
"tuh kan nyett! Dia juga begitu" bisik Devan.
"iya njingg! Kok bisa gitu ya?" sambung Raffa.
"jodoh cok!" ucap Liam yang langsung menerima tonjokan dari Stevan.
"ehh ehhh kesini tol!!".
Seketika lelaki pura pura beraktivitas di depan kelas yang di tatap aneh oleh para wanita.
"sejak kapan mereka di sini" bisik Shalma. Lia mengangkat pundaknya.
"lo pada ngak punya sepatu? Kok nyeker?" tanya Devan yang sebenernya kurang ajar.
"terserah kita lah! Mau mau kita siapa lo ngatur ngatur!" timbal Dina.
"udah cepet ntar keburu masuk!" Lia langsung menarik teman temannya dan berlari meninggalkan lelaki.
"ikutin cokk!!" teriak Liam yang langsung di ikuti ketiga temannya.
Mereka mengendap ngendap mengikuti Lia cs yang pergi ke arah masjid di sekolah itu.
"sekarang jam berapa?" tanya Raffa.
"delapan" jawab Stevan.
"solat apaan jirr jam delapan! Ngayal tu anak" sembat Devan.
"gak tau *****, terlalu soleh nyet!" timbal Liam.
"ah kudet lu pada!" ucap Stevan.
"emang lo tau solat apa?" tanya mereka kompak.
"ngak" jawabnya dingin.
Butuh waktu sepuluh menit mereka berdiri di pinggir masjid menunggu para ciwi keluar.
Para wanita pun keluar sambil bebicara hal random soal bayangan Lia.
"yaa kalii bisa jadi lo lagi kangen.." ucap Shalma.
"iyaa, dia dalam bahayaa kalii!!" sambung Mitha.
"ato jangan jangan, LO SUKA SAMA DIA!" teriak Dina.
"BENER" teriak Devan. Laki laki langsung membekapnya dan berlari ke belakang masjid.
"ehh? Tadi siapa yang ngomong?" ucap Shalma.
"ihh najis banget gue suka dia! Mikir mikir kali gue juga!" ketus Lia.
"yaa kali ajaa gitu lohh" ujar Mitha.
Stevan agak kaku mengikuti pelajaran kali ini. Dia sangat tidak sanggup untuk langsung bertanya kepada Lia soal bayangan itu, takutnya geer.
Lia yang sedang rungsing menyenderkan dirinya ketembok membuat dirinya menghadap ke Stevan.
Dia mengerutkan dahi melihat Stevan sedang duduk bersama hantu. Mukanya bener bener tegang mengesankan bahwa dia ketakutan.
Lia mendorong kursi Stevan menyadarkan remaja itu.
"ngapain sih!" ketus Stevan.
Lia menaikan alis nya.
"lo yang ngapain! Deket deket sama gue!" balas Lia.
Stevan menjauh kan kursinya dari Lia.
"eh?".
Lia benar benar bingung dengan sifat Stevan.
Apa dia juga mikir kalo gue ini bayangan ya? Masa aja dia juga ngalamin hal yang sama?
"gue ini bukan bayangan" ucap Lia santai.
"lo pikir gue bayangan yang suka nguntit lo kan? Bukan, ini Lia yang asli" jelasnya.
"bsst" Stevan memanggil Liam.
"paan".
"pinggir gue ada orang kan?" bisiknya.
"iya lah goblok lo kira\-\-. Ohiya" ucap Liam tersadar.
"ada tenang aja nyet! Dia yang asle" jawab Liam kembali.
Stevan mengangguk dan kembali ke posisi awalnya, lebih tenang~
Dia melihat Lia yang sedang memejam matanya mengarah ke arah Stevan membuat Stevan menikmati keindahan tuhan ini.
Dia meneliti wajah Lia dari mulai bibir tipisnya yang berwarna peach agak berling beling entah apa yang dia pakai Stevan ngak ngerti.
Hidung Lia yang kecil juga agak mancung. Aliss agak tipis jugaa namun indah.
Bulu mata, ahh.. Itu benar benar idaman Stevan.
Tebal dan lentik, itu lah yang Lia miliki.
Dia melihat mata coklat Lia yang berkesan indah membuat jantungnya berdegup kencang.
Lia menatap heran Stevan yang terus memperhatikannya sambil tersenyum senyum.
Dia mengambil tempat pensilnya dan melemparnya ke muka Stevan.
Stevan tergelonjat.
"ngapain lo liat liat?!" ketus Lia.
"geer!".
"dihh geer apaan! Jelas jelas lo liat gue!".
"gue liat mata lo!".
"ngapain lo liat mata gue?!".
"terserah mata gue!".
"ngap\-\-"
"Assalamualaikum.. Kami dari osis dan mpk meminta izin untuk merazia tas kalian".
Seketika Stevan langsung menegang.