Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Bahaya!



"dia mau cium saya bu!" teriak Stevan.


"ehhh enak ajaa!! Ngak buu. Ibu tadi liat sendiri saya yang di siksa!" bela Lia.


"saya bekap mulutnya biar dia ngak nyium buu!" balas Stevan kembali.


"ihh jangan nud-". "udahh! Stevan sama Liam bertukan tempat!" perintah bu Nista. Stevan agak sedikit kecewa karena kebohongannya membawa karma.


Liam pun duduk di sebelah Lia dan Stevan duduk di sebelah Devan. "hai Van" sapa Devan. "brisik lo!" ketus Stevan yang sudah kehilangan mood.




Stevan merebahkan tubuhnya di kasur. Dia sedang berfikir keras tentang perjodohannya dengan putri teman ayahnya.



Disatu sisi dia bisa saja menerima perjodohan itu karena sekarang dia sedang tidak punya pacar dan bisa memajukan projek sang ayah. Namu di sisi lain dia juga merasa bahwa dia tidak bisa mencintai Sella nantinya. Ntah kenapa tapi Stevan tidak memiliki ketertarikan sama sekali.



Stevan mempunyai ide cermelang. Tadi di sekolah, asalnya dia akan curhat kepada Lia namun tidak jadi karena ada kesalah pahaman.



Stevan langsung mengambil iPhone nya dan mulai mengetik pesan.



Lia



"woy fampir. Lo masih hidup?"



"ngapain lo ngirim pesan ke gue!"



"kalem aja kali gue juga ngak bakal ngigit!"



"jangan harap bakal gue maapin ya!"



"dihh siapa juga yang mau minta maaf? Jan so kecantika lo!"



"SERAH!"



"EHH KAMPRET GUA MAU NGOMONG JAN OF DULU!"



Read.



"kampret lah malah off".



"ngapain coba chat chat! Gak punya malu banget abis nuduh gue yang ngak ngak! Sekarang dengan tenang nya GAK MAU MINTA MAAF. Dasar cowok! Emang ngak pernah punya rasa bersalah ya! Udah tau salah tetep aja kagak minta maaf!" dumel Lia.



Tiba tiba Lia mendengar hpnya bergetar. Buru buru Lia ambil dan menekan tombol hijau.



"iyaa mahhh Lia lagi siap siapp. Lia bakal cari angkot buat ke sana soalnya Lia ngak punya uang lebih buat bayar taksi. Mungkin dari bandara juga begitu. Lia mau bangunin Ila dulu takutnya dia mau ikut kasian di tinggal sendiri di rumah. Selain surat tkw, mama butuh apa lagi?" ucap Lia buru buru.



Tak ada respon dari penelpon. Dia menatap layar ponsel namun sudah mati.



"lah gue tadi ngomong sama siapa?!" teriak Lia.



Lia mengacuhkan hal itu. Pergi nya ke kamar Ila dan bergegas untuk membangunkannya. "Ilaa, dekk, bangunn yukk kita ke bandara buat ketemu mama sebelum mama berangkat!" seru Lia sambil mengguncangkan tubuh mungil Ila.




"Ila kebandara lagi?" tanya Ila.



Karena sebelumnya Ila dan ayahnya Lia pergi bersama mengantarkan ibunya untuk ke bandara tadi siang selama dia masih sekolah. Begitu mengetahui kalau pesawat ibunya di delay, dan ada berkas yang tertinggal, dia buru buru bersiap siap untuk pergi.



"ibu ketinggalan kertas yang penting Ila. Ila mau ikut?" tanya Lia.



"Ila ikut! Ila ngak mau ninggalin kakak sendiri di sana. Takutnya ada yang nyulik kaka, hhi" ketawa Ila.



"yaudah Ila siap siap dulu ya, kakak mau bawa barang yang harus kita bawa" jelas Lia yang di balas anggukan.



Lia kembali ke kamar dan buru buru merapihkan barang nya dan melihat ada beberapa pesan dari teman temannya.



Dina



"Yaaaa, tadi si Stevan nanyain alamat rumah lo!"



"gue ngak kasih soalnya takut ngapa ngapain lo kan lo bedua doang dirumah sama dek lo?"



"hati hati yaa Ya"



"ohiya lo mau ke bandara ya? Mau gue temenin?"



"Yaaaaa"



Shalma



"Ya tadi Stevan minta alamat kamu tapi aku ngak kasih soalnya kamu lagi sendiri ya? Aku takut kamu kenapa napa. Hati hati di rumah yaa, titip salam sama adek mungill"



Mitha



"Yaa hati hati Stevan ke rumah lo. Soalnya dia tadi minta alamat lo Cuma ngak gue kasih"



Lia sendiri kebingungan kenapa Stevan menginginkan alamat rumahnya. Memangnya sesuatu yang ingin dia obrolkan begitu penting?



Tapii kalyan pasti tauu kenapa minta alamat rumahh mwehehhe.



"kakak Ila udah siap. Ayo pergi" ajak Ila sambil menenteng tas di pundaknya.



Lia mengangguk kemudian mengambil barang nya dan menuntun adik nya untuk keluar rumah.



Begitu keluar dia sangat terkejut karena ada seseorang di teras rumahnya.



"Stevan?".