Bad or Good Girls

Bad or Good Girls
Bayangan



"kamu itu suka banget sii isengin temen kamu! Kamu apain Lia?!" sentak Rina.


"ngak ngapa ngapain mamm cuman di deketin aja" jawabnya enteng.


"tau kalo cewek di jahilin gitu pasti marah!" bela Rina.


"kata siapa?! Sella b ajah, malah dia yang meluk".


Rina menatap Stevan.


"apa?!"


"ngak papa".


"KENAPA KEMAREN KAMU NGAK PULANG KERUMAH!" bentak Charlie tiba tiba masuk ruangan.


"nginep dad sama temen temen".


"kenapa Liam yang minta baju kamu bukan kamu sendiri?!".


"Stevan lagi mager keluar".


"kenapa tadi kamu telat masuk kelas?!".


"ngisi amunisi".


"wahh hebatnyaa Stevan, sudah banyak lahh dosa mu berbohong ke pada orang tua~".


Stevan langsung melirik suara wanita yang duduk di sofa ruangan.


"ngapain lo di sini?!".


"kamu ngomong sama siapa?!" sentak Rina.


Stevan melirik ibunya.


"hahahaaa kasiann di anggep gila!" ucap wanita itu lagi.


"ituu itu" Stevan menunjuk 'bayangan' Lia yang sedang duduk di sofa.


"apa sihh jangan nakutin momy!" sentak Rina memukul kepala Stevan.


"awww".


"belajar sana yang bener! Jangan lakuin hal hal yang bodoh lagi!" tegas Charlie.


Stevan berdiri dan keluar agak ketakutan dari ruangan itu.


Dia buru buru berlari menuju kelas dan duduk di tempatnya.


"awas aja lo Ya!".


Lia masuk ke kelas sambil menenteng air putih dan roti berjalan menuju tempat duduknya.


"permisi" ucap Lia. Stevan menyingkir.


Lia agak sedikit heran namun ya.. Bodoamatlah~


Lia memakan rotinya dengan tenang sambil mendengarkan lagu di headsetnya sampai tak sadar Stevan memperhatikannya dari tadi.


Lia menatap kembali Stevan dan mereka pun saling tatap tatapan.


Lia memukul wajah Stevan dan Stevan langsung menggepal tangan Lia.


Lia berusaha menarik kembali tangannya namun tak bisa.


"lo mau main main sama gue?" ucap Stevan. Lia mengerutkan dahi.


"ngapain tadi lo di ruang kepsek?!" tegas Stevan.


Lia menatap bergantian mata Stevan.


"gue cuman nganterin teh doang!" Lia menarik tangannya.


"doang?!".


"iya DOANG".


"trus kenapa orang tua gue ngak bisa liat lo?!".


Lia langsung terdiam.


"lo ngomong apa sih?!".


"jangan ngalihin pembicaraan!".


Lia melirik Liam yang juga menatap mereka. Mereka mengobrol lewat mata.


'napa?'


'kagak tau'


'coba tanya'


'takut'


"jawab" Stevan mengguncangkan tubuh Lia.


"emm maaf ya Vann keknya lo terlalu banyak mengonsumsi sianida jadi agak gak normal, hhe" Lia berusaha menjauh daei Stevan.


"jangan ngarang lo!".


"lo yang ngarang! Apa apaan orang tua lo ngak liat?! Jelas jelas mereka nanya gue!" bela Lia.


"huh" Lia bangkin dari duduk nya dan pergi dari sana.



Stevan ngapel kembali bersama Sella. Kali ini mereka makan makan di rumah makan, yaiyalah~




Sella menyuapkan makanannya ke Stevan dan Stevan pun melakukan itu.



"tangan kirinya ikut kalo nyuapin!".



Stevan menoleh.



"Elo!"



Sella menenggak.



"kenapa?" tanya Sella.



"ehh".



"kamu kenapa ngebentak aku?" tanya Sella lagi.



"di tanya tuh!" sentak 'bayangan' Stevan.



"eh ngak papa, itu emm, gue kek ngeliat temen" jawab Stevan.



Sella menatap sekeliling.



"Stevan kita itu di ruang vip mana ada orang di sini selain kita" jelas Sella.



"bbbbbrhrhhbhhhhwhahahahahahhaha".



Stevan memutar bola matanya malas.



"kok kamu gitu sih!" sentak Sella.



"gue gimana?!".



"kok kamu kayak yang bt!".



"ehh ngak ngak, nihh nih makan yaa" Stevan menyuapkan makanan ke pada Sella dengan tangan kiri di bawahnya dan menatap Lia sebal.



"Ilaa bawain telor di kulkas 3 ya, bawa nya hati hati!! Kalo bisa bawanya satu satu!!" teriak Lia.


"udah nyuruh! Nawar lagi! Bawa aja sendiri!".


Lia menoleh.


"Stevan?!!?!"


"ini kakkk bentarrr" Ila berlarian membawa sebutir telur.


"bentar ya kak Ila bawa lagi" Ila balik lagi keluar dapur.


"kasian tuhh bukan ngambil sendiri!".


"lo ngapain di sini!!"


"ini kakkkk" Ila kembali lagi.


"ututu sayang"


Terakhir kalinya Ila terkir dan jator beserta telur terakhir nya.


"ihh kakak bilang pelan pelann".


"gue bilang ambil sendiri! Ila jadi jatoh kan!!".


"diem lo!" bentak Lia.


"kakak ngomong sama siapa?" tanya Ila.


Lia membulatkan mata menatap bergantian Ila dan Stevan. Di tatapan terakhir, hanya ada mereka berdua di sana.


"hah, siapa tadi itu?!"