Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Tawuran



"atau jangan jangann... lo naksir yaa! Sama Lia!!" teriak Dina yang membuat semua orang melirik ke dia. 


Stevan langsung bangun dan melotot. "silahkan duduk tuan PUTRI" tegas Stevan kesal lalu pergi ke belakang.


"terima kasih" balas Dina tersenyum menang.


Stevan menghampiri bangku Liam. "lo naksir ya sama Lia?" sambut Liam.


"brisik goblok" ketus Stevan menoyor kepala Liam yang dibalas gelakan tawa.


"eh nyet, ngeclub kuyy!" ajak Devan.


"ada acara keluarga malam ini" jawab Stevan duduk di sebelah Liam.


"yaelah biasanya lo tolak juga" ketus Raffa.


"masalahnya semua keluarga ada. Ntar gue juga yang di salahin" ketus Stevan.


"ikut dong guee, enak kann keluarga lo bule semua" ucap Devan menaik turunkan alisnya.


"berisik ah gue mau tidur" Stevan menenggelamkan wajahnya.


"ada Stevan?" tanya seseorang dengan suara berat.


"Vann, bapak lo nyari" Devan menyenggol Stevan. Stevan pun langsung bangun dari tidurnya.


Dia mendapatkan kode ayahnya untuk 'kemari' dan Stevan pun langsung bangkit dan menghampiri ayahnya. Dibawanya Stevan oleh sang ayah keluar kelas dan masuk kedalam kartor pribadinya.



"Lia" panggil Dina. "iya Din" jawab Lia.



"sekarang nginep di rumah gue kuyy!" ajak Dina.



"duhh sorry Din.. gue ada acara" jawab Lia.



"acara paan?" tanya Shalma.



"itu lohh, lamaran bos bokap gue" jawab Lia kembali.



"ngapain lo ikut? Kek mempelainya aja" goda Dina.



"ngak tau juga. Kata bokap gue gue kenal cowok nya, temen kecil gitu katanya".



"owhhh. Hati hati yaa. Denger denger sekolahan yang ada di deket rumah lo bakal tawurann. Yaa, ati ati ajee" perintah Dina.



"woke"



Setelah beberapa jam pelajaran akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Semua berkeliaran ke luar kelas. Ada yang ke kantin, lapang, atau kesuatu tempat untuk mojok? :v



Lia dengan Dina, Shalma, dan Mitha pergi bersama sama menuju ruang uks terlebih dahulu. Karena mereka adalah petugas uks jadi mereka harus selalu ngecek bilamana ada obat yang habis atau sesuatu yang hilang.



Sesampainya di uks, mereka sangat terkejut karena melihat uks tidak terkunci.



"siapa yang pegang kunci?!" panik Lia karena dia adalah salah satu orang yang di percayai guru.



"lah kan bukannya lo sendiri?" tanya Dina.



"ngak ngak, kuncinya ada di dua orang!"bela Lia.



"di gue satu di—astagfirullahh!!!" teriak Lia begitu melihat para lelaki teman sekelas nya sedang enak enakan tidur di kasur uks.



"NGAPAIN LO PADA DI SINI WOYYY!! PERGIII!!" teriak Lia membangun kan para lelaki.



"brisik Yaa ih lagi tidur nihh" rengeh Liam.



"EHH LO PIKIR INI HOTEL APA PADA TIDUR DI SINI?!" teriak Lia kembali.



"ehh! Ini sekolah gue! Terserah gue mau di apain!" lawan pria itu. Ya siapa lagi kalau bukan Stevan.



"napa ngak lo bawa aja sekalian rumah lo ke sini!" bentak Lia.



"kalau bisa gue bawa" jawab nya kalem.




"tapi kayaknya lemari juga udah gak berbentuk deh" ucap Mitha.



"KALIAN APA IN LEMARI UKS WOY!" akhirnya Dina angkat suara.



"kita cuman mau tau isinya paan" jawab Devan sambil merubah posisinya tidurnya.



"astagfirullahaladzim... da lah kita keluar aja" ucap Lia menyerah.



"ayo kita ke ruangan pa kepsek" sambung Lia.



Stevan terkejut dan langsung bangun dari tidurnya kemudian menahan Lia dan kawan kawan untuk keluar.



"awas!" bentak Lia.



"lo gak boleh lapor ke bapa gue!" balas Stevan.



"napa?! Takut?!" tantang Lia.



"jangan ato gue keluarin kalian semua"



"owhh silahkan" jawab Lia.



Hening tak ada balasan.



"gue masih bisa cari sekolah lain untuk belajar! Bahkan jika tak ada yang menerima, gue bisa bantu orang tua gue buat mulung" tegas Lia.



Jleb



Stevan merasakan kata kata savage dari mulut Lia. Mulung? Jadi orang tuanya mulung? Batin Stevan.



"kepsek kok bego gini ya" ucap Dina menyadarkan lamunan Stevan.



Lia dan kawan kawan sudah pergi dari ruangan uks dan memilih pergi ke kantin untuk mengisi amunisi.



"Yaa, mending pulang bareng aku yaa. Bahaya sumpah" khawatir Shalma.



"ngak papa ish Shall gue udah gedee. Lagian kan gue juga naik angcot" ucap Lia selowae.



"pliss yaa ati ati" timbal Mitha. "iyaa bebep bebep:\*"



Lia sangat khawatir karena sendari tadi dia tidak menemukan kendaraan umum yang melewat.


Keadaan sekolah pun sangat sepi membuat nya semakin takut.


"duhh gimanaaa nihh gue pulang. Kagak punya uvo juga lagi" ringis Lia ketakutan.


"bismillah aja deh, Allah pasti bantu" Lia memberanikan diri untuk pulang sendiri sambil berjalan kaki. "mana tau ntar ada kendaraan atao sodara gituuu".


Lia semakin takut dengan keadaan yang sudah ramai oleh murid murid dari sekolah lain. Begitu mustahil bagi dia untuk menerobos anak tawuran itu.


Dia berlari menjauh dan kembali ke sekolah.


"lohhh, Lia belom pulang?" tanya seorang lelaki tua yang umurnya sekitaran 40han.


"ehh bapak" Lia pun menyalaminya.


"kenapa belom pulang Ya?" tanya Charlie.


Duhh kalo ngasih tau ada yang tawuran bisa gaswat lagehh nih batin Lia.


"Ya?"


"ehh anu pakk, bapa saya belom jemput. Hhe" jawab Lia berbohong.


"ohh, kalau gitu sama bapa aja ayo!" ajak Charlie.


"ehh ntar bapa kamu ke sini lagi nyari kamu" sambung Charlie yang mengingat bahwa dia mempunyai acara di rumahnya.


"ehh. I—iya pakk, ntar bapa saya nyariin" sesal Lia karena tadi bilang bakal di jemput bapak padahal kagak.


"yaudah bapak duluan yaa. Assalamualaikum" ucap Charlie yang di balas dengan anggukan.


Lia diam di depan sekolah menunggu sesuatu yang tidakpasti sampai akhirnya turun hujan dari atas langit.