
Devan dan Liam saling tatap.
"wah wah".
"ngak bisa nih".
"kelewatan nieh".
"hajar bro!".
Lia menuntun Ila untuk ke sekolah barunya yang berada di dekat rumah.
"Ila maaf ya kakak ngak bisa nemenin" ucap Lia.
"iya kakak, kakak sekolah yang rajin ya!" seru Ila. "Ila jugaa".
"assalamualaikum".
"waalaikumsalam" Lia melambaikan tangannya dengan senyuman.
Di pun segera naik angcot untuk pergi ke sekolahnya.
Setelah sampai di sekolah, seperti biasa dia berjalan di korodor menatap ke lapang sesekali, melihat keindahan para coganslyy, and yaaa, begitu lah.
Lia agak tak senang juga kali ini dia harus duduk bersama Stevan, namun ketika melihat bangku nya, Stevan tak ada di tempat. "yes".
Lia duduk dengan tenang lali mengeluarkan novel dari tas nya dan membacanya dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, bell tanda masuk berbunyi. Semua murid murid masuk dan TAK ADA STEVAN AND THE GENG. "alhamdulillah...".
Lia belajar dengan tenang~
Stevan cs sedang merokok di rooftof sekolah seperti biasa, eh ngak biasa sih.. Baru biasa lagi.
Dengan tenang Stevan menghembuskan rokoknya dan menghisapnya kembali.
"dah de Van lo kek yang stress dah habis satu bungkus" ucap Raffa.
"kemaren aja keknya lo habis satu botol!" seru Devan.
"lo ngak bilang bakal ke club" ucap Liam.
"gue di ajak sama Sella" Stevan membuat rokonya.
"Sella? Jodoh lo itu?" tanya Raffa, Stevan mengangguk.
"lo dapet dia dari club?" lanjut Raffa lagi.
"kagak lah gila".
"lahh terus kenapa lo mau sama cewek club?" masih Raffa.
"kata siapa dia cewek club?!".
"lahh lo bilang dia yang ngajak?!".
Bener juga ya tolol.
"makin miring si Stevan.
" ehh nyet udah! " teriak Liam ketika Stevan hendak membakar rokoknya lagi.
Liam langsung membawanya dan membuang rokok itu jauh jauh.
"kek hampa gitu rasanya~" ucap Stevan, semua langsung menatap heran.
"lo nyanyi?" tanya Devan.
"kagak gue berenang". Devan ber'oh'ria.
"ngak jelas banget, kelas kuy!".
"ssssaaaag".
"dan zat adiktif pun\-\-\-". "ehh kudanil! Lantang banget kalian masuk!" tegas bu Kasroh.
"kita mau belajar bu" bela Liam.
"ngak boleh! Keluar!".
"bu di pecat loh buat kepala sekolah jadi bego" sambung Devan.
"iyaa buu, kalo kepala sekolah bego ntar murid nya juga begoo" lanjut Raffa.
"hehhhh, yaudah duduk sana!" sentak bu Kasroh.
Yang asalnya duduk di dekat tembok jadi pindah ke pinggirnya.
"geser!".
Lia tak berkutik.
Stevan mendorong Lia membuat Lia kembali ke tempat asalnya.
Lia memperhatikan guru sedangkan Stevan? Bocan~
Lia langsung mencatat di buku tulisnya, dilihatnya Stevan yang masih tertidur lelap mengarah kehadapannya.
"cihh, katanya mau kepala sekolah pinter, sekalinya di kelas tidur" bisiknya sendiri.
"apa lo liat liat?!".
Lia langsung mengalihkan pandangannya ke buku tulisnya.
Stevan menunjukan smirk nya dan mendekati Lia.
Lia bergeser makin pojok yang akhirnya terpojokin.
Stevan yang melihat wajah tegang dan takut di muka Lia merasa makin senang dan berdansa dansa di hatinya, eaa.
"AAAAAAAAAAAAAA" teriak Lia, reflex Stevan menjauh.
"kenapa Yyaa?!!!!???" tanya semua orang panik.
"ada kecoaaa!!!" teriak Lia.
"manaaa!?!!!" teriak semua wanita langsung menaikin meja.
"inii pinggirrr guee!!! Sumpah gede bangettt!!!!".
"Ihhh!! LIA BIKIN GUE TAKUTTT" teriak Sintia yang berada di depannya.
"lebay banget" ketus Stevan kembali tidur.
Semua pun damai kembali.
Lia mendorong kursi Stevan agar lebih jauh lagi, Stevan terbangun dan malah menyatukan kursinya dengan kursi Lia.
"ehh kamprett jauh jauh lohh!!" teriak Lia.
Stevan menggeleng.
"gue teriak lagi nih!".
Stevan malah makin mendekat.
Pasrah dengan semua ini Lia menenggelamkan mukanya dan mulai terisak isak.
Stevan melihat nya agak sedikit terkejut, dia mencoba meneliti Lia yang sedang menangis.
"ehh lo apain Lia sampe dia nangis!!" teriak Devan membuat semua menatap Stevan.
"gak gue apa apa in kampret!".
Lia sengaja membesarkan tangisannya.
"ehhh itu siapa yang nangiss?!?!" teriak seorang ibu ibu muda memasuki kelas.
Mamy?!
"tanteee, dia nangis gara gara Stevann!!!" teriak Shalma.
Rina menghampiri Stevan, Lia diam.
"sini sayang".
Bukan bukan ke Lia, ke Stevan!
Stevan agak merinding dengan tingkah ibunya yang seperti ini. Biasanya, yang lemah lebut gini pas kagak ada orang lebih serem cong!
Stevan hanya pasrah meratapi keadaan. Dia di bawa oleh ibunya ke ruang kepsek.
Lia mengangkat kepalanya melihat keadaan yang hening.
Semua pun kembali ke aktivitas masing masing ~