan sebelahnya kosong.


Stevan langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya.


Lia terkejut dan langsung menoleh kearah kiri.


"ehh tokek!, pergi lo apa apaan main nempatin kursi Dina!" teriak Lia.


"brisik lo! Belajar belajar aja jangan ganggu istirahat gue" Stevan memejamkan matanya.


"ehh! Gue udah turutin permintaan lo buat gak duduk ditempat lo! Dan sekarang ini tempat gue! Jadi pergi dari—".


"lu brani ngomong gue peluk lagi!" ancam Stevan.


"bodo amat!".


Stevan mendekati Lia namun Lia buru buru pergi dari kursi itu dan menjauhi Stevan.


"Van awas ini tempat gue" ucap seseorang.


Stevan menoleh.


"liat noh di belakang kosong" jawab Stevan melirik kebelakang.


"tapi kan dari dulu gue di sini!" ucap nya membela.


"duhh Dinnn, disana aja lahh gue udah pw!" ketus Stevan memejamkan matanya.


"atau jangan jangann... LO NAKSIR YAA! SAMA LIAAA!!! ".